Sebagai peminat kuburan, saya sudah dua kali berziarah ke Panjalu. Kunjungan kali pertama terjadi sekian tahun lalu sewaktu kakak ipar saya jadi camat di wilayah itu. Waktu itu, seingat saya, sedang berlangsung upacara “nyangku”, saat masyarakat setempat membersihkan pusaka. Kunjungan kali kedua berlangsung baru-baru ini, 11 Mei 2025. Kali ini saya bergabung dengan sejumlah tetangga dari Negla, Isola. Kami beranjak dari Bandung selepas subuh dengan menyewa bus wisata.
Panjalu, tentu, terpaut pada sejarah Galuh. Teman saya, M. Sudama Dipawikarta, adalah putra Panjalu yang suka menulis karangan dengan nama samaran Dhipa Galuh Purba. Nama “purba” dia pasang bukan untuk meniru orang Sumatra, melainkan untuk menunjuk Kerajaan Galuh masa silam yang wilayahnya kini dikenal sebagai Ciamis. Sehabis bergiat di lembaga sensor film di Jakarta, kemudian di komisi penyiaran di Bandung, dia membuka bungalow buat turis di kampung halamannya. Karena saya tidak berniat menginap, kali ini saya tidak mengontak sang komisioner pensiun.
Di kampung halaman Mang Dhipa, tujuan para peziarah terletak di tengah sebuah situ alias danau. Itulah Situ Léngkong yang juga dikenal sebagai Situ Gedé. (Waktu kami singgah di Masjid Nurul Ilmi di Desa Sagalahérang, Kecamatan Panawangan, saya baru sadar bahwa masjid itu termasuk ke dalam dusun yang bernama Situ Gedé pula). Sebuah pulau tampak mengapung di tengah situ. Warga setempat menyebutnya Nusa Gedé, sedangkan sebelumnya mereka menyebutnya Nusa Larang. Sejumlah orang Belanda zaman kolonial mengusulkan sebutan lain lagi: “Pulau Koerders (Koerderseiland)” buat mengingat ahli botani dan konservasi alam S.H. Koerders.
Sesampainya di sana, bus diparkir di terminal kecil. Warung dan pedagang kaki lima meramaikan suasana dengan menjajakan makanan, pakaian, barang kerajinan seperti batu akik dan pipa tulang, juga penganan khas seperti terasi dan caruluk alias kolang-kaling. Beberapa baramaén alias pengemis meratap-ratap kepanasan seraya memanjatkan doa di tepi jalan. Dari situ, peziarah bisa naik ojek atau mobil omprengan dengan ongkos Rp5000 saja, mengitari tepian danau hingga ke dermaga kecil. Dari dermaga, dengan ongkos Rp15000, peziarah bisa naik perahu motor beratap untuk mencapai kuburan keramat di pulau itu.
Penduduk Bandung, apalagi yang bekerja di Unpas seperti saya, pasti merasa kurang beruntung di Panjalu. Di Kota Kembang, nama “léngkong” — yang berarti “teluk” di kelokan sungai besar — cuma dikenal sebagai nama jalan tempat salah satu kampus kami berdiri. Adapun di Panjalu nama yang sama masih memperlihatkan keelokan dan kemegahan lingkungan alam.
Dalam penglihatan saya, Situ Léngkong dengan Nusa Gedé di tengah-tengahnya benar-benar tampak sebagai jantung ekologi Panjalu. Menggenang di dataran tinggi (sekitar 731 meter di atas muka laut), dikelilingi gunung dan bukit, antara lain Gn. Sawal, Gn. Candana, Gn. Tilu, dan Pasir Naja, Situ Léngkong jadi suaka nan elok bagi hutan keramat seluas lebih dari 60 hektare yang vegetasinya lebat, lengkap dengan kawanan kelelawar yang beterbangan di sekitar tiara pepohonan.
Perahu membawa kami merapat ke sebuah dermaga kecil lainnya yang jadi gerbang ke pulau itu. Patung macan putih menyambut kami di dekat tambatan perahu. Dari situ, kami mendaki sebuah jalan berundak menuju puncak bukit yang tingginya sekitar 30 meteran di atas permukaan danau. Itulah tujuan utama para peziarah: kubur keramat tempat bersemayamnya Syekh Panjalu alias Sayid Ali bin Muhammad bin Umar, yang dikenal pula sebagai Prabu Hariang Kancana, putra (ataukah cucu?) Prabu Borosngora.
