
“Paket!” Entah dia sedang mengirimkan barang yang saya beli setelah berpikir logis atau sebatas intuitif saja.
Apa arti sang waktu? Begitu tanya dosen filsafat ilmu saya sewaktu berkuliah di Jurusan Hubungan Internasional UNPAD. Kenapa waktu begitu terbatas? Dan kenapa juga kita tidak bisa ada di dua atau lebih tempat dalam waktu bersamaan? Lanjutnya. Bila urusannya tentang jam sebagai penunjuk waktu, maka itu semua hanya tentang cara manusia bersepakat agar kehidupan ini lebih mudah untuk diatur dan dipahami. Kadang juga soal waktu ini kita jawab sekenanya, kapan kamu sampai? Kita jawab saja OTW! Hal itu sudah cukup menenangkan hati si penanya, karena pikirnya kita sedang meluncur dengan kecepatan tinggi untuk tiba di tempatnya, meskipun seringnya akan datang sedikit terlambat.
Di mata kuliah filsafat ilmu itu, kami diwajibkan memiliki buku filsafat ilmu berwarna biru karya Jujun Suriasumantri. Lagi-lagi saya katakan wajib memilikinya, bukan berarti cukup waktu untuk membacanya. Setidak-tidaknya ada bagian yang saya ingat betul bahwa pengetahuan manusia sesungguhnya terbagi dua, yaitu pengetahuan logis alias berdasar nalar dan pengetahuan intuitif alias bisa saja tanpa melewati proses penalaran. Sederhananya, anggap saja pengetahuan yang logis adalah ketika kita mulai memperhitungkan segala sesuatu sebelum membeli barang di tokped atau bukalapak, tapi ada juga satu masa dimana kita tiba-tiba membeli barang tanpa tahu betul kira-kira fungsinya apa. Dan entah kenapa, seringkali saya juga dibuat deg-degan ketika ada pengantar barang berteriak, Paket! Entah dia sedang mengirimkan barang yang saya beli setelah berpikir logis atau sebatas intuitif saja.
Begitu pula dengan urusan sang waktu ini, atas nama segala kecanggihan teknologi hari ini, sebenarnya kita bisa dimana saja, bahkan diwaktu yang bersamaan. Pernah saya jumpai teman yang melakukan 3 virtual meeting dalam waktu yang sama, ajaib memang tapi begitulah adanya hari ini. Kita dituntut oleh segala perangkat pintar itu untuk melakukan hal yang bisa jadi melampaui batas kepintaran kita sendiri, dan entah kenapa itu bisa menjadi semacam bukti kegagahan atas eksitensi manusia di media sosial. Sama hebatnya saat kita melihat seorang pengendara motor yang mampu membalas pesan singkat melalui ponsel sembari mengendarai motor di jalan raya yang padat. Hebat!
Entah filsafat ilmu atau ilmu filsafat apa yang kemudian diterapkan pada jam tangan pintar, sehingga para penggunanya yang sudah pasti adalah manusia, mampu memahami dunia bukan lagi sebatas pembagian waktu saja. Ada data kesehatan yang bahkan sampai merinci berapa kali jantung kita berdetak saat melakukan kegiatan tertentu. Sudah pastilah ini serupa teknologi rasional nan logis, mustahil jam tangan pintar menghitung detak jantung kita secara intuitif, bukan? Apalagi bila harga cukup mahal sudah disematkan padanya!
Apakah manusia sesungguhnya terbantu untuk merumuskan pengetahuannya melalui perangkat jam tangan pintar miliknya? Tentu saja bagi yang terbiasa berpikir rasional akan sangat terbantu, banyak data-data tentang dirinya yang bisa diolah untuk pengambilan keputusan. Tapi bagaimana yang terbiasa berpikir intuitif? Ya, maka akan seperti sebuah negara yang terbiasa menyebut-nyebut istilah big data dan industri 4.0 hanya sebagai kosmetik semata, dia bisa serupa komputer yang tiba-tiba tidak mampu beroperasi karena sudah terlalu banyak menyimpan data. Hingga akhirnya yang terjadi bukannya mengulas data, tapi malah mengelus dada. Tabik!



