saya sering mendapat kesan bahwa relief candi adalah ilustrasi bagi teks suci, semacam seni rupa yang berpegangan mesra dengan seni sastra.
Dari seorang pelapak buku loakan di Jalan Dewi Sartika, Bandung, sekian tahun lalu, saya mendapatkan sebuah buku saku. Buku berukuran A6 ini bersampul hijau dengan tulisan kuning, dan tebalnya hanya 56 halaman. Itulah Korte Gids voor den Borobudur (Panduan Singkat ke Borobudur) karya Dr. N.J. Krom (1883-1945), Kepala Jawatan Arkeologi, cetakan kedua, terbitan Landsdrukkerij, Batavia, tahun 1914.
Empat foto hitam putih yang masih jernih, di atas art paper nan licin, memperkaya buku ini. Tampak dalam foto bangunan candi secara menyeluruh, pemandangan pojok candi di selasar pertama dengan seorang pria — entah siapa — sedang berdiri mengamati relief, gerbang di undakan keempat, dan undakan-undakan menuju stupa utama.
Dalam pengantarnya, sang pandu mengatakan, “Buku saku berikut ini tidak dimaksudkan untuk memberikan panduan yang luas dan menyeluruh; buku ini disusun untuk orang-orang yang, meskipun tidak mempunyai waktu atau minat untuk mempelajari pengetahuan dari buku-buku yang terperinci, ingin mendapatkan informasi terpercaya mengenai monumen yang hendak mereka lihat.”
Niscaya saya termasuk ke dalam golongan orang demikian. Waktu dan minat saya bukan untuk arkeologi, melainkan untuk pasar loak. Meski bukan arkeolog, bukan pula pengikut Buddha, saya merasa akrab dengan Candi Borobudur. Letaknya toh tidak jauh dari rumah dan perpustakaan Rakaprebu Almarhum Ajip Rosidi di Pabelan, Magelang, yang beberapa kali saya kunjungi sambil mengagumi puncak Menoreh dan Merapi.
Suatu hari, dalam kunjungan singkat ke “padepokan jatiniskala”-nya Kang Ajip, bersama teman saya Teh Elin dan beberapa teman lain, saya mendatangi sebuah hotel mentereng yang tak jauh dari Borobudur. Tentu, dompet nan cekak tidak akan memungkinkan kami tinggal di hotel itu. Buat apa pula? Karena itu, kami berpura-pura saja sedang mencari kamar dan merasa perlu melihat-lihat sekitar. Manajer hotel mempersilakan kami menyusuri beberapa lorong. Aha, tercapailah apa yang kami cari: siluet pucuk-pucuk stupa di puncak bukit, tampak elok betul dari lorong hotel.
Baru-baru ini pemerintah pusat, melalui Menteri Luhut, mempertinggi tiket kunjungan ke Borobudur, baik buat turis domestik (Rp 750.000) maupun buat turis asing (US $ 100 atau sekitar dua kali lipat tiket turis domestik). Tiket masuk buat anak sekolahan sih tetap Rp. 5000. Timbullah kontroversi, sampai-sampai pelaksanaannya konon ditunda dulu. Tujuannya sih dapat dimengerti: biar tidak kelewat banyak orang mendaki ke puncak candi, dan kelestarian karya seni yang sudah berumur sekitar 14 abad itu dapat dijaga bersama.
“Mengharuskan para pelancong bayar mahal, kecuali untuk tujuan pengajaran dan keagamaan, [adalah kebijakan] yang lebih dari masuk akal, mengingat nilai Borobudur yang tak ternilai,” tulis editorial surat kabar Jakarta Post.
Biarlah urusan tiket, baik tiket masuk maupun tiket naik, kita serahkan kepada menteri, gubernur, pengusaha wisata, dan editor suratkabar. Sebagai peminat buku loakan, saya sih tertarik oleh rincian naratif dari penulis buku.
“Informasi terpercaya” (betrouwbare gegevens) sajian Meneer Krom terbagi dua: uraian dan lampiran. Uraiannya terbagi tiga: bangunan candinya, arca beserta reliefnya, dan sejarahnya. Lampirannya juga terbagi tiga, masing-masing berkenaan dengan “hidup sang Buddha” (leven van den Buddha), yang antara lain didasarkan atas teks Jatakamala dan Lalitaviskara.
Buat orang awam seperti saya, barangkali bagian lampiran itulah yang terpenting. Pasalnya, bagian itu memberikan keterangan, semacam caption, mengenai relief di dinding-dinding candi. Lampiran pertama menerangkan relief pada langkan galeri pertama bagian atas. Lampiran kedua menerangkan relief pada dinding utama di galeri pertama bagian atas. Lampiran ketiga menerangkan relief pada dinding utama di galeri pertama bagian bawah.
Dari buku seperti ini, saya sering mendapat kesan bahwa relief candi adalah ilustrasi bagi teks suci, semacam seni rupa yang berpegangan mesra dengan seni sastra. Sayang sekali, teks-teks seperti Jatakamala dan Lalitaviskara yang dirujuk oleh Meneer Krom tidak saya ketahui sama sekali. Namun, justru karena itu, saya senang sekali mendapatkan buku panduan ini. Keterangan dari Meneer Krom, buat saya, jadi keterangan verbal buat karya visual. Rupanya, dari tulisan ke gambar dan sebaliknya ada semacam lingkaran yang tak kunjung putus.
Sambil membolak-balik lagi lembaran-lembaran buku saku yang satu ini, saya jadi kepingin keluyuran lagi. Oh, senangnya sekiranya ada juga buku panduan singkat ke Pasar Loak Astanaanyar, Dewi Sartika, atau Cikapundung.***



