Catatan Gelandangan

Ilustrasi Adam Rizqi Taufik

 

Tidakkah semua itu berpangkal pada kekhawatiran kalangan mapan akan timbulnya kerumunan?

Buku klasik dari George Orwell (nama pena Eric Arthur Blair), Down and Out in Paris and London, hampir terlupakan. Saya menemukannya lagi sewaktu membersihkan lemari buku. Kondisinya sudah buruk. Maklum, yang ada pada saya adalah buku saku 155 halaman terbitan 1953. Sudah 68 tahun. Biar nyaman membacanya, saya perlu memperbaiki jilidnya. Saya lapisi dengan kertas dupleks dan sampul plastik, juga saya tempeli dengan seutas pita buat tanda baca. Jadilah sebuah hard cover yang ringan dibawa ke mana-mana. Selamat datang di abad ke-21, Eric.

Paris dan London, Prancis dan Inggris, adalah dua lokasi yang dihadirkan dalam “cerita dua kota”-nya Charles Dickens dengan abad ke-18 sebagai latar historis bagi kisah “orang-orang kecil (small creatures)“. Tradisi naratif mengenai kedua tempat itu panjang juga jejaknya. Dari Orwell, kita mendapatkan gambaran Paris dan London awal abad ke-20 dengan sudut-sudutnya yang kumuh. Down and Out memotret segi-segi ruang urban yang tidak nyaman tempat menggejalanya kemiskinan dan pengangguran. Itulah dunia kalangan plongeurs di Paris dan kalangan tramps di London — dunia kaum gelandangan dan pekerja serabutan.

Jika kita mengingat dulu novel A Tale of Two Cities karya Dickens, niscaya kita tidak melewatkan dua paragraf pembuka Bab 5 novel tersebut. Di situ ada lukisan kecelakaan yang menakjubkan: sebuah bejana anggur (wine) yang baru saja diturunkan dari kereta pengangkutnya, tertumpah di depan pintu kedai, di pinggir jalan. Kalangan jelata, lelaki dan perempuan, yang kebetulan ada di sekitarnya segera mengerubunginya. Dengan caranya masing-masing mereka menyesap tumpahan anggur, tak terkecuali anggur yang telah terampur dengan lumpur.

Kaum jelata, kalangan gelandangan, yang turut mengisi lanskap cerita Dickens yang berlatar mangsa 1775 itu seakan hidup lagi di dalam novel Orwell yang berlatar mangsa awal 1900-an.

Buat orang Asia seperti saya, yang sering diterpa citraan Paris melalui advertensi lipstik dan parfum di layar TV serta citraan London melalui reportase pernikahan keluarga kerajaan nan gemerlapan, karya Orwell nan suram justru menawarkan alternatif yang sehat. Pengalaman langsung tak terlalu membantu, sebab saya sendiri hanya sempat melihat kedua kota itu dalam kunjungan beberapa hari belaka. Membaca buku ini membuat saya sekian kali terkesiap di hadapan rincian pengalaman manusia yang tak tepermanai.

Pengarang sepertinya berendah hati ketika menyebut karyanya ini “cerita ala kadarnya (a fairly trivial story)”. Ia berharap pembaca dapat menyimaknya seperti menyimak “catatan perjalanan (travel diary)”. Di tengah kungkungan pandemi, yang meliputi beberapa minggu isolasi mandiri, saya membaca “catatan perjalanan” ini sebagai penawar kebosanan tersendiri. Belasan halaman terakhir saya rampungkan di sebuah taman kota, tak jauh dari rumah kami di Bandung, sambil menjemur punggung menjelang jam sepuluh pagi.

Down and Out in Paris and London mulai terbit pada 1933 — periode ketika leluhur saya di Indonesia mungkin masih berkutat dengan kungkungan adat-istiadat dan gairah untuk memilih sendiri pasangan hidup — waktu pengarangnya baru berumur 30 tahun. Buku ini didasarkan atas pengalaman pribadi pengarang Inggris kelahiran Bengal itu. Bahan mentahnya, sedikit banyak, dapat kita lihat dalam catatan harian pengarang, misalnya Diaries yang disunting oleh Peter Davidson (2009).

Dalam sketsa biografis dari editor Diaries antara lain dicatat bahwa Orwell, setelah berhenti dari pekerjaannya di Burma dan kembali ke Inggris, “berkeluyuran dan mengadakan sejumlah ekspedisi ke wilayah East End di London untuk menilik cara hidup kaum miskin dan berbagi pengalaman dengan mereka. Dari musim semi 1928 hingga akhir 1929 dia tinggal di wilayah kelas pekerja di Paris, mula-mula dengan mengandalkan tabungan hasil kerjanya di Burma, dan menulis — serta menerbitkan — sejumlah artikel.”

