Berlari ternyata lumayan menyesatkan, banyak kenangan yang nyasar dan banyak pula asa cita yang telah lama mampus muncul kembali.
Dalam bahasa Inggris, berlari disebut dengan run. Run sendiri kemungkinan besar berasal dari bahasa Proto-Germanik rinnan, rinna, renna, dan atau irnan yang artinya kurang lebih mengalir (flow). Dalam bahasa Indonesia saya kesulitan untuk mencari asal usul kata ‘lari’ seperti saat kali pertama saya berusaha sepakat dengan Sari.
Sari, kawan saya yang mungil itu doyan sekali berlari. Jaraknya bikin kening terangkat—belasan kilo dengan waktu yang singkat. Baginya, berlari itu bikin happy. Awalnya saya tidak sepakat apalagi mengerti. Tapi setelah mencobanya ternyata betul, berlari bikin riang saya punya hati.
Awalnya saya tidak yakin. Setahun silam, menyelesaikan satu putaran saja kaki bergetar hebat. Tapi, walaupun dengan pace yang lambat ternyata saya bisa! Bahkan menyelesaikan lebih dari 4 putaran.
Berlari ternyata lumayan menyesatkan, banyak kenangan yang nyasar dan banyak pula asa cita yang telah lama mampus muncul kembali. Berlari, menjadi semacam perjumpaan kembali dengan diri. Seperti yang Murakami tulis, “All I do is keep on running in my own cozy, Homemade void, my own nostalgic silence…” Saya sepakat.
Walaupun, mengutip Goenawan Mohamad, “diri” atau “aku” lahir selamanya tak pas. Bahkan terbelah. Tapi, berlari, bagi saya menjadi semacam simpul yang merekatkan keterbelahan itu. Pertemuan itu terkadang menggetarkan terkadang menggerakan, terkadang biasa saja.
Berlari bisa jadi olahraga paling purba. Bisa jadi leluhur kita, homo sapiens dari Afrika itu berburu santap malamnya dengan berlari-lari ke sana kemari sembari menghindari monster kadal dengan mulut beracunnya itu. Berlari tidak pernah dianggap sebagai olahraga sampai orang Yunani membuat turnamen 4 tahun sekali di Olimpia.
Berlari, seperti hidup itu sendiri. Kadang-kadang harus dibawa pelan, harus dipertahankan jika dirasa cukup, atau adakalanya harus digeber. Tapi tentu yang terpenting harus tahu diri, tidak terlalu memaksakan. Seperti hidup. ***
LINGGA AGUNG | KOLOMNIS & DOSEN DKV TELKOM UNIVERSITY




