Bersenang-Senang Dahulu Berita Palsu Kemudian

 

Pesan iklan dilahap sebagai bagian dari kehidupan, sampai pada suatu kondisi tertentu, iklan menjadi gaya hidup, dan berdampak pada perubahan tingkah laku.

 

Kesenangan dan kebahagiaan dua kata yang terlihat serupa. Senang dan bahagia,”selamat bersenang-senang”, seringkali diucapkan bagi orang yang akan bepergian atau berwisata, misalnya. Jarang kita mendengar kalimat selamat bersenang-senang bagi pasangan yang baru menikah, tepatnya orang baru menikah lazimnya diberi ucapan selamat berbahagia. Mungkin juga begini, kalau anda sedang senang, belum tentu juga berbahagia. Atau anda berbahagia, sudah tentu hati ikut senang, ini sih hasil perasan pemikiran penulis.

Coba kita lihat melalui KBBI arti kata senang dan bahagia, senang/se·nang/ a 1 puas dan lega, tanpa rasa susah dan kecewa, dan sebagainya: bersenang-senang/ber·se·nang-se·nang/ v berbuat sesuatu dengan senang hati atau untuk menyenangkan hati; bersantai; bersuka-suka: disuruhnya orang bekerja mati-matian, tetapi ia sendiri – saja;

bahagia/ba·ha·gia/ 1 n keadaan atau perasaan senang dan tenteram (bebas dari segala yang menyusahkan): ada lagi tanbahan arti kata membahagiakan/mem·ba·ha·gi·a·kan/ v 1 menjadikan (membuat) bahagia: ia berusaha keras – keluarganya; 2 mendatangkan rasa bahagia: kehadirannya sangat – keluarganya; Senang mungkin lebih tertuju pada memenuhi hasrat; keinginan, dalam upaya membuat diri merasa puas. Atau terpuaskan. Sementara bahagia cenderung pada kemampuan diri untuk berusaha membawa orang lain pada suasana gembira, riang sukaria. Dengan kata lain, senang lebih pada kepuasan pribadi. Dan bahagia bisa berlaku membawa orang lain turut bersuka cita. Kembali sih, ini hasil saya menerjemahkan kedua kata tersebut.

Bukan perdebatan kata senang dan bahagia yang ingin saya utarakan, tapi ada suatu kondisi dimana kita memahami dunia advertensi. Dunia periklanan tentu saja merupakan perpanjangan tangan dari barang atau jasa, supaya dikonsumsi orang, maksudnya. Diolah sedemikian rupa dengan berbagai gagasan kreatif dan disampaikan dalam bentuk pesan visual dan verbal yang menarik. Televisi di masa lalu, media yang paling efektif untuk menyampaikan keberadaan dari sebuah iklan. Tentu saja masih ada media lain yang bisa digunakan, radio, atau iklan dua dimensi, seperti poster misalnya, pokoknya banyak deh, platform iklan yang bisa terbaca terdengar atau terlihat oleh kerumunan orang. Sekarang, media dengan platform elektronik diserbu untuk menyampaikan kampanye produk. Media tumbuh subur dong, itu pasti. Rumah produksi periklanan hadir bagai jamur di musim hujan. Pesan iklan dilahap sebagai bagian dari kehidupan, sampai pada suatu kondisi tertentu, iklan menjadi gaya hidup, dan berdampak pada perubahan tingkah laku. Riset model dampak iklan, sudah bejibun di alam filosofi akademis, tinggal cari di media daring, kutak katik kata, bermunculan penelitian model begini. Hasrat, jadi model riset atas dasar perubahan perilaku, gaya hidup berlebihan, dan jurang sosial yang terbuka lebar. Kesenangan adalah pemenuhan hasrat yang hampir tidak ada batasnya. Garis akhir hasrat adalah, isi dompet anda tipis dan kering. Apakah anda akan bahagia setelah hasrat anda terpuaskan dan mengalami berbagai kesenangan? Belum tentu, sih.

Arus informasi yang sangat deras pada media digital saat ini, atau istilah kerennya tsunami informasi, mendorong pula produksi berita bohong, berita palsu dan berita yang sumbernya sangat diragukan. Bahasa kerennya hoax. Berita palsu disampaikan dengan berbagai maksud dan tujuan, cenderung negatif, sialnya orang lebih suka pada berita bohong karena merasa satu tujuan dalam memenuhi imajinasi dan keinginan, serta merta masyarakat terbelah menjadi kaum “haters” dan “lovers”. Topik tentang hoax ini jadi wacana yang mengemuka. Seringkali diangkat jadi diskursus perbincangan formal di kalangan para cendekia.

Entah lupa, atau tidak merasa mempunyai maksud yang sama antara hoax dan dunia advertensi. Produksi advertensi iklan kerap kali menyampaikan pesan yang dilebih-lebihkan, walaupun wacana dampak iklan sudah sampai pada kesimpulan puncak, tapi jarang orang yang coba mengkaitkan antara dunia advertensi dan hoax. Bukankah keduanya memiliki sifat yang sama, diproduksi untuk memenuhi unsur kesenangan!***

TATA KARTASUDJANA | KOLOMNIS & DOSEN DKV FISS UNPAS
 
Ilustrasi oleh Adam Rizki Taufik
Picture of Redaksi

Redaksi