Zaman budak leutik dulu, saya tinggal di daerah Caringin, area Bandung Selatan. Bukan pusat kota, juga bukan pedesaan. Kamu boleh bilang Caringin sebagai area urban pinggiran. Dan zaman budak leutik dulu, saya selalu berpikir kalau semua yang terjadi di alam semesta ini, serbakebetulan. Si Ipul dan Si Dewi berpapasan di jalan tanpa ada pretensi apa-apa, dua puluh kali interaksi antar manusia per hari tanpa rencana. Ada yang saling menyapa, lalu tersenyum—tulus atau palsu, mereka saling tukar nomor telpon, bahkan ada yang sampai pinjam uang. Tadinya, saya pikir ini semua serba kebetulan, tanpa campur tangan “si Dia” yang punya hak prerogatif atas peristiwa-peristiwa yang terjadi.
Kisah Si Ipul dan Si Dewi dalam dunia manusia, tentu saja terjadi juga dalam dunia ucing, dalam dunia simeut, dunia bakteri, dunia pohon dan buah-buahan. Makhluk-makhluk yang bergerak dan tumbuh, membangun ekosistem keberlanjutan. Kadang mereka terkoneksi untuk satu kepentingan dan pertemuan, seperti desir angin yang menghalau hujan di bulan Juni. Bahkan, dengan setiap gesekan udara dingin dan panas memancing arus listrik ribuan megawatt, pada akhirnya gesekan itu menjadi petir. Apakah fenomena ini termasuk kebetulan? Sebuah hil yang mustahal?
Milyaran peristiwa terjadi dalam sehari, sumpah, waktu budak leutik, saya kira, semua adalah kebetulan belaka. Seperti kepak kupu-kupu di Brazil yang berhubungan dengan badai di Amerika, kamu masih ingat dengan teori kupu-kupu Lorentz?
Entah kenapa segala teori probabilitas ini mengingatkan saya sama buah kersen. Berbahagialah kamu yang tahu seperti apa bentuk buah kersen itu. Karena kersen, buat saya, adalah simbol keberlanjutan (sustainability). Kenapa?
Pohon kersen yang entah siapa menanam, tumbuh begitu saja di pinggir jalan, di belakang sekolah, atau di kebun kosong—dipenuhi alang-alang dan tanaman jenis lain.
Sebentar, setelah besar saya juga baru tahu kalau kersen bukanlah pohon endemik yang hanya tumbuh di Jawa Barat, Muntingia calabura ini adalah tanaman tropis yang berasal dari Amerika Tengah dan Selatan, kemudian menyebar ke banyak daerah tropis di dunia termasuk Indonesia.
Lanjut lagi, ada yang mengatakan kalau kersen itu pohon liar, tumbuh sembarangan, tanpa bapak petani yang repot-repot menggemburkan tanah, menyebar bibit, lalu menyiramnya dengan rajin. Kalau menghubungkannya dengan apa kata filsuf, bahwa tidak ada yang benar-benar ‘sembarangan’ di alam semesta ini, saya percaya dengan itu. Sesuatu yang oleh Aristoteles sebut sebagai causa prima, bahwa segala hal selalu ada penyebab awalnya. Pembuktian bahwa tak ada hal kebetulan, diuji pula oleh Leibniz yang bilang kalau semesta itu punya prinsip sufficient reason—tak ada satu pun hal di muka bumi ini, tanpa alasan yang cukup.
Mungkin pohon kersen juga begitu. Bisa jadi, dulu ada burung kutilang kecil memakan buahnya, terbang melintasi atap rumah saya di Caringin, lalu buang kotoran sembarangan di atas tanah. Kotoran itu menyatu dengan tanah, lalu tumbuhlah buah kersen yang kini saya kenang. Bukankah itu fenomena probabilitas? Sebuah jejaring sebab-akibat samar, yang kadang tak kita perhatikan. Manusia itu sering menyebut kebetulan hanya karena kita tak tahu rantai penyebabnya. Semua ini bukan kebetulan, tapi sekadar keterbatasan kita untuk memahami skema besar alam semesta.
Buah kersen mengingatkan saya pada pelajaran kecil tentang kehidupan: bahwa yang tumbuh itu bukan selalu yang kita tanam dengan sengaja. Kadang justru yang kita anggap remeh seperti sebuah biji yang kita buang sembarang, dimakan burung lalu jadi kotoran, lantas tumbuh menjadi pohon rindang. Pada akhirnya pohon itu menjadi tempat kita bernaung, atau jadi penampang ayun-ayunan buatan almarhum Bapak.
Buah kersen yang sudah jarang itu, adalah pengingat kalau hal-hal liar serupa gulma juga punya manfaat keberlanjutan. Apalagi di zaman seperti sekarang saat kita sibuk mengejar hal-hal besar, hingga kita tak memperhatikan detail dan proses. Jadi kalau kamu lihat pohon kersen di pinggir jalan, jangan lupa bilang alhamdulillah, karena bisa jadi kamu sedang memahami proses berlangsungnya kehidupan yang penuh filosofi.
Sayangnya, dengan adanya pergeseran pola pemanfaatan lahan, pohon kersen banyak menghilang. Seiring perkembangan dan perluasan area kota, banyak lahan kosong yang beralih fungsi menjadi bangunan beton, fasilitas jalan, atau pemukiman padat penduduk. Ruang untuk pohon-pohon liar seperti kersen semakin terbatas.
Kalau dulu, banyak pekarangan belakang rumah bertanah gembur, tempat anak-anak bisa main rerebonan, gatrik, ucing sumput, atau main langlayangan. Sekarang, pekarangan berubah fungsi menjadi garasi, taman minimalis yang rapi tapi steril dari tetumbuhan, atau deretan paving block yang dibangun atas nama estetika.
Pergeseran ini bisa jadi bukan cuma soal fisik. Ini tentang bagaimana kita memandang alam, sebagai sebuah kebahagiaan sederhana. Buah kersen adalah representasi dari kehidupan yang tumbuh serampangan, tanpa pretensi, cukup dengan sepetak tanah gembur sehat dan sorot sinar matahari. Kersen adalah simbol kehidupan yang tidak melulu harus dibuat masterplan-nya, yang melulu mencipta ruang estetika komersial.
Bukankah hidup ini, seperti teori Lorentz bilang adalah tentang rantai sebab-akibat yang tak selalu kita pahami?
Kersen, dalam segala kesederhanaannya adalah simbol teori Lorentz dalam wujud paling nyata di halaman rumah. Ia adalah kepak sayap kupu-kupu di semesta kehidupan kita. Sebuah kebetulan yang sebenarnya bukan kebetulan, melainkan bagian dari skema besar semesta yang mengingatkan kita bahwa: kadang yang kita butuh bukan menanam, tapi memberi ruang bagi yang ingin tumbuh.
Jadi kalau sekarang kita jarang melihat pohon kersen karena ruang-ruang kosong sudah dipapas jadi bangunan, pertanyaannya adalah: apa yang sedang terjadi dengan alam semesta ini? Apakah kita terlalu sibuk menata, sampai lupa memberi ruang untuk sesuatu yang tumbuh liar, tak terduga, dan sesederhana pohon kersen? Mungkin kita sedang mencabut satu per satu sayap kupu-kupu kecil, yang dulu diam-diam menenun kehidupan kita—dan tanpa sadar, kita sedang kehilangan makna kehidupan.
Editor: Hafidz Azhar