Catatan harian tersebut, menurut Christopher Hitchens yang memberi pengantar untuk Diaries, “dapat memperkaya pemahaman kita mengenai cara Orwell mentransmutasi bahan-bahan mentah dari pengalaman sehari-hari ke dalam beberapa novel dan polemiknya”.

Dalam catatan harian 26 Agustus 1931, misalnya, Orwell menulis: “Setelah tengah malam cuaca dingin sekali sehingga saya harus bejalan jauh supaya badan tetap hangat. Jalanan pada saat itu dapat dibilang mengerikan; segalanya bisu dan lengang, tapi terang-benderang hampir seterang siang oleh lampu-lampu yang sinarnya sangat kuat, sehingga segalanya terkesan mati, seolah-olah London adalah jasad kota”.

Dalam wadah novel, kronik seperti itu mendapat pola, jalan cerita, sudut pandang, dan sebagainya. Dengan itu, kita dapat mengikutinya sambung-menyambung dan tak kehilangan fokus. Kita mau membacanya terus hingga 38 bab. Beberapa bab barangkali membuat pembaca agak bosan karena kemalangan demi kemalangan tokoh cerita terasa tak berkesudahan. Namun, rincian kecil dari pelukisan pengalaman sang tokoh membuat kita merasa bahwa dia hidup dalam dunia yang bukan semata-mata rekaan. Lagi pula, rincian pelukisan memang diperlukan buat pendalaman kenyataan.

Pelukisan Orwell seringkali mengagetkan. Perhatikan, misalnya, dari pelukisannya mengenai kegiatan harian para pelayan hotel dan restoran mentereng di Paris. Dari situ kita jadi mafhum bahwa kemewahan belum tentu terbebas dari kejorokan. Makanan dan minuman yang disajikan di hotel dan restoran barangkali ibarat karya seni di galeri. Orang tak melihat bagaimana menu itu dipersiapkan di dapur sebagaimana lukisan atau patung dibuat di studio. Orang hanya melihat ketepatan racikan dan waktu penyajian.

Cerita disampaikan dari sudut pandang orang pertama, sang “aku” yang namanya tidak disebutkan. Dia orang Inggris yang bisa menulis. Sempat ia mengumumkan artikel surat kabar dan pernah memberikan les bahasa Inggris. Cerita ini dimulai di Paris hingga bab ke-23, sebelum tokoh “aku” pulang ke Inggris dan melanjutkan cerita hingga bab ke-38. Di Paris ia jadi bagian dari kelas pekerja manual, bahkan dari strata yang paling rendah, yakni kaum yang dia sebut plongeurs. Di London ia jadi bagian dari kaum gelandangan alias tramps yang hidup di jalan, bergerak dari satu ke lain lembaga amal dan tempat penampungan sementara.

Observasinya terperinci. Data statistik bahkan diberi tempat tersendiri, semisal mengenai populasi gelandangan di London, termasuk pembagian gendernya. Perhatian khusus juga diarahkan kepada ungkapan-ungkapan selingkung (slank words) yang hidup di kalangan gelandangan di kedua kota itu pada masanya.

Selain menggali fakta dan menyusun cerita, Orwell juga melontarkan kritik berikut usulan solusinya. Ia mempertanyakan, misalnya, siapa sih yang berkepentingan dengan adanya kalangan plongeurs di Paris, dan kenapa pula kalangan pekerja kasar itu tidak punya peluang sama sekali untuk meningkatkan kualitas hidupnya? Tidakkah semua itu berpangkal pada kekhawatiran kalangan mapan akan timbulnya kerumunan? Ia pun mengusulkan, misalnya, upaya-upaya pemanusiaan kalangan gelandangan di London, mulai dari mengoreksi sesat pikir atau keliru pandang mengenai pengemis hingga mengoreksi cara kerja dan tujuan lembaga-lembaga amal.

Akhirnya, tokoh cerita ini tidak sampai ke mana-mana. Lagi pula, bagi Orwell, observasi dan analisis atas masalah kemasyarakatan dalam buku ini sesungguhnya baru merupakan “permulaan”: “this is the beginning,” tulis Orwell ketika mengakhiri buku ini. Sebagai debut, Down and Out in Paris and London memang menandai permulaan karier Orwell di bidang sastra. Itulah perjalanan hidup yang jejak-jejaknya sulit dilupakan.***

 

HAWE SETIAWAN | KOLOMNIS & DOSEN DKV FISS UNPAS
Ilustrasi: Adam Rizki Taufiq
Picture of Redaksi

Redaksi