Cermin Pasar Biru 2 di Cicalengka

Penampilan Sora Sae pada Pasar Biru 2. (Foto: Nurul Maria Sisilia).

Rangkaian hajatan literasi di timur Bandung itu ditutup dengan pembacaan puisi dari komunitas-komunitas di Cicalengka serta penampilan musik keroncong dari musisi lokal Cicalengka. Hari terakhir Pasar Biru 2, bulan Juni 2022 lalu itu sungguh memberi kesan dekat dan bersahabat. Ruang temu antarkomunitas seolah tercipta dengan akrab di hari terakhir festival. Bincang-bincang yang hangat terjadi antara satu komunitas dengan yang lain. Tak jarang, terlontar candaan dan tawa di antara mereka. Nuansa persaudaraan kental terasa di ruang aula kantor Kecamatan Cicalengka sore itu. Hadir di sana para pegiat komunitas literasi dari Taman Baca Masyarakat (TBM), komunitas musik, lawakan tunggal (stand up comedy), seni, dan kopi. Suasana di aula Kecamatan Cicalengka kala itu lebih seperti ruang tamu dan ruang temu bagi kawan-kawan yang sudah lama tak berjumpa.

Melihat suasana tersebut saya merasa bahwa ini bukan sekadar gelaran buku melainkan sebuah penanda atas perlunya wadah yang menampung komunitas-komunitas kreatif pemuda, khususnya Cicalengka. Selain itu, pertemuan di hari terakhir tersebut menandakan adanya soliditas serta lahirnya cita-cita kolektif. Rasa persaudaraan jadi hal potensial yang menutup Pasar Biru 2 dengan kesan baik. Di samping semua tanda positif yang hadir, lahir pula pertanyaan-pertanyaan mengenai akan dibawa ke arah mana gelaran intelektual bernama Pasar Biru ini?

Analisis kebutuhan

Yang selanjutnya menjadi pekerjaan rumah adalah mengasah kemampuan menganalisis. Setidaknya, ini adalah catatan sederhana saya sebagai ketua pelaksana hajat literasi Pasar Biru 2 di Cicalengka.

Hal pertama yang mesti dipertimbangkan adalah kecenderungan masyarakat tempat diadakannya Pasar Biru. Perlu rasanya menelaah lebih dalam kebiasaan hingga karakter masyarakatnya. Tak ayal, hal tersebut penting dipertimbangkan sebab penyelenggara mesti mengenali target pasar di lokasi. Penyelenggara pun mesti menelaah kearifan lokal apa yang ada di daerah tersebut. Berupaya menjadi dekat dengan masyarakat jauh sebelum gelaran literasi dilaksanakan rasanya perlu dijalankan agar Pasar Biru menjadi hajat bersama. Ada emosi yang terbangun dan rasa kepemilikan yang lahir kemudian. Namun tak hanya itu, perlu kiranya penyelenggara melihat tantangan yang akan dihadapi di lapangan. Sebagai contoh, hal-hal administratif mesti rapi dan terdokumentasi dengan baik guna mengantisipasi pihak-pihak yang tak mendukung.

Dalam konteks Pasar Biru Cicalengka, emosi dan kedekatan telah terjalin jauh sebelum gelaran acara. Komunitas-komunitas yang ada di Cicalengka sejatinya adalah kawan-kawan yang telah terhubung satu sama lain. Mereka adalah komunitas yang telah lebih sering berkolaborasi dan berkarya bersama. Dengan demikian, ketika Pasar biru 2 digelar, mereka dengan mudah terhubung dan bergabung. Hal ini cukup menguntungkan bagi kami.

Tetap jadi benang yang menjalin jejaring

“Akang kayak lihat diri Akang 15 tahun yang lalu, saat jadi aktivis bersama teman-teman komunitas lainnya di Cicalengka” Ujar Bob Ujo, seorang budayawan Cicalengka di sela obrolan di Pasar Biru Cicalengka. Lelaki yang biasa disapa Kang Bob itu menceritakan pengalamannya saat aktif menggelar teater remaja di Gedung Nasional Cicalengka serta menggelar acara musik dan puisi di Aula Kantor Kecamatan Cicalengka pada tahun 2000-an. Sesuatu yang kini perlahan redup di tempat kelahirannya. Ia pun menceritakan beberapa pengunjung senior yang datang di Pasar Biru Cicalengka kala itu adalah rekan-rekannya. Ia dan rekannya seperti menemui diri mereka kembali di masa muda.

