Eulis Titi, Cintamu Abadi

 

Kini, ketika industri romansa sedang diramaikan oleh pentas serial “Ikatan Cinta”, “Wedding Arrangement”, dan semacamnya, saya mendapat kesan bahwa warisan S. Sukandar turut membentuk tradisinya. Platform berubah, cinta tak pernah berakhir.

 

Ada “roman Sunda” yang umurnya setua diri saya. Mohon ampun, saya baru sempat membacanya setelah umur saya menua. Waktunya mungkin kurang tepat, sebab roman itu sepertinya telah menghilang dari ingatan bersama. Apa boleh buat.

Untung ada Perpustakaan Ajip Rosidi. Di situlah, selagi sepi di akhir Mei, saya membaca Eulis Titi karya S. Sukandar (Tjaringin, Bandung, 1968). Roman berukuran A6 ini terdiri atas 12 jilid, dengan masing-masing jilid setipis 52 halaman. Satu jilid bisa dibagi ke dalam 4 bagian cerita — kiranya seraya mengantisipasi kemungkinan dijadikan serial “dongéng radio”. Total jenderal, serial ini mencakup 36 bagian. Gambar jilid dan ilustrasinya — yang disebut “hiasan gambar”— adalah karya Taufiq R.

Sebetulnya, pada rak buku ada sejumlah bundel roman lainnya karya pengarang produktif yang antara lain beken dengan karyanya serial Gumilar. Dan di benak saya masih ada ingatan akan pemandangan di awal tahun 2000-an: beberapa karung goni berisi naskah dan buku karya pengarang yang satu ini, teronggok di sekitar mesin bubut, di pojokan Bandung, tempat salah satu turunannya bekerja.

Pilihan saya sendiri antara lain dipengaruhi oleh judul cerita. Sebutan eulis, sebagaimana euis, merupakan hasil kontraksi dari geulis, yang secara harfiah berarti “cantik”. Sebutan eulis, sebagaimana enung, pada zamannya biasa dipakai sebagai panggilan kesayangan untuk anak perempuan. Dalam perkembangannya, kedua sebutan tersebut biasa juga dijadikan nama diri.

Sekarang sih, entah kenapa, nama Eulis, Euis, atau Enung sepertinya cenderung tidak dipakai lagi sebagai nama anak perempuan dari lingkungan masyarakat Sunda. Istri teman saya, Mang Dado, bernama Euis, dan saya selalu bilang bahwa dia mungkin Euis terakhir di Tatar Sunda sebagaimana istri saya mungkin akan jadi Teti akhir zaman.

Ada pula alasan lain saya tertarik membaca roman Sunda yang satu ini. Ini dia: ada satu tokoh cerita di sini, kakak kandung Eulis Titi, yang dikenal sebagai Komisaris Wawan dan beristrikan Jetti.

Penulisan dan penerbitan roman ini tidak sekaligus. Publikasi fiksi toh tidak harus seperti pemesanan nasi bungkus atau penerbitan undang-undang omnibus. Ada kalanya pembaca diharap menunggu sambungan cerita, misalnya sewaktu jilid 2 sudah rampung sedangkan jilid 3 masih harus ditunggu. Jika jilid 1-2 diproduksi sekitar Juni-Juli 1968, Jilid ke-12 rampung dikarang pada 30 Oktober 1968 — sebulan sebelum saya lahir ke planet yang penuh sesak ini.

Percetakan dan penerbit buku Tjaringin beralamat di Jl. Sasakgantung No. 110 A/17 D Bandung. Pada dasawarsa 1960-an roman populer ini dapat dibeli di Toko Buku “Suka Asih” di Jl. Dewi Sartika No 1 H Bandung, Toko Buku “Cosmos” di Jl. A.B.C. No. 41 Bandung, Kios “Ampera” M. Suman di Cikapundung Timur, Bandung, juga Toko Buku “Nasution” di Alun-alun Timur 1 Cimahi. Bisa juga orang waktu itu datang ke Taman Bacaan “Umum” pimpinan M. Adjid di Hujung, Ciparay. Sekarang percetakan dan toko-toko buku tersebut telah tiada.

Kisahnya selaras dengan genre-nya dong. Temanya berkaitan dengan cinta. Dalam kisah ini, kita mendapatkan, misalnya, adegan pacaran yang kini terasa antik: bertukar mawar sebagai tanda janji kasih abadi.

