“Sesungguhnya tak ada kisah picisan seperti si miskin yang jadi kaya dengan berusaha dalam hidup seorang Jeff Bezos dan banyak miliader lainnya.” (Tirto.id)
Entah bagaimana kisah-kisah luar biasa justru banyak terekam di Indonesia. Negeri yang dipenuhi dengan dongeng, meskipun dongeng jangan selalu diartikan negatif. Kisah dongeng juga tentang mimpi, banyak narasi di dalamnya, bahkan mungkin memang pernah terjadi.
Dulu Amerika pernah terserang wabah “American Dream”, tanah baru yang mengundang banyak bangsa untuk berdatangan dan mengadu nasib. Di Indonesia pun begitu, bisa jadi bahkan lebih dari itu, setidak-tidaknya itu yang tergambar di deretan rak toko buku nusantara yang dipenuhi buku tentang cara hidup dan bangkit dari kegagalan.
Cara cepat jadi kaya, 10 langkah menuju sukses atau jurus jitu jadi youtuber, judul-judul itu, bagi saya setidaknya, yang mungkin juga mewakili banyak di antara kita, rasanya tak jauh berbeda dengan kampanye politik menjelang pemilu. Belum lagi berseliwerannya kutipan-kutipan indah nan menggugah di laman medsos kita, rasanya seperti hidup di negeri yang penuh motivasi.
Lalu, ada juga yang bilang negeri ini, saat ini, miskin narasi. Indonesia yang indah ini hilang arah, itu juga katanya. Kita diajak sibuk untuk membayangkan yang jauh di depan, membandingkan dengan yang sudah maju di negeri seberang. Ajakan merayakan perbedaan juga selalu dibarengi dengan harapan untuk menciptakan persatuan, padahal bisa jadi persatuan itu selalu ada tanpa perlu dicipta-ciptakan.
Akhir kata, bolehlah saya menggugat pernyataan Indonesia miskin narasi, sangat mungkin yang mengatakannya gagal merayakan kehidupan sehari-hari dan lebih sibuk merumuskan kemajuan peradaban. Kalau kata Mas Pram yang harus saya ubah sedikit untuk keperluan tulisan ini, maka sebenarnya hidup itu sederhana, yang hebat-hebat itu hanya wacana!
Subang, 12 Februari 2021
FITRA SUJAWOTO | KOLOMNIS
Ilustrasi: Adam Rizki Taufiq




