Dewa Kipas dan Dewa-Dewa Lainnya di Jagad Maya

 

 

Ini hebat sekali, bahkan cenderung dahsyat! Ada bukti bahwa nasionalisme dan kolektivitas di era global itu masih bisa dibangkitkan dari kuburnya.

 


Sewaktu saya mendengar nama Dewa Kipas, saya pikir dia adalah salah satu jagoan silat di cerita Wiro Sableng, sejajaran dengan nama-nama seperti Dewa Tuak, Dewi Bunga Mayat, Ranaweleng, Si Tua Gila dan Pangeran Matahari. Bastian Tito, sang pengarang Wiro Sableng, memusatkan rangkaian ceritanya pada perebutan dua benda, yaitu Kitab Wasiat Dewa dan Kitab Wasiat Iblis.

Wiro Sableng mendapatkan Kitab Wasiat Dewa, sementara Pangeran Matahari mendapatkan Kitab Wasiat Iblis. Begitu melegendanya kisah petualangan si Jagoan Kapak Naga Geni 212 ini hingga akhirnya belakangan pun di alih wahana menjadi film layar lebar yang di sutradarai Angga Sasongko.

Maaf, sudah bercerita panjang lebar di awal tulisan meski tidak berhubungan langsung dengan Dewa Kipas yang sedang ramai jadi perbincangan di jagad maya. Setidak-tidaknya begini, Dewa Kipas dan dewa-dewa lainnya di cerita Wiro Sableng adalah tokoh rekaan yang dibuat untuk menceritakan peran tertentu dengan misi tertentu. Dewa Kipas ini adalah nama identitas alter bagi Dadang Subur, seorang pecatur yang mewakili dirinya sendiri, bukan atas nama Indonesia, di situs kompetisi daring catur bernama chess.com.

Sosok Dewa Kipas alias Dadang Subur ini kemudian melejit di jagad maya setelah dia dianggap curang melawan GothamChess. Tuduhan itu kemudian memicu kehebohan di luar papan, antara fans GothamChess dan Netijen Indonesia. Dan seperti yang sudah terbiasa terjadi di jagad maya kita, maka perseteruan pun melibatkan berbagai ragam netijen yang bisa jadi juga tidak tahu menahu soal Dewa Kipas vs Gotham Chess, intinya mereka terluka ketika salah satu anggota dari bangsanya dilukai.

Ini hebat sekali, bahkan cenderung dahsyat! Ada bukti bahwa nasionalisme dan kolektivitas di era global itu masih bisa dibangkitkan dari kuburnya. Tapi, lagi-lagi seperti sudah jamak terjadi, setelah bersatu kemudian kembali terbelah, chess.com mulai menampilkan data-data yang mengindikasikan kecurangan, terlihat dari akurasi langkah dari Dewa Kipas yang menembus 90% dalam pertandingan berdurasi 10 menit, hingga berujung pada kekalahan dari GothamChess di langkah ke 35.

PERCASI (Persatuan Catur Indonesia) pun ikut urun rembuk, mustahil katanya, bahkan Grand Master sekalipun bisa memiliki akurasi langkah sebaik itu. Ada juga Irene Sukandar, salah satu Grand Master Indonesia yang ikut memberikan surat tantangan di instagramnya, mengajak Dewa Kipas untuk bertanding catur secara terbuka. Dalam suratnya, Irene mengatakan bahwa keriuhan Dewa Kipas sudah merugikan banyak pihak dan tidak sebanding dengan prestasi koleganya yang dengan susah payah membangun citra positif catur di tanah air. Cari saja akun instagram Irene Sukandar, dan amati kolom komentarnya, maka niscaya anda bisa lebih memahami keriuhan khas netijen Indonesia.

 
Bagi saya yang awam soal catur ini, bahkan seringkali takut bila ditantang bermain catur, beranggapan bahwa olahraga catur tidak akan pernah bisa seriuh sepakbola, apalagi membayangkan keriuhan di luar papan caturnya bisa sebegini rupa. Kalau kita anggap ini sebagai pertanda baik, ya bisa jadi, setidaknya bagi Indonesia yang seringkali ingin terlibat di kancah “percaturan” dunia. Apalagi setelah Wiro Sableng dan dewa-dewa lainnya sudah membuka jalan untuk Indonesia di mata internasional. ***
 
Kedai Jante, 16 Maret 2021.
 
FITRA SUJAWOTO | KOLOMNIS
 
Ilustrasi: Adam Rizki Taufiq
Picture of Redaksi

Redaksi