Lukisan tersebut menggambarkan sosok laki-laki dewasa berdiri tegap menghadap agak kearah kanan, memakai setelan pantalon dengan jahitan terekspose berwarna putih.
Berawal dari mencoba mengisi teka-teki silang di harian Kompas pada hari Minggu, 30 Mei lalu, dengan pertanyaan empat huruf menurun, tertulis “kata sapaan akrab kepada seorang laki-laki.” Saya jadi teringat percakapan bersama dua orang teman pada tahun lalu, dan dari topik percakapan itu tercetus untuk menuliskan apa yang menjadi ingatan saya.
Sebetulnya ragu mengakui itu sebagai ingatan, beberapa kali telah mencoba untuk mengkonfirmasi kepada orang-orang yang saya anggap bersama waktu itu, hasilnya hanya senyuman atau ucapan tidak ingat. Selama itu pula, saya rasa mungkin hanya khayalan karena terpengaruh oleh ingatan visual berasal dari media cetak dan elektronik.
Akhirnya ingatan itu pun menjadi tulisan ini, jadi anggaplah ini sebagai tulisan khayalan atau fiksi saja. Saya akan mencoba membagi tulisan ini menjadi dua bagian yang berbeda dengan satu makna, jawaban yang berasal dari pertanyaan teka-teki silang di harian Kompas, yaitu kata: “ Bung “
Bagian Pertama.
Pertengahan tahun enam puluhan, pada saat berusia antara empat hingga enam tahun, bersama ibu dan kakak, saya tinggal menumpang pada keluarga kakak perempuan ibu (bude) di kota Jakarta, tepatnya di daerah Kebayoran Baru.
Kami tinggal sementara di situ karena bapak mendapat tugas belajar, dan untuk kepraktisan Bude mengajak kami untuk tinggal bersama mereka, mengingat saya dan kakak masih kecil-kecil. Rumah keluarga beliau memang sangatlah luas, jika hanya bertambah penghuninya ibu berserta kami masih sangatlah memandai. Hingga begitu luasnya hingga antar ruang dengan ruang lain sampai ada yang dihubungkan oleh koridor, oleh anak-anak digunakan sebagai tempat bermain hingga ke beranda depan.
Menjelang petang di beranda depan tempat anak-anak bermain pada siang hari keluarga pemilik rumah acap menjamu kolega sekedar untuk berkumpul sambil bercakap-cakap dan menikmati hidangan, malah seingat saya pernah terdengar juga ada yang sambil bermain musik keroncong. Sisi dinding ruang tamu dekat mulut koridor itulah awal gagasan tulisan bagian ini.
Jika akan melintas dari beranda menuju ruang bagian belakang sebelum memasuki koridor kita akan melihat sebuah gambar tersampir di dinding berwarna putih, gambar yang sangat besar menurut saya waktu itu, sekitar dua bentangan tangan lebarnya dengan tinggi menjulang mendekati langit-langit ruang, dan kemudian baru saya tahu itu adalah sebuah karya lukisan tangan.
Lukisan tersebut menggambarkan sosok laki-laki dewasa berdiri tegap menghadap agak kearah kanan, memakai setelan pantalon dengan jahitan terekspose berwarna putih. Sedikit terlihat rambut hitam berpangkas rapih berpeci dan bersepatu hitam, terlihat pada lengan kirinya mengapit sebuah tongkat, dan terdapat cincin di jari tangan.
Wajah dengan bola mata hitam berbulu alis tebal, fokus memandang tajam kedepan, garis bibir seperti sedikit sedang tersenyum yang menawan. Gambaran wajah dan postur tubuh yang menurutku sempurna bagi seorang laki-laki dewasa. Dengan latar berwarna merah kehitaman, berbingkai terbuat dari kayu berwarna putih kusam dengan timpalan sedikit cahaya yang berasal dari jendela-jendela di sekitar ruang menjadikannya lukisan itu seperti mempunyai aura yang berbeda.
Sayangnya, hingga kini saya tidak memperhatikan siapa pelukisnya, dan kabarnya lukisan itu masih ada. Belakangan setelah bapak menyelesaikan tugas belajar dan sebelum kami kembali ke kota Bandung, pada waktu-waktu menjelang petang beliau ikut juga berkumpul dan berbincang bersama sejawat tuan rumah, saat itulah saya kadang berani mendekat hanya untuk sekedar bermain dan seolah ikut mendengar mereka bercakap.
Satu kata yang sangat akrab di telinga saya yang selalu menjadi topik dalam percakapan mereka adalah sebuah nama, diawali dengan kata “Bung“.



