Blues untuk Zaky

Ilustrasi Adam Rizqi Taufik

 

 

Buat saya, kota yang baik adalah kota yang di antara warganya ada yang terus membaca dan menulis.

 

 

Blues adalah musik yang sedih. Zaky Yamani mendedikasikan “blues”-nya buat Subcomandante Marcos dengan sejenis nada sedih karena El Sub akhirnya berhenti dari Zapatista. Namun, kesedihan Zaky juga mengandung ode, semacam lagu puji buat sang panutan, yang bukan saja merupakan pemimpin gerilyawan melainkan juga penulis risalah yang menggugah. Sekiranya saya bisa ikut mendendangkan blues juga, maka blues saya dialamatkan kepada Zaky. Saya ikut sedih mengenang beberapa nama yang ditulis oleh Zaky, dan ikut memuji kesungguhannya menulis.

Zaky, kita tahu, bergerak dalam dua wilayah literer: fiksi dan nonfiksi. Dia menulis novel, cerpen, dan puisi di satu pihak, juga dia menulis laporan jurnalistik, catatan perjalanan, dan kolom di pihak lain. Rumpun tulisan yang saya identifikasi belakangan, untuk mudahnya, saya sebut “esai”. Buku terbarunya, Blues untuk Marcos (2022), merupakan koleksi esai yang oleh penulis sekaligus penyuntingnya disebut “tulisan yang tak lekang waktu”.

Dalam fiksi perhatian kita terpusat pada manusia-manusia konkret yang jadi tokoh cerita dalam gelombang perubahan nasib di dunia hasil rekaan pengarang. Dalam esai, manusia konkret itu adalah penulisnya sendiri: dia punya ayah yang kuat naik sepeda ke gunung dan menemui akhir dengan diabetes, punya teman pemusik dan wartawan yang bergiat dalam gerakan penyadaran, punya kenalan tukang cukur yang yang meninggal karena sakit liver, punya idola Subcomandante Marcos yang berhenti sebagai pemimpin revolusi, dan punya kegelisahan tentang mentalitas kolonial di kota yang dia huni dan tentang kebimbangan negaranya dalam urusan legalisasi ganja. Dengan kata lain, kita dapat melihat “sosok pribadi”, bukan hanya di dalam puisi, melainkan juga di dalam esai.

Saya kenal Zaky sejak dia masih bekerja sebagai jurnalis buat Pikiran Rakyat, koran tempat saya rutin menulis sekian tahun silam. Investigasi jurnalistiknya yang mendapat penghargaan, Kehausan di Ladang Air, menimbulkan kesan tersendiri di benak saya. Terbilang sering saya ketemu dia di beberapa lingkungan komunitas di Bandung, khususnya di Kedai Kopi Los Tjihapit. Zaky adalah alumnus Unpas, kampus tempat saya bekerja sehari-hari, dan sekali pernah kami di kampus itu memperbincangkan novelnya, Pusaran Amuk. Dengan kata lain, Zaky bukan nama asing bagi saya. Tidak mengherankan jika terdapat beberapa tema esai dalam buku ini yang juga beririsan dengan ingatan saya sendiri, misalnya esai tentang almarhum jurnalis, aktivis, dan seniman Ging (Gin Gin) Ginanjar dan almarhum musisi dan aktivis Mukti Mukti (Hidayat Mukti) — dua teman yang juga saya kenal baik. Ada pula pokok bahasan yang juga beririsan dengan minat saya sendiri, misalnya tema “kolonialisme Bandung”.

Senang sekali bisa membaca esai dari seseorang yang tinggal di kota yang sama dan hidup dalam zaman yang sama. Saya membacanya loncat-loncat, tidak mengikuti alur pemilihan dan pemilahan wacana dari editor buku. Saya mendahulukan tema-tema yang terkait dengan minat intelektual dan ingatan saya sendiri. Dari situ barulah saya membaca tema-tema selebihnya. Saya senang karena merasa bahwa esai-esai Zaky, dengan caranya sendiri, turut merawat dan merayakan literasi Bandung. Buat saya, kota yang baik adalah kota yang di antara warganya ada yang terus membaca dan menulis.

Beberapa esai, khususnya di bagian tentang figur-figur yang dikenal baik dalam hidup Zaky sehari-hari, tampaknya ditulis dari ingatan. Selebihnya, untuk bagian terbesar, esai-esai Zaky mencerminkan kebiasaan riset, khususnya riset kepustakaan dan pengamatan, dalam proses kreatif menulis.

Tampaknya ada berkah tersendiri dari tradisi jurnalistik: ketelatenan memilih, memilah, dan menata fakta sambil sedapat mungkin membebaskannya dari bias pendapat pribadi sang jurnalis. Bagi jurnalis, fakta itu suci, jangan sampai digagahi oleh opini. Fakta digali dari lapangan, diperiksa, ditimbang-timbang, sebelum disusun dan dipublikasikan. Dalam proses itu, sang jurnalis mengendalikan dirinya sendiri, mendudukkan dirinya sebagai saksi, di hadapan khalayak pembaca. Disiplin seperti inilah yang saya rasakan cenderung menghilang ketika di tengah kegaduhan medan komunikasi kini jurnalis seperti hadir di pinggir, seakan digantikan oleh para “content creator”. Ketika Zaky meninggalkan Pikiran Rakyat, saya merasa bahwa hingga batas tertentu keputusannya terkait pula pada pergeseran di bidang jurnalistik — meski sampai sekarang, setahu saya, dia sebetulnya masih menjalankan peran jurnalistik seperti yang tercermin dari sejumlah tulisan dalam buku ini, khususnya yang pernah dimuat dalam situs Deutsche Welle. Sebagai jurnalis, saya kira, Zaky sanggup menyuguhkan perspektif kepada para pembacanya.

Tentu saja, dalam Blues untuk Marcos, Zaky cenderung memainkan peran sebagai penulis esai yang merayakan kebebasan untuk menilai keadaan, mengomentari kebijakan, atau menyuguhkan renungan pribadi. Meski begitu, tradisi jurnalistik yang melatari karier kepenulisannya niscaya telah menanamkan dorongan yang bagus dalam proses kreatif menulis esai, yakni memeriksa opini sendiri. Lagi pula, sudah dari metodenya, esai adalah bentuk tulisan yang pada dasarnya reflektif.

Buat saya, dan mungkin buat banyak pembaca lainnya, koleksi esai Zaky telah memberikan tambahan dorongan untuk terus berikhtiar merefleksikan diri sendiri dalam tiap-tiap keunikan pengalaman hidup sehari-hari.*

 
HAWE SETIAWAN | KOLUMNIS & DOSEN DKV FISS UNPAS
 
Ilustrasi: Adam Rizki Taufiq
 
 
Picture of Redaksi

Redaksi