Penataan terakhir atas situs keramat ini diupayakan oleh pemerintah Desa Panjalu pada 2016. Kuburan keramat, yang menurut catatan para pelancong Eropa zaman kolonial hanya ditandai batu tanpa nama, telah dilengkapi nisan bertarih dengan tulisan Sunda, Arab, dan Latin. Kuburan ini dikasih kelambu dan dinding di dalam bangunan berupa pendopo buat menampung para peziarah. Di samping pendopo, ada musala, toilet, serta fasilitas lainnya. Di pendopo itulah, kami dan rombongan peziarah lainnya menyelenggarakan tawasulan. Langgam tahlilan dari setiap penjuru pendopo memenuhi ruangan. Pak H. Ahmad Soleh dari madrasah Miftahul Iman, Negla, memandu kami membacakan kasidah, yakni untaian sajak ritmis berbahasa Arab, yang teksnya tergantung di dinding makam, sebelum membacakan salawat dalam bahasa Arab dan Sunda, serta memanjatkan doa. Seusai tawasulan, kami berpose buat “foto keluarga” di depan pendopo.
Di luar pendopo, di salah satu tepi jalan berundak, ada pula sejumlah pusara lama. Saya tidak tahu, siapa yang berkubur di situ. Mungkin para leluhur Panjalu, mungkin juga keluarga para bupati Kuningan zaman dahulu. Tidak jauh di sebelah selatan dari kubur keramat itu, sebetulnya ada pula kuburan orang Belanda dari abad ke-19. Itulah “tempat peristirahatan (rustplaats)” bagi Willem Hendrik Andreas Thilo, Asisten Residen Kuningan dan Galuh. Dia meninggal dalam usia 31 tahun bersama anaknya dalam kecelakaan berkuda di Kuningan pada 5 Februari 1832.
Dengan kata lain, di Nusa Gedé tersimpan sedikitnya dua ingatan: yang satu mengarah ke langit-langit sakral di sekitar kubur keramat, yang lain mengarah ke jejak-jejak sejarah zaman kolonial. Istilah yang dipakai dalam catatan perjalanan ke Panjalu karya S.A. Reitsma dan W.H. Hoogland dalam Gids van Bandoeng en Midden-Priangan (“Panduan Bandung dan Priangan Tengah”, 1927), menyiratkan hal itu: “rustplaats (tempat peristirahatan)” Asisten Residen Thilo dan “heilige graf (kubur keramat)” Adipati Hariang Kancana. Tentu saja, acara tawasulan yang kami adakan berlangsung di heilige graf, bukan di rustplaats. Saya harap, orang Walanda punya cara tawasulannya sendiri.
Tentang sosok Hariang Kancana, juga Borosngora, tidak banyak yang saya ketahui. Kepada seorang pria berpeci putih yang mengurus buku tamu di makam keramat itu, saya bertanya-tanya tentang Borosngora. “Beliau moksa di sini,” tuturnya.

Moksa? Istilah itu, tentu, mengingatkan saya kepada laku asketis dari zaman praislam. Teringat, misalnya, carita pantun terkenal dengan latar Galuh, yakni “Ciung Wanara”, yang transkripsinya sempat diterbitkan oleh C.M. Pleyte pada 1910. Dalam kisah yang ujungnya mewartakan pembelahan antara Sunda di Barat dan Jawa di Timur itu, raja Galuh, Sang Permana di Kusumah, memilih jalan asketis dengan menghilang dari keraton, masuk ke Gunung Padang, dekat Gunung Sawal, dan jadi Pandita Ajar Suka Resi.
Penulis Belanda lainnya, pengurus arsip bernama C. Lekkerkerker, menyebut-nyebut “cerita rakyat” (volksverhalen) Galuh dalam bukunya, Land en Volk van Java (1938). Katanya, di dekat Kawali ada sebuah desa bernama Dayeuhluhur. Itulah tempat berdiamnya Prabu Cakra Dewa, “raja Galuh non-Islam yang terakhir (de laatste niet-Islamitische vorst van Galoeh)”. Sang Prabu menghilang pula di hulu Sungai Cipanjalu, tidak jauh dari Desa Panjalu. Menurut catatan sang juru arsip, Prabu Borosngora yang dikenal sebagai “raja muslim pertama (de eerste Mohammedaansche vorst)” adalah putra Cakra Dewa.

Dalam kesan saya, Nusa Gedé bukan hanya merupakan jantung ekologi Panjalu, melainkan juga merupakan salah satu monumen asketisme Galuh. Trayeknya kentara: menjauh dari kota, naik perahu menyeberangi danau, lalu masuk ke hutan yang sunyi.
Walhasil, ke manapun orientasi teman-teman, ke Galuh ataukah ke Walanda, hutan seelok Nusa Gedé bukan hanya cocok buat mati melainkan juga cocok buat hidup. Sekarang banyak orang doyan healing. Datanglah ke Panjalu, menginaplah di bungalow Mang Dhipa, berilah derma para peminta-minta, naiklah perahu, dan mendakilah ke puncak bukit itu. Rasakan, betapa sejukna nafas pepohonan. Di sela-sela pokok-pokok kayu yang menjulang, dalam keteduhan naungan kanopi dedaunan hijau, saya merasa mendapat tambahan semangat hidup, setidaknya buat meneruskan keluyuran ke tempat-tempat sejenis.***
Editor: Hafidz Azhar



