Carita Demung Kalagan memiliki dua motif mimpi yakni yang dialami Raden Munding Laya Mantri dan oleh Demung Kalagan
Lakon pantun Sunda pertama yang direkam dalam Projek
Penelitian Pantun yang diprakarsai oleh Ajip Rosidi antara 1970 hingga 1974. Transkripsinya
diselesaikan pada Maret 1970 dan diterbitkan pada bulan itu juga.
Dalam kata pengantarnya yang bertitimangsa 31 Maret 1970,
Ajip menyatakan latar belakang projek tersebut. Katanya projek tersebut berasal
dari usulannya sejak lebih dari 14 tahun lalu, yang seraya menunggu bantuan
datang, ia mulai merintis perekaman pantun.
Antara lain ia mengatakan, “Saja
kuatir kalau ditunda-tunda djuga, akan keburu lenjaplah para djurupantun jang
sekarang sudah tinggal sedikit itu.” Selain itu, ia menyatakan akan
mendahulukan merekam lakon yang belum mendapatkan perhatian para peneliti
sebelumnya. Juru pantunnya diupayakan dari pelbagai kabupaten.
Ajip mengakui bahwa pita-pita rekaman semuanya akan
diusahakan disimpan, meskipun karena keterbatasannya, setelah ditranskripsi akan
ada yang dihapus agar dapat merekam lakon lain. Sebab setiap lakon membutuhkan
sekitar 3.000 feet pita (speed 17/8 paling lambat), dengan waktu putaran lebih
dan 17 jam, yaitu dari usai isya hingga subuh.
Pantun Carita Demung Kalagan hanya dikenal di Kuningan (Yus
Rusyana, Iskandarwassid, Wahyu Wibisana, Ensiklopedi Sastra Sunda, 1997: 62; Ajip
Rosidi [ed.], Ensiklopedi Sunda, 2000: 371). Juru pantunnya adalah Ki Kamal
(1902-1977) dari Kuningan. Menurut Rosidi [ed.] (2000: 321), Ki Kamal berguru
mantun kepada Ki Raksawiguna.
Ia berpantun sambil memetik kecapi tanpa iringan
yang lain dengan menggunakan laras Salendro. Beberapa lakon yang direkam oleh
Ajip dan kawan-kawan dari Ki Kamal adalah Demung Kalagan, Lutung Leutik, dan Kembang
Panyarikan. Ia juga dapat memantunkan lakon Mundinglaya di Kusuma, Ciung Wanara
dan Ambarsakti.
Carita Demung Kalagan berkisah tentang Raden Munding Laya
Mantri, putra Raja Pakuan Pajajaran, yang bermimpi bertemu dengan putri cantik
adik Demung Kalagan dari Negara Parakan Wayang. Ia bersama kesembilan orang
yang mengawaninya kemudian mengembara.
Mula-mula tersesat ke kerajaan Kuta
Kembaran, lalu menikahi adik raja Bima Manggala, Nyi Angrum Ganda Wayang Sari,
dan membuang istri yang dibawanya dari Pajajaran (Nyi Mas Sari), akibat hasutan
istri barunya.
Nyi Mas Sari dihanyutkan ke sungai dan tiba ke wilayah
Negara Parakan Wayang. Rakitnya terbalik, ia tersangkut pada badodon (perangkap
ikan). Saat yang sama, Demung Kalagan bersama adiknya Nyi Panggung Wayang,
pergi ke sungai untuk memeriksa perangkap tersebut.
Nyi Mas Sari kemudian dihidupkan
oleh Demung Kalagan, lalu tinggal bersama Nyi Panggung Wayang, dan melahirkan
anak laki-laki: Raden Geder Laya Mantri Jayakaton atau Raden Bagus Suka Mantri
Gajah Hayam Alas.
Raden Bagus diasuh oleh Demung Kalagan. Karena konon pernah berjanji
bila mempunyai keponakan akan menghadiahi bunga campaka warna dan kalung mas
berantai dari kayangan, Demung Kalagan bertapa di atas mega.
Sementara Raden
Bagus bersama ayamnya mengembara ke seantero negeri dan tiba di Kuta Kembaran. Ketika
memenangi persabungan, Raden Bagus tidak mendapatkan taruhan berupa negara,
karena Bima Manggala yang dikalahkannya ingkar janji. Raden Bagus dilemparkannya
ke mulut raksasa.
Sekembali dari pertapaan, Demung Kalagan mencari-cari Raden
Bagus. Anak itu baru ditemukannya setelah menyusuri berbagai tempat. Di sisi
lain, Kidang Panglamar pergi dari Pajajaran untuk mencari rombongan Mundinglaya
Mantri dan Kidang Pangrawit hendak menemui tunangannya, Nyi Angrum Ganda Wayang
Sari, di Kuta Kembaran. Keduanya bertemu dan bersetuju menyerang Bima Manggala.
Karena tak terkalahkan, Bima Manggala dilawan Demung Kalagan. Bima Manggala
kalah dan bersama Nyi Angrum Ganda Wayang Sari diserahkan kepada raksasa. Akhirnya,
semua orang berangkat ke Parakan Wayang. Setelah menikahi Panggung Wayang, Raden
Mundinglaya Mantri diangkat menjadi raja.
Menurut Idat Abdulwahid, dkk. (Analisis Motif dan Leitmotif
Cerita Pantun Sunda, 1998: 162-170), Carita Demung Kalagan memiliki dua motif mimpi
yakni yang dialami Raden Munding Laya Mantri dan oleh Demung Kalagan; dan motif
perluasan kekuasaan yang terselubung dalam mimpi Raden Munding Laya Mantri.
Sementara
yang menjadi leitmotifnya adalah nafsu tak terkendali akan membawa malapetaka,
seperti yang dialami Raden Munding Laya Mantri, Nyi Angrum Ganda Wayang Sari,
dan Bima Manggala.
ATEP KURNIA | KOLOMNIS
Foto: Dokumentasi Pribadi




