Bunga di Tembok: Ruang Independen Berbasis Komunitas

Bagian depan Perpustakaan Bunga di Tembok. (Foto: Astrie Amanda).

Di tengah padatnya kota Bandung, ada sebuah ruangan yang membawa harapan bagi para pencinta buku. Sebut saja Perpustakaan Bunga di Tembok. Perpustakaan ini resmi dibuka pada 16 November 2024 dan menjadi tempat bernaungnya berbagai komunitas untuk memantik semangat literasi.

Nama “Bunga di Tembok” terinspirasi dari puisi Bunga dan Tembok karya Wiji Thukul. Puisi itu menggambarkan perlawanan dan harapan. Bunga dalam puisi tersebut tumbuh di tengah tekanan dan batasan, sekaligus menjadi simbol bahwa suara dan keberanian bisa muncul dari mana saja. Semangat ini selaras dengan visi perpustakaan yang digagas oleh Tri Joko Her Riadi, Pemimpin Redaksi Bandungbergerak.id dan orang yang berandil besar dalam membuat perpustakaan itu.

Nabila, salah seorang pengelola Bunga di Tembok, menjelaskan perpustakaan ini dibuat untuk memberi ruang alternatif bagi siapa saja yang ingin tumbuh melalui literasi dan dialog. Harapan ini seturut dengan keinginan Mas Joko, sapaan akrab Tri Joko Her Riadi, yang telah berhasil mewujudkan ruang bagi komunitas-komunitas.

“Mas Joko sejak dulu punya mimpi untuk membangun tempat seperti ini. Dan akhirnya, Perpustakaan Bunga di Tembok lahir sebagai ruang independen yang berbasis komunitas,” ujar Nabila. Ia menambahkan, tempat ini dikelola secara kolektif, dengan keterlibatan banyak orang yang turut menyumbang waktu, energi, dan ide.

Sewa Rak, Kegiatan Rutinan dan Koleksi Buku

Sewa rak merupakan salah satu konsep yang ditawarkan dari Bunga di Tembok. Melalui sewa rak, siapa pun bisa menitipkan bukunya di Perpustakaan Bunga di Tembok. Pengelola menyediakan rak untuk disewakan bagi personal maupun komunitas. Rak ini nantinya boleh diisi oleh beragam genre, sesuai dengan minat dan fokus yang sedang digemari.

Kedai dan beberapa koleksi buku di Perpustakaan Bunga di Tembok. (Foto: Astrie Amanda).

Meskipun koleksi buku yang dimiliki tidak sebanyak perpustakaan umum, setiap buku yang ada dipilih dengan kurasi yang cermat. Buku-buku tersebut berasal dari sumbangan relawan dan pengunjung, mencakup genre sastra, sejarah, filsafat, jurnalisme, hingga buku-buku sosial dan politik.

“Banyak pengunjung tertarik pada buku-buku sastra dan jurnalisme karena cenderung membuka ruang kontemplasi dan pemahaman terhadap realitas,” ungkap Nabila.

Selain sewa rak, ada beberapa kegiatan rutinan yang telah berjalan di Perpustakaan Bunga di Tembok. Beragam program itu dirancang untuk menciptakan suasana belajar dengan berdialog santai, akrab, dan reflektif. Salah satunya Kembang Kata. Kegiatan ini berlangsung setiap Jumat malam dan mengajak para peserta untuk membaca secara hening, lalu berdiskusi dan menuliskan refleksi singkat dari bacaan tersebut.

“Kembang Kata menjadi momen kami untuk kembali ke buku, mendengarkan pikiran masing-masing, dan berbagi perspektif secara setara,” ujar Nabila.

Ada juga kegiatan Sabtu Sore. Forum ini diadakan setiap Sabtu berupa diskusi dan berbagai kegiatan literasi lain seperti pemutaran film, kelas menulis, diskusi mengenai isu sosial, hingga pertunjukan seni seperti open mic dan pembacaan puisi. Beberapa kegiatan kolaboratif juga pernah digelar, salah satunya kelas menulis yang diadakan bersama komunitas Bandung Bergerak selama bulan Ramadan kemarin.

“Setiap minggu kami ingin memberikan variasi kegiatan, karena kami sadar bahwa setiap orang punya cara yang berbeda untuk belajar dan berkreasi. Program seperti Sabtu Sore bisa menjadi wadah bagi mereka yang ingin mengeksplorasi lebih dalam, baik dalam seni, penulisan, maupun diskusi sosial,” tambah Nabila.

Akses yang Disesuaikan

Perpustakaan Bunga di Tembok dibuka setiap Senin hingga Sabtu dari pukul 14.00 sampai 22.00 WIB. Jam operasional ini dipilih agar masyarakat yang bekerja atau kuliah tetap memiliki kesempatan untuk datang pada sore atau malam hari. Pengunjungnya sangat beragam, mulai dari pelajar, mahasiswa, sampai masyarakat umum yang sengaja datang untuk membaca, berdiskusi, atau sekadar beristirahat.

Sebagai pengelola Nabila mengaku bisa bertahan karena kecintaan terhadap proses belajar dan kolektivitas.“Kami bertahan karena cinta. Cinta pada buku, pada proses belajar, dan pada setiap orang yang datang dan berkontribusi,” ujar Nabila. Ia menekankan Perpustakaan Bunga di Tembok dikelola secara kolektif dan terbuka untuk siapa pun yang ingin terlibat.

Dengan semangat kolaboratif dan visi keberagaman, Perpustakaan Bunga di Tembok menjadi bukti bahwa literasi tidak harus eksklusif dan kaku. Di balik tembok kota yang sibuk, perpustakaan ini hadir sebagai bunga kecil yang mekar dengan keberanian dan cinta.

Nabila berharap Bunga di Tembok bisa menjadi inspirasi bagi hadirnya lebih banyak ruang kolektif di kota-kota lain. Ia ingin agar perpustakaan itu bisa tumbuh sebagai ruang yang terbuka.

“Kami ingin tempat ini terus tumbuh sebagai ruang yang ramah dan inklusif. Siapa pun bisa datang, tanpa takut dihakimi atau dianggap kurang pintar. Di sini, semua orang belajar bersama” jelas Nabila.

 

Editor: Hafidz Azhar

Picture of Astrie Amanda

Astrie Amanda

Mahasiswi Sastra Inggris, Unpas. Sedang menjadi reporter di hanyawacana.id.