Hanya Wacana, Kapan Jadi Nyata?

Pada masanya, orang haus akan informasi yang lengkap dan benar,
pada masa itu sebuah berita tidak langsung turun dengan sendirinya dalam sebuah kecepatan kilat.

Awal kenalan dengan sebuah website yang isinya tulisan-tulisan bernas, renyah dan menggugah ini adalah ketidaksengajaan, seorang teman yang dikenal sebagai seorang pelatih beladiri meminta saya mengecek situs yang dari namanya mengundang banyak tanya, apakah nama itu benar atau memang hanya wacana saja? Ternyata benar adanya, situs tersebut bernama hanyawacana.com. sekilas saya tidak antusias, namun tetap mengingat peristiwa tersebut sebagai tonggak bersejarah, mengingat selama ini saya belum menemukan lagi portal berita yang isinya mudah dicerna dan berisi, setelah dua portal lain yang saya pun cukup jarang membukanya namun isinya selalu membayang.

Menilik dari kata hanya wacana, sangat menarik bagi saya yang mengenal kata wacana sebagai kata yang cenderung berkonotasi hampa, sesuatu yang belum tentu dilakukan walau sering diucapkan. Orang-orang disekitar saya selalu mengatakan ‘hanya wacana saja’ ketika mereka mendengar sesuatu yang disampaikan secara berapi-api, berisi idealisme yang canggih, tak terjangkau oleh pendengar dan berada dilangit namun sejatinya itu hanyalah khayalan belaka karena kenyataanya apa yang diucapkan tidak sesuai dengan apa yang dilakukan.

 
Secara Bahasa, wacana yang diambil dari Bahasa Sansekerta Wac, Wak,Vak, yang artinya adalah ‘berkata’ dan mendapat akhiran ‘ana’ dengan tujuan membendakan kata tersebut. Dari segi posisi, kata wacana menempati salah satu posisi klasemen tertinggi pada strata kebahasaan, menurut Kinneavy dalam salah satu tulisannya menyebutkan bahwa wacana itu pada umumnya adalah teks yang lengkap yang disampaikan baik dalam bentuk lisan maupun tulisan yang tersusun oleh kalimat berkaitan, tidak selalu harus menampilkan isi yang koheren secara rasional, dan dapat diarahkan menjadi satu tujuan bahasa atau mengacu pada satu jenis kenyataan.
 

Dalam praktiknya, wacana adalah sebuah proses komunikasi yang terjadi antara penyapa dan ‘yang disapa’ bila itu berupa lisan, dan ungkapan ide dari seorang penulis untuk pembaca bila itu berupa tulisan.

Memang tidak akan habis ditulis bila kita terus membicarakannya,  wacana itu memiliki pengertian, ciri-ciri dan seterusnya yang seharusnya dapat membuat penutur atau penulisnya berhati-hati sebelum berucap atau menuliskan ide dan gagasannya menjadi sebuah wacana bila tidak ingin pada akhirnya menjerumuskan audiensnya pada satu jebakan betmen yang merugikan alih-alih memberi asupan tulisan bergizi yang dapat membangkitkan naluri ‘ke-éling-an’ seorang manusia yang pada hakikatnya dibekali dua telinga untuk mendengar dan satu mulut untuk bicara, dua tangan untuk bekerja dan sepuluh jari untuk mengetik.

Pada masanya, orang haus akan informasi yang lengkap dan benar, pada masa itu sebuah berita tidak langsung turun dengan sendirinya dalam sebuah kecepatan kilat, bukankah kitab Al-Qur’an diturunkan tidak dalam satu masa walau pada hakikatnya semua turun pada satu waktu namun disebar kemudian sesuai dengan peristiwa yang dilalui? Wallahua’lambissawab. Bila saya salah dalam hal ini dikarenakan ketidaktahuan saya pada banyak hal namun demikianlah yang saya pahami.

 

Apa kaitan hal tersebut diatas dengan hanyawacana.com? Pada masa kini informasi riuh diberbagai media, menggelontorkan apapun yang ada tanpa melewati saringan teh yang memang tidak terlalu kuat untuk menyaring serbuk sehingga masih ada serbuk teh yang terbawa, mudah-mudahan tembusan serbuk tersebut adalah sebuah tembusan yang baik adanya, bukan sebuah tembusan yang destruktif.

Kemampuan manusia untuk mendengar lebih besar daripada kemampuannya untuk berbicara, dua tangan tidak akan sanggup menulis bila tidak ada sepuluh jari. Lalu apakah kemampuan spesial ini digunakan sebagaimana mestinya? Entahlah, silahkan kita masing-masing menilai sejauh mana kemampuan kita mendengar, menyaring, mengolah untuk kemudian menumpahkannya menjadi sebuah wacana yang baik dan benar, sejauh mana kemampuan sepuluh jari kita mengetikkan informasi positif dibanding kemampuan dua jempol menulis status rumpi tetangga yang baru ganti kulkas? Semoga tulisan ini tidak berakhir menjadi sebuah wacana tanpa jadi nyata.

Akhir kata, terima kasih untuk teman, perkenalan dengan hanyawacana.com ini hendaklah membawa sesuatu yang gurih asli tanpa perasa buatan dan pengawet membahayakan, viva hanyawacana.com!

 
T. ZULKARNAIN M | PENULIS LEPAS
 
image: Theopile Bartz
 
Picture of Redaksi

Redaksi