Sketsa Gegerkalong

Gegerkalong adalah bagian penting dari geografi saya sehari-hari. Sejak tahun 1987 saya tinggal di Negla, tidak jauh dari Terminal Ledeng, mula-mula sebagai mahasiswa dari luar kota, kemudian jadi warga kota. Tempat tinggal kami bisa dikunjungi melalui Jalan Sersan Bajuri atau Jalan Negla yang lebih sempit dan pendek. Dari Negla ke Gegerkalong, khususnya Gegerkalong Girang, terjalin […]

Wangsa

    Ada kalanya pula diam-diam dia menawari saya kopi, dan ketika ujung jari saya menyentuh bagian yang runcing dari payudaranya, yang sebentar terlepas dari kebaya katunnya yang berwarna putih   Itih, dengan nama yang singkat tapi hatinya lapang, lahir di Desa Cigugur, dekat Cimahi, di Priangan. Meski belum bisa dipastikan kapan tepatnya ia dilahirkan, […]

Sepah dan Spuug

Sampai di situ, saya hanya dapat mengatakan bahwa dalam urusan kunyah-mengunyah sirih alias ngalemar, istilah Belanda spuug mengacu kepada ludah sedangkan istilah Indonesia sepah mengacu kepada ampas. Ketika membaca novel Maria Dermoût, Nog pas gisteren (1974), saya termenung oleh sepatah kata: spuug. Biar jelas, baik kita petik sebuah paragraf dari novel berlatar Jawa yang pertama kali terbit pada […]

Wajah-Wajah Dago! (Bagian 2)

Mereka seperti toponimi artefak hidup dari wajah ruang hidup Dago yang sebenarnya/nonfiksi, mewarnai Dago dengan cara yang khas membekas intim dalam ruang geografis dan memori kolektif kehidupan keseharian warga yang dijumpainya. Selain Mang Bana dan Mang Dase terdapat dua orang lagi yang warga kampung biasa memanggilnya Si Jalal dan Si Loper Koran karena tidak pernah […]

Babad Lédeng (2): Dari Nagrak ke Lédeng

Kesempatan kumpul-kumpul dengan tetangga, entah dalam kenduri pernikahan atau dalam upacara kematian, sering memberi saya jalan ke masa lalu. Kenangan para pendahulu, saya kira, patut diindahkan dalam ikhtiar membaca perubahan kota. Kota tumbuh, lahan beralih fungsi. dan toponimi lambat-laun berganti. Alih nama dari Nagrak ke Lédeng, yang prosesnya tentu tidak ujug-ujug, terpaut pada eksploitasi sumber-sumber […]

Wajah-Wajah Dago! (Bagian 1)

Berkurangnya sawah secara ekstrim di wilayah Dago berganti pemukiman, mobilitas kendaraan yang semakin padat hingga usia yang semakin menua termasuk usia kerbaunya. Jika ada orang mengaku sebagai warga Dago, pertanyaannya hanya dua. Apakah yang bersangkutan mengenal Mang Bana? lalu apakah mengenal Mang Dase? Jika tidak, maka saya bisa pastikan orang tersebut bukan orang yang tumbuh […]

Babad Lédeng (1): Nagrak, Nagrag, Nagrég, Negrak

Uniknya, tempat yang namanya menyiratkan ketandusan justru melekat pada sejarah perkebunan, terpaut pada tetumbuhan. Baiklah, kita mulai dari toponimi. Tempat yang kelak dikenal dengan nama Lédeng, di dataran tinggi Bandung Utara, tadinya bernama Nagrak. Dalam peta dari tahun 1905 dan 1944 toponimi Nagrak masih dipakai untuk menandai wilayah tersebut, sehamparan dengan Cidadap, tidak jauh dari […]

Mudik ke Padjadjaran

Barangkali dapat pula dikatakan bahwa pendirian Unpad sedikit banyak mencerminkan adanya aspirasi Bandung di satu pihak, dan kepentingan Jakarta di pihak lain. Seorang teman baik dari Universitas Padjadjaran mengajak saya ikut serta dalam sebuah acara halal bil halal. Sayang, jadwalnya berubah, dan saya tidak bisa menyesuaikan rutinitas saya dengan jadwal baru. Catatan berikut ini tadinya […]

Menggambar Balé Nyungcung

Kalau boleh sedikit berlebihan, dapat kiranya saya berkata bahwa Bandung sekarang adalah kota yang tidak punya alun-alun.  Saya ngabuburit sambil berlatih membuat sketsa. Objek gambar yang saya pilih adalah arsitektur masjid di sekitar tempat tinggal saya di Bandung. Masjid yang saya pilih adalah masjid yang atapnya masih meneruskan tradisi. Itulah atap yang runcing, biasanya bertumpuk […]

Munah Manéh

Terlalu menyalahkan Mataram untuk undak-usuk dalam bahasa Sunda, mungkin bisa dibilang sifat pecundang yang malas. Terlalu mengglorifikasi masa Sunda kuna juga termasuk aib yang lain. Kocak. Ti inya carék Bagawat Resi Makandria “Aing dék leumpang ka Sang Rasi Guru, ka Kendan.” Datang siya ka Kendan. Carek Sang Rosi Guru: “Na naha beja siya Bagawat Resi […]