Kalau CCTV sudah melengkapi tiang-tiang lampu merah, patung polisi tentu tidak diperlukan lagi. Biarkan seni patung kembali ke Galeri Sumardja atau ke bengkel Nyoman Nuarta.
CCTV akan merekam segala perbuatanmu, baik yang terpuji maupun yang tercela, dan kamu tidak akan bisa mengelak dari rekaman perbuatanmu sendiri. Mulutmu akan terkunci manakala rekaman CCTV diputar ulang di ruang sidang. Tidak ada selembar pun daun jatuh ke trotoar yang luput dari amatan televisi sirkuit tertutup.
“BIG BROTHER IS WATCHING YOU (HATI-HATI, BUNG BESAR MELIHATMU).” Ya, itu bunyi pengumuman di tiap tempat dalam novel 1984. George Orwell sedang menggambarkan kelamnya rezim totaliter. Hari ini pengumuman serupa berbunyi agak manis: “TOKO INI DILENGKAPI DENGAN CCTV” atau “POLISI MEMASANG KAMERA PENGAWAS DI SEJUMLAH RUAS JALAN”. Walhasil, sosok Bung Besar bersalin wujud jadi kamera kecil.
Namun, ada hal yang kayaknya tidak sempat dibayangkan oleh Mister Orwell. Kini kamera ada di tiap tangan warga negara. Jepret sana jepret sini tak ada habisnya. Di musim tiktok, banyak orang suka goyang-goyang dan menyebarkan video ke berbagai penjuru angin. Produk pengawasan bahkan jadi tontonan. Jaringan televisi menayangkan rekaman CCTV buat menertawakan kekonyolan umat manusia di muka bumi.
Salah satu kesibukan polisi lalu-lintas adalah bikin selfie di persimpangan jalan. Kalau bosan selfie, bisa minta bantuan pengamen memotret penampilan mereka sewaktu bertugas. Mungkin itu bagian dari protokol harian bagi setiap anggota yang selalu siap melayani komandan. Lapor, nDan! Situasi lalin pagi ini kondusif.
Kalau CCTV sudah melengkapi tiang-tiang lampu merah, patung polisi tentu tidak diperlukan lagi. Biarkan seni patung kembali ke Galeri Sumardja atau ke bengkel Nyoman Nuarta. Lagi pula, jangankan patung polisi, bahkan polisi yang berdarah daging pun tidak selalu berhasil menjamin ketertiban di jalan dan kepastian hukum. Dengan CCTV konon bakal terwujud kepastian yang lebih saklek, yakni sistem tagihan. Kata si empunya kebijakan, kalau motor Bapak dan Ibu melanggar lampu merah, tagihan denda pasti segera datang ke rumah.
Robot kamera memang wujud curiga. Dengan itu, orang beranggapan bahwa jalan atau ruang terbuka sejenisnya adalah tempat berlangsungnya pelanggaran dan kejahatan. Namun, netizen yang cerewet tidak pernah lupa pada anggapan lainnya. Pelanggaran dan kejahatan mungkin juga berlangsung di gedung-gedung bertingkat yang tertutup rapat, di ruang-ruang terlindung yang dipeluk hawa sejuk. Itu sebabnya tak sedikit orang mengajukan usul agar CCTV juga dipasang di ruang-ruang anggota parlemen, di bilik-bilik menteri, dan sebagainya.
Sayang sekali, rekaman foto atau video adalah satu hal, sedang hidup tiap orang adalah hal lain. Manis di Instagram mungkin kecut di kamar mandi. Rekaman kejahatan adalah satu hal, sedang keadilan adalah hal lain. Pencuri yang nyolong motor dari tempat kos atau pencoleng yang menjambret kalung di pasar mungkin tertangkap CCTV tapi belum tentu terciduk polisi. Motor kreditan tak kembali, kalung hasil menabung tinggal kenangan. Lapor ke polisi seringkali hanya memenuhi fungsi administrasi.
Saya punya seorang teman, duitnya banyak, orangnya royal. Dia pasang CCTV di sekeliling rumahnya yang mentereng di Bandung. Suatu hari, di sebuah kota di Eropa, dia menunjukkan kepada saya betapa kerennya aplikasi dalam ponselnya yang bisa tersambung dengan jaringan CCTV di rumahnya.
Waktu itu saya tak habis pikir, memangnya dia bisa berbuat apa dari jarak yang begitu jauhnya sekiranya tiba-tiba ada begal, rampok, jurig, kuntilanak, genderuwo, dan sejenisnya tertangkap oleh robot kamera di rumahnya. Baru hari ini terpikir oleh saya anggapan yang agaknya lebih masuk akal. Dengan bantuan robot kamera, mungkin dia sedang mewujudkan semacam sistem Orwellian yang maha tahu dan maha melihat.
Hati-hati, Bung, CCTV melihatmu.***
HAWE SETIAWAN | KOLOMNIS & DOSEN DKV FISS UNPAS