Apa yang terjadi ketika kakak beradik beda ibu, Djuhana dan Sudradjat, mencintai perempuan yang sama, Eulis Titi, tokoh utama kisah ini? Apa sesungguhnya yang turut melandasi harapan orang tua sang gadis, Juragan Sastra dan Nyi Mas Jule, agar anak gadisnya segera mendapat suami?

Kisah ini berlatarkan lingkungan keluarga kalangan ménak di Bandung, tepatnya di Kampung Cigembreng, Soreang, dengan sebuah rumah yang dikasih nama Karang Cengis. Latar novel juga melingkupi wilayah seputaran Bandung, misalnya Bojong, Kopo, Cibiru, Pangipasan, dll. Selain wilayah Bandung dan sekitarnya, Jakarta pun tercakup dalam latar cerita.

Untuk mendapat gambaran latar sosial budayanya, dapat dicatat bahwa tokoh-tokoh cerita ini hindup tatkala masyarakat kota masih menikmati pentas “Sandiwara” (semacam panggung teater dewasa ini), naik mobil sedan Nash atau menumpang oplet atau naik beca, dan di Bandung masih ada bioskop Oriental dan konon ada pula Perkebunan Sperata.

Dalam buku ini masih dikenal ungkapan ngahelaran yang berarti “berkunjungnya (seorang pria) ke sebuah tempat dengan harapan barangkali mendapat calon istri”. Contohnya terdapat dalam jilid pertama: “Geuningan aya sababaraha urang anu sok ngahelaran ka dieu (nyata betul ada beberapa orang yang suka datang berkunjung ke sini)”.

Dalam kisah ini orang tua pada dasarnya tidak memaksa anak gadis menikah dengan pria tertentu. Keputusan akhir ada di tangan sang anak sendiri. Syaratnya: calon suami harus “babad kénéh jeung urang” atau “sawaja”, artinya berlevel sama atau setara. Namun, justru dalam soal level itulah kisah cinta Sudrajat dan Titi jadi kompleks.

Dalam kisah ini dapat kita lihat bagaimana poligami di kalangan aristokrasi Sunda menimbulkan masalah dalam pembagian warisan di antara para keturunannya? Dapat juga kita simak bagaimana kepentingan menjaga status sosial dan kemapanan material di kalangan sosial yang satu ini turut mempengaruhi lembaga pernikahan? Adapun perubahan sosial politik dasawarsa 1940-an dan 1950-an, yang memaksa banyak warga sipil mengungsi ke tempat-tempat yang dirasakan aman seperti Gambung di sekitar Bandung, turut pula melatari riwayat sebagian tokoh cerita ini.

Pukul-pukulan tak dapat dilewatkan. Adegan silat rupanya jadi bagian dari daya tariknya. Lagi pula S. Sukandar adalah salah seorang pengarang yang piawai mendeskripsikan adegan laga dalam cerita. Sebut misalnya adegan perkelahian Sudrajat melawan dua orang suruhan Juhana yang cemburu di sebuah kuburan pada malam Sudrajat pulang apel.

Begini contoh detailnya: “Si jangkung sebrut deui ngarontok ti hareup, sedeng si pendék ngagabrug ti tukang, tapi Sudrajat anu geus meunang warahan ti guruna Mang Opé geuwat nyingcet ka gigir bari nyentok sarungna si jangkung ku leungeun kénca sedeng leungeun katuhuna nyentok sarung si pendék, atuh teu antaparah deui bro baé diadu tarangna jeung pada batur.”

Dengan jalan cerita yang bercabang dan beranting, kisah ini akan berujung pada semacam reuni. Saudara-saudara kandung yang tadinya tercerai berai, entah karena guncangan sosial politik entah pula karena lemahnya dokumentasi, pada gilirannya akan berkumpul kembali. Adapun si jahat yang kerjanya main pukul, demi keuntungan material yang tak seberapa, niscaya tak pernah bahagia. Sejumlah faktor kebetulan, sebagaimana dalam hidup itu sendiri, turut pula memainkan peranan.

Kini, ketika industri romansa sedang diramaikan oleh pentas serial “Ikatan Cinta”, “Wedding Arrangement”, dan semacamnya, saya mendapat kesan bahwa warisan S. Sukandar turut membentuk tradisinya. Platform berubah, cinta tak pernah berakhir. Syukur alhamdulillah, di usia yang menua saya masih sempat mengikuti kisah cinta kalangan muda.***

 
HAWE SETIAWAN | KOLUMNIS & DOSEN DKV FISS UNPAS
Picture of Redaksi

Redaksi