Fotografi tidak lahir diruang hampa, lahirnya fotografi mengundang banyak perdebatan bahkan penolakan, fotografi saat ini sudah berkembang pesat bukan hanya gear.
Berak! Pada konteks ini untuk yang ngerti-ngerti saja, bagi yang masih berdebat soal gear, urungkan niat untuk baca tulisan ini. Fotografi tidak lahir diruang hampa, lahirnya fotografi mengundang banyak perdebatan bahkan penolakan, fotografi saat ini sudah berkembang pesat bukan hanya gear, malah fotografi saat ini di era artificial intelligent (AI) diperbincangkan dengan wacana post truth. Kalau soal gear baca saja manual book, tentukan sesuai kepribadian. Kalau masih belum nemu? baiknya ikut kelas kepribadian dulu sebelum beli kamera.
Di era AI, kemungkinan kita terkoneksi dengan referensi dan literatur untuk memperkaya kekaryaan sangat terbuka lebar. Malah dengan referensi dan literatur kita bisa menakar kapasitas berfikir “abang-abangan” kita yang suka memberikan “fatwa” bahwa fotografi seakan absolut pada ideologi atau metode tertentu, yang lain salah. Macam betul dan suka mengatur selera, ingat fotografi bukan ormas. Pemahaman teknik dasar, referensi visual, literatur kebudayaan dan ditambah jejaring komunitas adalah modal kita hidup dari fotografi. Percaya saja pada kemampuan diri sendiri dalam mengunyah berbagai informasi bukan hanya dari satu sumber.
Untuk menjadi fotografer sudah tidak lagi “eksklusif”, saat ini semua bisa menjadi sekedar fotografer. Cara memotret pun sudah beragam, ada yang motret mengunakan google map atau mungkin bisa menggunakan pendekatan crypto art. Maka merespon peradaban hari ini dengan seakan-akan selesai dengan “kertas ajaib” adalah kemunafikan sebuah lembaga yang mengatasnamakan kemaslahatan. Dengan tujuan hanya sekedar untuk membedakan mana fotografer professional dan warga yang suka motret. Fotografi adalah ilmu yang “terbuka”, semua punya kesempatan yang sama untuk menjadi “fotografer professional” apalagi pada era AI, Selembar “kertas ajaib” tidak cukup untuk menasbihkan bahwa anda fotografer profesional, apalagi yang digandrungi kalayak.
Selalu beradaptasi dan juga bisa melihat lebih jauh mungkin bisa menjadi formula dalam berkarya. Fotografer profesional pada hakikatnya adalah persona yang dengan sadar atau tidak berpesan dalam menumbuhkan ekosistem fotografi. Secara umum ekosistem fotografi dibagi menjadi tiga hal, produksi, distribusi dan konsumsi. Tiga hal tersebut sudah dilakukan oleh seorang fotografer, apalagi kalo sudah dikatakan professional.
Akan tetapi, ada perbedaan paradigma diantara fotografer dengan lembaga-lembaga terkait, dalam mendefinisikan apa itu fotografer yang “profesional”. Profesional yang diartikan oleh lembaga dan aparatur tersebut bahwa kerangka fotografi selesai dengan “kertas ajaib”. Dengan alibi berbagai hal, seperti ekonomi terbuka dll. Mungkin “kertas ajaib” tersebut hanya dibutuhkan dalam pemetaan statistik untuk memenuhi target Key Performance Indicator (KPI), maka untuk menjadi fotografer professional harus di uji dengan perangkat tertentu untuk menghasilkan “kertas ajaib”, sebagai modal hidup dijaman ekonomi terbuka. Padahal bukan hanya itu, untuk menjadi fotografer profesional dibutuhkan pengakuan secara kekaryaan baik dari khalayak, kurator, kritikus, galeri, museum dan media massa. Maka yang dibutuhkan adalah kerja-kerja nyata dalam membangun ekosistem, bukan hanya pelatihan-pelatihan serimonial yang diselengarakan di hotel berbintang, dengan tema “kiat sukses menjadi saudagar foto”.
Maka dengan itu, dibutuhkan daya kritis dalam memahami konteks jaman. Untuk menjawantahkan ekosistem fotografi secara sederhana adalah bagaimana memahami konteks produksi fotografi. Produksi yang dimaksud bukan hanya kegiatan jasa memotret berbagai aliran foto, tetapi lebih banyak lagi seperti halnya pendidikan, aktivitas ekonomi diluar jasa dll. Konteks produksi tersebut harus terkoneksi dengan pola distribusi, seperti halnya marketplace, komunitas, galeri, museum dll. Dan yang terakhir adalah membaca pola konsumsi kalayak, pada titik ini kalayak tidak hanya dipahami sebagai penguna jasa foto atau pembeli karya foto. Tetapi lebih jauh dari itu, bagaimana lembaga terebut mampu membaca tren dan sekaligus memberikan edukasi tertentu dalam bentuk literatur, festival dll agar supaya khalayak memahami konteks fotografi dengan baik. Tujuannya jelas adalah bagaimana fotografer percaya terhadap mediumnya.
Era AI, post truth dan hadirnya pandemi menantang fotografer beradaptasi dan berinovasi, mungkin salah satunya fotogarfer harus memiliki “kertas ajaib”. Tetapi, hal tersebut bukan jalan sapu jagat! Berkontrubusi untuk menumbuhkan ekosistem fotografi dengan demokratis, mungkin menjadi salah satu jalan ninja. Sebagai contoh, dari perbincangan “kertas ajaib” yang belum menemukan titik temu, jaman sudah menemukan hal baru. Saat ini fotografer bisa berjarya dengan metode Non-Fungible Token (NFT), sistem blockchain dan crypto art. Pada laman daring theverge.com Edward Snowden menjual karya fotonya dengan dilelang pada angaka US$ 5,4 Juta atau sekitar 78 miliar. Maka dari itu, kebutuhan dalam ranah fotografi saat ini bukan hanya selembar “kertas ajaib”, tetapi bagaimana sebuah karya foto bisa dijual di marketplace seperti di Superrare, Nifty Gateway, dll. Dan bisa dipastikan untuk menjadi anggota di marketplace tersebut tidak dibutuhkan “kertas ajaib” tetapi trek rekor dan karya foto yang ciamik.***




