Suatu masa ada kegiatan membaca kembali hasil karya sastra di Kedai Jante, nama novelnya pun berhubungan dengan kopi, “Babad Kopi Parahyangan” novel yang diterbitkan oleh Marjin Kiri dan ditulis oleh Evi Sri Rejeki.
Perjalanan kopi di Parahyangan menjadi titik berat dalam novel ini. Alkisah seorang pemuda bernama Karim yang berasal dari tanah Sumatera tepatnya minangkabau yang berniat mencari peruntungan hidup ke tanah Jawa di daerah Parahyangan untuk mengadu nasib. Kopi menjadi perhatian Karim, tertarik nyanyian bagaimana nikmatnya kopi Parahyangan yang disampaikan oleh seorang pelaut, di novel ini pelaut tidak bernama. Singkat kata, Karim akhirnya ikut berlayar bersama pelaut dengan tujuan Parahyangan, meninggalkan tanah kelahiran.
Ada informasi menarik bagi pembaca, setidaknya bagi saya sebagai pengetahuan baru. Pada masa itu orang Minangkabau atau di darek-dataran tinggi pedalaman, seepertinya belum terbiasa mengolah biji kopi, minuman penghangat layaknya kopi mereka olah dari daun kopi, Kawa daun kopi, mereka sebut. Daun kopi tua yang mereka pilih, dipanaskan diatas bara sampai mengering. Menjerang daun kopi kering dengan air mendidih, dan jadilah kopi daun kawa.
Kopi merupakan tanaman yang datang bersama para petualang, kira kira itu yang disampaikan oleh Sri Rejeki dalam novel tersebut. Berasal dari Afrika, ditemukan sebagai minuman pencegah kantuk. Saya pribadi masih percaya kalau kopi teman waktu malam apabila kita ingin terjaga. Dari Afrika kopi berkelana ke Istanbul, Persia, India dan Afrika Barat sampai dibudidayakan di Yaman yang menjadi pusat perdagangan kopi. Pedagang Mesir memperdagangkan kopi di sepanjang laut merah, para pedagang India membawa kopi ke wilayah timur.
Para pedagang Arab dan Turki menyuguhkan kopi di kekaisaran Ottoman Turki. Kesultanan Utsmaniyah membawa harum kopi sampai ke Konstantinopel di Damaskus dan ke Aleppo. Bagaimana kopi bisa ada di Nusantara terutama Parahyangan, tentu saja melalui tangan kompeni dan VOC sebagai maskapai dagangnya.
Novel ini, membawa pengalaman penting dalam sejarah tentang pertalian antara kopi dan penjajahan. Kopi, menjadi komoditi yang sangat menjanjikan bagi perdagangan di Eropa, oleh sebab itu rakyat Priangan diwajibkan menanam kopi untuk menjadikan Belanda sebagai negara terdepan dalam percaturan kopi dunia. Menanam paksa kopi, melahirkan gagasan Preangerstelsel, yang mana kewajiban ini harus memikul silang sengkarut masalah sosial yang rumit. Disamping itu kegiatan Preangerstelsel melibatkan para bangsawan daerah atau para menak yang berperan dalam mewujudkan ide dari VOC.
Pertikaian batin Karim sang tokoh dalam novel, membayangkan kopi, jauh dari yang diangankan olehnya, ketika meninggalkan tanah Sumatera. Cerita kopi seperti yang diutarakan oleh pelaut dan imajinasi yang berkelebat dalam mimpi-mimpi melenceng dari kenyataan. Dia melihat sebuah penindasan yang menoreh batin. Perlakuan para menak yang menjadi kepanjangan tangan kompeni menyisakan perih di jiwa Karim. Hal itu yang dapat saya baca dari novel tersebut.
Saya pribadi tidak berniat mengulas sampai jauh ke dalam dasar-dasar renik dari novel yang ditulis oleh Sri Rezeki, apalagi mencoba mentautkan antara hasil tulisan dengan kritik sastra. Saya hanya ingin turut membayangkan antara sejarah dan pengalaman pribadi.
Pengalaman mengenai kopi dan meminum kopi belakangan menjadi hal yang ramai diperbincangkan. Kebiasaan minum kopi sih, sudah dimulai sejak dahulu. Sejak masa Sekolah Menengah Atas, teman-teman sepermainan sering kali bertukar cerita diiringi kopi sebagai teman berbincang. Belakangan kopi menjadi komoditas yang sangat menjanjikan.
Sepanjang jalan Cihapit di kota Bandung, saya hitung, tidak kurang empat kedai kopi yang berdagang sepanjang jalan, belum di tempat lain, tumbuh subur dan menjamur. Kedai kopi tumbuh dan hilang berganti. Belum lagi yang menggeluti perkebunan kopi, ada pula yang menjadi roaster kopi yang mengolah mulai dari biji kopi mentah sampai siap saji, atau tak terbilang yang berkeinginan menjadi para penyaji kopi atau barista.
Kopi menyajikan begitu banyak narasi baru dalam wacana sosial. Memanfaatkan kopi sebagai ruang kehidupan tentu saja tidak pernah salah. Tapi, sejarah membuktikan bahwa kopi menyisakan ruang kepedihan dalam kehidupan masyarakat Nusantara, terutama Parahyangan. Sementara kita sekarang sedang turut berbahagia dengan kehadiran kopi, di lain sisi kopi memiliki cerita rumit di masa lalu. Sejarah telah membuktikan hal itu.
Mungkin, tidak perlu juga setiap minum kopi kita harus bersedih, tapi setidaknya kita akan terus belajar merenungkan tentang kopi dari kesuraman perilaku manusia di masa lampau. Sambil menyesap kopi sebaiknya kita terus berdoa, supaya tidak menjadi manusia yang bahagia apabila menganiaya orang lain.***
TATA KARTASUDJANA | DOSEN DKV FISS UNPAS
Ilustrasi oleh Adam Rizki Taufiq