Kisah Kang Bob adalah sepenggal kisah yang membangkitkan memori nostalgia. Dari kisahnya, diketahui bahwa sebenarnya sudah sejak lama geliat gerakan kepemudaan berlangsung di Cicalengka. Namun waktu dan zaman terus berubah. Ada kalanya gerakan tersebut meredup. Keuntungan yang kami dapat dari Pasar Biru 2 di Cicalengka adalah titik-titik jejaring yang sebenarnya telah terjalin. Tugas kami selanjutnya adalah menghubungkan satu titik dengan titik yang lainnya. Lebih jauh, kembali memantik gerakan serupa di waktu yang berbeda.

Meskipun demikian, hal ini juga menjadi sebuah refleksi tersendiri di kemudian hari. Membangun jejaring dengan banyak kawan komunitas serta pihak-pihak pendukung lainnya rupanya mesti dilakukan jauh sebelum hajat literasi itu sendiri. Kami, mesti menjadi benang yang terus menerus menjalin kekerabatan dan membangun kepercayaan. Hal paling mahal dari sebuah gelaran apapun nyatanya adalah kepercayaan.

Penguatan manusia

Selepas Pasar Biru 2 terselenggara, pertanyaan lain pun muncul, “Apalagi setelah ini?”. Rupanya, ada kekhawatiran bahwa hajat literasi seperti Pasar Biru pada akhirnya jadi acara seremonial yang dilaksanakan semata formalitas. Ada kecemasan bahwa acara ini sekadar perayaan (festive) yang ibarat kembang api; ingar-bingar ketika meledak lalu kembali ke ketiadaan. Semestinya, Pasar Biru bisa dilihat sebagai dua hal: pantikan untuk gerakan-gerakan literasi masyarakat selanjutnya atau perayaan atas semua gerakan sederhana yang telah dilakukan.

Sebagai pantikan, Pasar Biru bisa jadi alasan dan landasan terselenggaranya kegiatan lanjutan. Diskusi demi diskusi, pertemuan berbagai komunitas, dan hal-hal kolektif lainnya. Komunitas yang hadir dan terlibat di Pasar Biru 2 sebaiknya dilibatkan dalam setiap kegiatan yang kelak akan diselenggarakan selepas Pasar Biru. Hal tersebut tak lain untuk tetap menjaga komunikasi dan hubungan baik dengan sesama komunitas. Selain itu, Pasat Biru bisa juga dipandang dengan pola terbalik yakni sebagai perayaan sederhana atas semua gerakan literasi yang telah berlangsung. Artinya, perlu ada banyak gerakan sederhana namun berkesinambungan dari semua komunitas di Cicalengka. Gerakan tersebut tak perlu berskala besar juga tak perlu berupa kegiatan yang rumit. Kegiatan seperti membaca bersama di bawah pohon di Alun-alun Cicalengka, misalnya, sangat layak dilakukan. Setelah kegiatan demi kegiatan dilakukan, barulah digelar puncak acara bernama Pasar Biru. Dengan skema itu, Pasar Biru menjadi rangkaian dari kegiatan yang telah lebih dulu dilakukan kawan-kawan komunitas. Hal ini juga bisa membuat Pasar Biru benar-benar menjadi wadah potensi pemuda serta gerakan-gerakan kolektif di bidang literasi.

“Kerja belum selesai, belum apa-apa!”. Demikian kiranya nukilan sajak Chairil Anwar berjudul Krawang-Bekasi. Benar adanya bahwa kerja literasi semacam ini tak akan pernah bisa dianggap selesai begitu saja. Perlu kerja yang cerdas juga keras untuk terus menghidupkan kobarnya. Namun, bukan berarti hal tersebut tak bisa dilakukan.

 

Editor: Hafidz Azhar

Picture of Nurul Maria Sisilia

Nurul Maria Sisilia

Pengajar. Aktif di Lingkar Literasi Cicalengka.