Wibi menuturkan pengalamannya saat dia ikut mabuk dengan orang-orang Dayak karena dia ingin tahu mabuk itu menurut orang Dayak itu seperti apa.
Pada sore hari sekitar pukul 17.30, kami berkumpul di kedai kopi Jante. Pemilik kedai kopi itu adalah seorang fotografer yang akrab disapa dengan panggilan mas Jawot. Kami duduk tidak beraturan di sebuah meja panjang. Saya, Dr Hawe Setiawan, Tata Kartasudjana dan mas Jawot mendengarkan asupan nutrisi baru dari Wibisono Tegar Putra, seorang antropolog.
Perbicangan sore itu bertujuan untuk meningkatkan kualitas dari proses penelitian, yang nantinya akan diaplikasikan menjadi sebuah karya tulis serta media audiovisual. Etnografi berasal dari dua suku kata ethnos dan graphen. Ethnos berarti suku bangsa dan graphen itu tulisan. Sederhananya etnografi itu adalah tulisan mengenai suatu suku bangsa yang kemudian bisa diartikan sebagai deskripsi tentang manusia dan kebudayaan. Pada jaman Hindia-Belanda, tiap pekerja administrator kolonial yang datang ke Indonesia, dibekali dengan etnografi. Di masa kolonial, seorang antropolog dianggap lebih tahu dari masyarakat itu sendiri.
Pada era Hindia-Belanda para administrator ini akan meninggalkan memo, yang menjadi referensi untuk administrator selanjutnya. Dari memo itu bisa diketahui adanya dinamika kebudayaan dari masyarakat, serta tata ruang dan lingkungan yang ada di masyarakat. Lalu, apa bedanya dengan etnografi dengan observasi biasa? Observasi disini bukan hanya melihat, tapi lebih memanfaatkan seluruh panca indra yang kita miliki. Seorang antropolog bahkan bisa memanfaatkan indra penciumannya untuk mendeskripsikan bau-bauan secara detil. Sehingga manusia dan kebudayaan dijadikan sebuah teks yang bisa kita baca. Bahkan tekstur dari sebuah benda yang kita raba, rasa dan aroma dari makanan yang kita cicipi, dapat dilihat sebagai teks.
Kita bisa memisahkan etnografi menjadi dua bagian, yaitu etnografi sebagai luaran dan etnografi sebagai metode. Etnografi sebagai luaran akan menghasilkan teks deskriptif tentang manusia dan kebudayaanya. Sementara etnografi sebagai metode akan erat sekali kaitannya dengan pengumpulan data. Yang paling sederhana, etnografi sebagai metode bisa dilakukan melalui observasi, wawancara, dan studi pustaka.



