Bayangkan, baru setahun Indonesia meniadakan sepakbola, kita sudah melupakan bagian paling penting, yakni bola.
Pertandingan babak penyisihan Grup D Piala Menpora antara Persiraja
Banda Aceh dan Persita Tangerang di Stadion Maguwoharjo, Sleman, 24 Maret 2021
kemarin menyajikan pemandangan menarik.
Pemandangan yang dimaksud bukanlah selebrasi gol, aksi
permainan satu dua ataupun tribun stadion yang kosong namun tetap terdengar
riuh. Semuanya berawal saat laga akan memasuki babak kedua.
Seluruh pemain dari ruang ganti kembali lapangan. Wasit pun
sama dan bahkan jauh lebih dulu. Kedua hakim garis menuju gawang. Seperti
biasa, mereka memainkan ritual khusus dengan mengibas-ngibas jaring gawang. Itu
dilakukan guna memeriksa segala kesiapan perangkat pertandingan.
Sembari hakim garis memastikan semuanya, kedua kesebelasan
di masing-masing daerah membentuk lingkaran. Mereka berdoa sebelum memulai
kembali pertandingan. Lalu, mereka berpencar dan membentuk formasi.
Semuanya terlihat siap sedia. Wasit pun melihat jam
tangannya, pertanda ia akan melanjutkan stopwatch dan meniup peluit sepak mula
paruh kedua. Akan tetapi, ia kemudian menunda. Pasalnya, tak ada bola di titik
tengah lapangan kala itu.
Akhirnya, ia langsung meminta bola kepada wasit cadangan dan
babak kedua pun digulirkan.
Ini adalah suatu pemandangan yang langka sekaligus unik bagi
sebuah pertandingan sepakbola. Terlebih, ini merupakan laga yang dimainkan di
level profesional.
Karena, bagaimana mungkin kita melupakan bola saat akan
bertanding sepakbola. Barangkali, kejadian langka ini telah memperlihatkan
bahwa kita sempat melupakan sepakbola untuk waktu yang terlalu lama.
Seperti diketahui, sepakbola di tanah air terpaksa
dihentikan sejak Maret 2020 lalu akibat pandemi Covid-19. Baru pada tanggal 21
Maret 2021 kemarin, sepakbola di level profesional kembali digulirkan melalui turnamen
pramusim bertajuk Piala Menpora. Artinya, genap satu tahun sepakbola Indonesia
tertidur akibat tak adanya pertandingan.
Para pemain pun sama. Tak dapat dipungkiri, hampir seluruh
penggawa belum berada dalam kondisi yang prima. Selain banyak kesalahan umpan
yang terjadi, faktor kebugaran juga perlu menjadi catatan.
Kita mestinya sepakat bahwa sepakbola sendiri membutuhkan
keterampilan. Sedangkan keterampilan amat bergantung kepada latihan (practice)
rutin. Kalau kita melewatkan rutinitas latihan itu untuk waktu yang lama, maka
keterampilan yang pernah ditempa akan pudar secara perlahan.
Sama halnya ketika seorang muslim telah lama tidak mengaji
Alquran. Meskipun dulunya terbilang sangat lancar dan fasih, tapi ia kemudian
berhenti membaca dalam waktu yang lama, ia akan kembali terbata-bata.
Bayangkan, baru setahun Indonesia meniadakan sepakbola, kita
sudah melupakan bagian paling penting, yakni bola. Bagaimana jadinya, kalau
sampai bertahun-tahun? Bisa jadi, kita bakal melupakan baik sepak maupun bolanya.
Namun, ini masih merupakan hipotesis yang bisa didiskusikan ke depannya.
Barangkali, semua insan sepakbola Indonesia harus menyegarkan
kembali pikiran dengan sebuah nasihat:
Jangan sekali-kali melupakan bola dalam
sepakbola.
FERRI AHRIAL | KOLUMNIS
image: Sharm Murugiah




