Jakarta vs Everybody dan “Alah Jembut Stereotype”

 

 

Dari segi teknis, baik cerita maupun sinematografi, Jakarta vs Everybody tampak cukup baik dalam upaya membingkai gaya hidup masyarakat urban di Jakarta.

 

Jakarta vs Everybody, merupakan sisi lain dari Jakarta. Ibukota sebuah negara yang konon penjaranya dipenuhi oleh tahanan yang terjerat kasus narkoba.

Dikisahkan Dom, seorang pemuda asal Padang, berambut gaya mullet, berkulit putih dan hobi masturbasi, tengah menggapai mimpi untuk menjadi seorang aktor. Mimpinya untuk menjadi aktor terkenal selalu bertemu tembok penghalang. Entah karena temperamen atau bayarannya murah, Dom menyudahi aktingnya sebagai ekstras dengan adegan baku pukul bersama salah satu kru. Malang memang pemuda yang sudah hilang logat Padangnya itu, tak lama setelah perkelahian di lokasi syuting, Dom diminta telanjang oleh salah seorang casting director nakal. Merasa kesal karena dilecehkan, Dom meninggalkan tempat itu.

“Taik goceng doang!” Kira-kira begitulah kata-kata yang keluar dari mulut Dom (Jefri Nichol) manakala Radit (Ganindra Bimo) hendak memberinya uang setelah mereka mendorong mobil yang dinaiki Pinkan (Wulan Guritno) di parkiran minimarket, malam hari. Adegan tersebut berlanjut menuju sebuah rumah susun, yang mana rumah tersebut menjadi tempat tinggal sementara Dom.

Di sanalah Dom mengasah aktingnya bermain peran (baca: menyamar) menjadi kurir narkoba. Ke depan, film yang berdurasi lebih kurang 1 jam 42 menit ini menyuguhkan banyak taktik dan siasat bagaimana Dom menjadi kurir narkoba yang handal di Ibukota. Dalam satu adegan, Dom bertansformasi menjadi waria dengan pakaian minim berwarna merah. Mirip Donny Damara di film Lovely Man.

Tanpa banyak konflik, film besutan sutradara Robby Ertanto Soediskam berupaya mengedepankan realitas dari film Jakarta vs Everybody. Yang mana adegan demi adegan tidak banyak berbicara tentang mimpi. Narkoba, seks dan kehidupan malam menjadi setting yang dominan. Terkesan repetitif. Dari segi teknis, baik cerita maupun sinematografi, Jakarta vs Everybody tampak cukup baik dalam upaya membingkai gaya hidup masyarakat urban di Jakarta. Visualnya mengingatkan saya pada Wong Kar Wai dengan Chungking Express-nya.

Film dengan alur yang relatif lambat dan konflik yang biasa-biasa saja, mampu menghibur dengan dialog yang cukup menarik. Penggunaan bahasa slang menandakan adanya upaya dari penulis naskah untuk menyesuaikan dengan lingkungan, profesi bahkan para pemainnya itu sendiri. Hanya saja, memang, untuk intonasi pelafalannya masih belum poll!

Jakarta vs Everybody dibintangi beberpa aktor yang mumpuni. Selain Ganindra Bimo dan Wulan Guritno, ada juga Jajang C. Noer sebagai Bu Ratih, pengurus rumah susun. Mereka berakting natural. Lalu ada Dea Panendra sebagai Khansa si perias mayat sekaligus salah satu pelanggan Dom. Sosok yang mampu mencuri perhatian, untuk urusan sensualitas, dia tampil berani.

Begitulah Jakarta vs Everybody, sebuah upaya membingkai panggung sandiwara dari megahnya Jakarta yang mengingatkan kita untuk tetap biasa saja dalam menyikapinya.

 

IWA KARTIWA | PENIKMAT FILM DAN APA SAJA

image: Poster Film Jakarta vs Everybody

Picture of Redaksi

Redaksi