Jawara Jalanan dalam Kenangan (1) | Tjalie Robinson

 

Namun, waktu itu juga datang dengan sangat lambat dan perlahan menghilang, sebagaimana begitu banyak hal yang datang dan pergi tanpa disadari

 

Dengan kunjungan Max Schmeling ke Indonesia, banyak oud-gasten yang teringat lagi akan hari-hari tempo dulu, tatkala adu jotos mewarnai hidup setiap tukang keluyuran, tatkala setiap paria — apalagi tukang keluyuran dari kalangan gedongan — masih mendapat kehormatan untuk menyodok, dan tatkala The Noble Art of Selfdefence masih bisa naik derajat ke tingkat Olimpiade (karena klub tinju Betawi yang terkenal bukan Olimpiade?) dan banyak fenomena pukulan yang tidak layak dari daerah kumuh masih bisa mendapatkan ketenaran dan kehormatan umum di alun-alun Marquess of Queensberry.

Namun, waktu itu juga datang dengan sangat lambat dan perlahan menghilang, sebagaimana begitu banyak hal yang datang dan pergi tanpa disadari, mengalami puncaknya yang mulia kemudian benar-benar merosot lagi sebelum jadi sangat buruk. Walhasil, harus ada upaya untuk merekonstruksi perbedaan sosial seperti itu, karena lembaran surat kabar lama, seperti biasa, tidak menceritakan apa pun tentang hidup yang sesungguhnya dijalani. Galilah kenangan Anda, maka ring adu boksen pun hidup kembali, seperti yang tergelar di Taman, di belakang Maison Versteeg & Rikkers, di Varia Park (di belakang Cinema Palace) dan banyak lagi. Ya, bahkan di taman hiburan di belakang Central Bioscope di Meester Cornelis, bukan hanya tinju, melainkan juga gulat, bukan hanya oleh patjepeeërs, melainkan juga oleh tuan-tuan yang sekarang jadi Tuan Besar.

Sedikit lebih jauh ke belakang, Anda bisa mengenang medan pertempuran lainnya: Wilhelmina Park, Rumah Setan di belakang kantor pos, Kebon Sayur (di belakang Broederschool), Gambirpark, Kebon Pala dan lapangan di sebelah General Staalplein, Hoopkade di Manggarai dan lapangan tenis di Koningin Wilhelminalaan. Anda dapat memperpanjang deretannya, karena waktu itu adu jotos boleh dibilang sudah jadi makanan sehari-hari kami, dan Anda masih mendapat banyak makanan. Dan jangan bercanda, selalu satu lawan satu, tidak pernah main keroyokan. Pemuda saleh masa itu tidak bisa tahan jika melihat ada satu anak laki-laki yang dipukuli oleh dua orang atau lebih, tak peduli anak itu temannya atau musuhnya. Tentu, berbeda soalnya jika Anda menantang dua orang, tapi dalam semua kasus lain satu lawan satu sudah jadi semboyan, dan siapa pun yang berada di urutan ketiga dalam satu pertempuran segera mendapatkan lawan mainnya dari kerumunan untuk mengalahkannya seperti tas punuk. Tapi omong-omong soal tas punuk, sekarang sebut saja satu teman bernama Bolzak (seharusnya Bossard) yang dijuluki Cobèk atau disingkat Bèk. Cobèk adalah salah satu pengawal Canrobert. Canrobert mati dan tidak memiliki tawaran. Saya mendengar dari Leo bahwa Bèk sekarang di Australia dan setidaknya dia tahu dari mana wol itu berasal, karena seruan favoritnya untuk berkelahi adalah: “Banyak bacot, mana wol-nya? Ayo, Aksi kude!” Nah, aksi kuda itu adalah aksi dari film koboi, dus hoopjes rijen, nokken en rotdoen. Bék sangat menyukainya dengan mata berbinar-binar. Dia bahkan membikin aksi kuda dari segala hal, tak terkecuali dari tugasnya di sekolah. Itu sebabnya dia mendapat julukan begitu. Nama aslinya adalah Chris dan ada dua Chriss lagi di kelas, tapi mereka sudah dipanggil Issy dan Kiekie. Chris masih belum punya nama khusus, sampai suatu hari kepala sekolah kami memeriksa tulisan dikte Chris di depan kelas untuk belajar sambil bermain. Dikte itu digambari dengan tinta merah cemerlang, berisi coretan, garis bawah, tanda tanya, dan embel-embel lainnya. Kami semua menyaksikan dengan takjub dan terdiam penuh kagum ketika pria itu bertanya, “Dan seperti apa bentuknya?” Satu-satunya yang tahu jawabannya adalah Chris sendiri, karena dia berkata, “Kayak cobek, ya!” Memang, buku catatan Chris seakan-akan terkena tumpahan sambal, dan kami tertawa terbahak-bahak, yang kemudian jadi bergemuruh seperti biasanya dengan pukulan di bangku, tendakan di papan, cuitan jari dan teriak, “Syapuuuuuuhh!” Keadaan tenang kembali seperti biasanya setelah tongkat penunjuk diacungkan, tapi sejak itu Chris dipanggil Cobék, atau sebutannya yang pendek dan kasar, Bék.

