Dalam bahasa Inggris, “berlari” disebut dengan run. Kata ini, secara etimologis, kemungkinan besar berasal dari bahasa Proto-Germanik: rinnan, renna, atau irnan, yang artinya kurang lebih “mengalir” (to flow). Ada keindahan tersendiri dalam asal-usul kata itu: berlari sebagai gerak yang mengalir seperti sungai yang mencari jalannya sendiri menuju laut. Tapi ketika saya mencari asal-usul kata “lari” dalam bahasa Indonesia, saya menemui jalan buntu—ada pula yang menyebut asalnya dari kata sanskerta, “layra” tapi sumbernya tidak cukup jelas. Nyaris tidak ada referensi linguistik yang bisa saya temukan dengan mudah. Persis seperti saat pertama kali saya mencoba memahami Sari.
Sari adalah teman saya—perempuan mungil yang larinya bisa bikin siapa pun merasa lelah hanya dengan menontonnya. Ia bisa menempuh belasan kilometer dalam sekali jalan, dan tetap tersenyum seolah baru saja bangun tidur. Baginya, berlari bukan hanya olahraga, tapi semacam terapi jiwa. “Berlari bikin happy,” katanya ringan. Saya yang saat itu belum percaya, hanya mengangguk. Tapi perlahan, saya mulai mencoba, dan rupanya ia tidak salah.
Saya ingat pertama kali menjejak lintasan lari dengan niat sungguhan. Satu putaran saja membuat lutut gemetar, napas terengah, dan kepala seperti mau meledak. Tapi anehnya, saya tidak menyerah. Pelan-pelan, tubuh mulai terbiasa. Bahkan, saya bisa menyelesaikan empat putaran dengan pace yang sangat lambat. Tapi tetap saja, bagi saya itu kemenangan kecil yang layak dirayakan.
Yang mengejutkan dari berlari bukanlah sekadar tubuh yang digerakkan—melainkan juga ingatan yang ikut bergerak. Banyak kenangan yang sebelumnya terkubur dalam-dalam, tiba-tiba menyeruak di tengah langkah-langkah yang berulang. Bayangan masa lalu dan harapan yang pernah padam muncul kembali, kali ini dalam bentuk yang lebih jernih, di tengah ruang batin yang terasa lapang. Ternyata, berlari bukan hanya aktivitas fisik; ia adalah proses perjumpaan kembali dengan diri sendiri.
Saya teringat kata-kata Haruki Murakami dalam What I Talk About When I Talk About Running:
“All I do is keep on running in my own cozy, homemade void, my own nostalgic silence…”
Saya sepakat. Ada kehampaan yang justru terasa nyaman saat berlari. Kekosongan yang paradoks—karena dalam keheningan itulah, suara hati yang lama terpendam mulai terdengar kembali. Dunia yang bising akhirnya menjauh, memberi ruang bagi bisikan terdalam yang selama ini tertutupi.
Namun, seperti yang pernah ditulis oleh Goenawan Mohamad, “diri” atau “aku” adalah entitas yang selamanya tak utuh. Ia dibentuk dari ketidaksesuaian, bahkan keterbelahan. Maka, bagi saya, berlari bukanlah upaya untuk menyatukan kembali diri yang retak, melainkan cara untuk merawat serpihan-serpihan itu. Sebuah proses menyulam ulang kesadaran bahwa keutuhan barangkali tak pernah benar-benar ada—tetapi kita tetap bisa melangkah, bahkan berlari, dengan seluruh bagian diri yang kita miliki.
Secara historis, berlari barangkali adalah bentuk ‘olahraga’ paling purba, sebuah keterampilan alamiah yang tertanam dalam tubuh manusia sejak ratusan ribu tahun silam di padang savana Afrika. Saat itu, lari belum mengenal konsep kesehatan atau kebugaran; ia adalah perkara hidup-mati. Leluhur kita berlari karena harus—untuk mengejar mangsa dalam strategi berburu, atau untuk menyelamatkan diri dari predator yang mengintai.
Seiring waktu, ketika manusia mulai membangun peradaban dan memberi bentuk simbolik pada tindakannya, lari pun mengalami transfigurasi menjadi sesuatu yang lebih dari sekadar naluri: ia menjelma menjadi ritus, disiplin, bahkan kehormatan.
Peradaban-peradaban kuno seperti Mesopotamia, Mesir, Yunani, hingga Suku Maya, menempatkan lari dalam ruang-ruang yang sakral—sebagai bagian dari upacara keagamaan, latihan militer, dan sistem pendidikan moral.
Di Yunani Kuno, lari tak hanya mengasah tubuh, tapi juga jiwa, menjadi bagian dari pendidikan agoge dan ritual dalam festival menghormati Athena: Panathenaic. Dan di Yunani Kuno jufa, untuk pertama kalinya dalam sejarah tercatat, lari naik panggung sebagai olahraga resmi dalam Olimpiade pertama tahun 776 SM. Bahkan kisah legendaris Pheidippides yang berlari dari Marathon ke Athena demi membawa kabar kemenangan, meski lebih mitos daripada fakta, menjadi fondasi spiritual dari maraton modern yang kita kenal hari ini.
Ketika Pierre de Coubertin menghidupkan kembali semangat Olimpiade pada 1896, lari menjadi jembatan antara masa lalu dan masa kini—sebuah simbol keabadian semangat manusia. Dari tanah liar savana hingga stadion-stadion modern, lari tetap menjadi jejak tubuh yang menyimpan sejarah manusia, sekaligus pernyataan bahwa dalam setiap langkah kita, tersimpan warisan peradaban (Lieberman, 2011; Finley & Pleket, 1976; Swaddling, 1999; Guttmann, 2002).
Hari ini, berlari sudah menjelma menjadi gaya hidup. Di kota-kota besar, setiap akhir pekan kita bisa melihat orang-orang berlari dengan pakaian olahraga penuh warna, sambil mendengarkan lagu dengan headset wireless di telinganya masing-maisng. Ada yang berlari demi kesehatan, ada pula yang mengejar validasi sosial—lazim disebut sebagai pelari kalcer: membagikan pencapaian mereka di Strava, lengkap dengan statistik jarak, waktu, dan pace. “6 kilometer, bro! Pace 1:13/km!”. Tak masalah. Mungkin setiap orang punya alasan sendiri untuk berlari—dan semua alasan itu sah.
Saya sendiri berlari sebagai persiapan menghadapi zombie apocalypse. Ya, sungguh. Dalam bayangan saya, saat dunia dikepung zombie, yang paling selamat bukan mereka yang punya senjata, tapi mereka yang bisa lari lebih cepat. Pace saya memang belum hebat, tapi cukup untuk lolos dari zombie yang lelah setelah dua tikungan.
Saya percaya pada semboyan Latin kuno: mens sana in corpore sano—jiwa yang sehat dalam tubuh yang sehat. Menggerakkan kaki, walaupun perlahan, adalah cara untuk menghindari stagnasi. Akhirnya saya belajar: kenikmatan berlari tak datang dari kecepatan, tapi dari keputusan untuk melangkah. Menjejak tanah dengan niat. Memulai dari pelan, lalu menambah, mempertahankan, kadang menggeber, kadang memperlambat. Seperti hidup itu sendiri. Kadang harus sabar, kadang perlu dipacu. Yang penting: tahu kapan harus berhenti, kapan harus lanjut, dan kapan harus tersenyum pada rasa lelah itu.
Berlari, bukan hanya tentang menempuh jarak. Ia tentang keberanian untuk terus bergerak, meskipun dunia menyuruh diam.
Editor: Hafidz Azhar