Cobék berasal dari keluarga pejudi nan tangguh. Kalau Pa, Ma, dan Cang mainnya lancar, Cobék kaya raya. Dan ketika keluarganya tertimpa sial, Cobék tetap kaya, karena dia suka berjudi di sekolah dengan segala sesuatu yang longgar dan ketat. Semua bagian rambutnya tidak dipotong dan terkadang tumbuh jadi sarang laba-laba nan sempurna, tempat Ma pernah mendaratkan gunting ke situ sampai-sampai timbul gelombang rambut di kepala Cobèk dengan ombak yang sangat pendek, agak pendek, dan tanpa ombak sama sekali. Sebuah kenangan yang tak terlupakan bagi banyak teman sekelas, termasuk yang bertanda tangan di bawah ini, karena Cobèk tidak menanggapi komentar “baru dibabat” dan sejenisnya selain dengan ayunan nan fantastis. Dan Cobék bisa memukul dengan baik. Sebaik dia bermain dadu. Cobèk tidak pernah bermain kelereng. Namun, dia dapat ditemukan di setiap permainan, tempat dia berjongkok dengan banyak kelereng di sekelilingnya untuk “span”, “taroh” dan “adu” dengan semua orang, dengan tembakan berikutnya yang kena atau meleset. Dia berdebat paling keras tentang “bersih” dan “gerak”, tentang “mah niet jatoh tangan” dan “gerak”, dia tersanjung dan memuji penembak yang harus membidik dan menggertak orang yang harus meleset dengan manuver yang mengganggu, dengan “mantera cakar bebèk” dan sejenisnya, sampai seorang penembak “gapik” yang sangat istimewa sekalipun melewatkan satu tembakan dari dua “stiek” (span tangan) yang luar biasa, dan Cobék mampu meraup keuntungan yang mengerikan.

Saat itu Karl May, Gustave Aymard dan Penning berangsur-angsur mulai mati. Buku buat anak laki-laki yang lebih baru agak terlalu genit dan film pun datang dengan kekerasan yang tak tertahankan. Dan itu adalah film yang membawa kita pada duel bersejarah antara Dempsey dan Tunney, pertarungan melawan “hitungan panjang” yang terkenal itu. Berapa kali kita melihat film berita pendek itu? Bagaimana kita tidak duduk dengan arloji Pa di tangan, terengah-engah menghitung bahwa Tunney memang duduk selama tiga belas detik di atas kanvas, sementara pahlawan Dempsey tersentak dan menarik tali seperti banteng liar? Nah, setelah lebih dari dua puluh tahun, saya masih melihat film usang itu dengan tatapan tajam dan saya terkejut menyaksikan Tunney bangkit dengan lembut dan Dempsey mengayun dan mengait saat Gene berjalan mundur, mundur, menghindar, dan menangkap Jack dengan pukulan lurus. Mengerikan. Namun, teknik itu membuat kesan mendalam pada kami. Ada sihir dalam pertarungan itu, ada kejayaan di dalamnya, ada taktik-taktik keren yang sangat menarik kami. Ada sesuatu di dalamnya yang sangat langka dalam adu jotos liar di jalanan: pengendalian diri, keberanian sejati untuk menenangkan bahaya dengan sorot mata dan dengan manuver terkontrol untuk membuat ancaman jadi tidak berbahaya. Ada sesuatu di dalamnya yang tidak ditemukan dalam pencak atau pukulan, yang dalam penerapannya sebenarnya terlalu artistik (seperti tarian) atau terlalu radikal. Adapun “pertarungan bersih” menurut hukum yang tetap dan aturan pertempuran dan menurut teknik yang cerdas adalah sesuatu yang baru lagi indah.

Jadi, secara umum ada gairah yang tumbuh terhadap seni tinju, dan anak-anak muda di kemudian hari bergantung pada karung pasir dengan palang horizontal. Adapun kami, monyet kecil tanpa karung pasir, sudah puas dengan ketebok pisang, yang bisa kamu hajar sampai celana monyetmu penuh dengan noda getah. Bagaimanapun, bahkan dalam pertarungan jalanan, seni tinju menembus dan itulah sebabnya saya tidak melupakan Cobèk. Dialah petarung pertama yang saya lihat tetap tenang dan percaya diri dalam perkelahian jalanan nan sengit.*** (bersambung)

[Diindonesiakan oleh Hawe Setiawan dari “Memoirs aan een ex-kampioen van de straat” dalam kumpulan kolom Piekerans van een straatslijper (1976) karya mendiang Tjalie Robinson.]

 
HAWE SETIAWAN | KOLUMNIS & DOSEN DKV FISS UNPAS
Ilustrasi: Adam Rizki Taufiq
 
 
Picture of Redaksi

Redaksi