Jembatan Ungkapan

Ilustrasi Adam Rizqi Taufik

 

 

Salah satu hal yang mengasyikkan buat saya dari kegiatan menerjemahkan buku adalah ikhtiar menyiasati jebakan ungkapan

 

Jelek-jelek begini, saya pernah menerjemahkan buku. Buat saya sendiri, itu kegiatan hebat, tidak kalah hebat oleh ikhtiar insinyur sipil membangun jembatan.

Salah satu buku yang sempat saya terjemahkan adalah karya seorang teman senior dari Negeri Kincir Angin, Tom van den Berge. Dia pernah belajar bahasa Sunda kepada sastrawan dan profesor Pak Iskandarwassid di Bandung. Namun, sekarang ini saya menduga Tom sudah lama kehilangan bahasa nan melodius itu. Siapa pula yang bisa diajak omong Sunda di Leiden? Apalagi sekarang, semua orang sepertinya berpaling ke Negeri China. Dunia berubah, Kang Broer!

Mudahan-mudahan saja, dorongan semangat dari Tom buat diri saya bukan sokong jongklok. Tidak lama setelah terbitnya buku Puisi Sunda Zaman Belanda, yang saya terjemahkan dari disertasi Tom, terbersit niat untuk menerjemahkan biografi Karel Frederik Holle, juragan kebun abad ke-19 dari Garut. Setahu saya, Karel Holle tidak melulu membuka usaha perkebunan teh, melainkan juga menulis banyak artikel buat jurnal, mengirim ratusan rekomendasi kepada gubernur jenderal, menulis dan menerbitkan buku terutama buat kalangan petani, merintis sekolah keguruan, dan banyak lagi. Dan yang menarik buat saya, pada masa-masa produktifnya, Menir Holle juga punya kesibukan dalam ururan penerjemahan buku! Itulah sebabnya, saya minta izin kepada Tom untuk menerjemahkan bukunya tentang sang juragan kebun. Silakan, katanya.

Omong Walanda, cas-cis-cus Holland spreken, saya sih tidak bisa. Apa boleh buat. Namun, baca-baca dikit buat menyerap informasi mah, insya Allah, tidak gelap-gelap amat. Saya kan semacam “Ph.D” — istilah yang, menurut mendiang Romo Mangun, artinya “paham dikit”. Syukurlah, biar pahamnya tambah banyak, sekarang ini kian banyak alat bantu. Tinggal berlangganan podcast berisi talk show orang Belanda mengenai rupa-rupa perkara. Dengarkan saban hari, biar telinga saya terbiasa mendengar orang Belanda bertukar cakap dalam bahasanya sendiri. Tidak mengerti, ya, tak mengapa. Bahasa toh pada mulanya bunyi, semacam seni musik, yang memang dibuat untuk didengarkan. Setelah mendengar bunyi, baru saya sibuk menggali arti, kayak aparat intelijen memecahkan sandi, atau mengotak-atik aksara seperti mahasiswa seni rupa.

Salah satu hal yang mengasyikkan buat saya dari kegiatan menerjemahkan buku adalah ikhtiar menyiasati jebakan ungkapan. Seperti apa? Biar konkret, baiklah saya sampaikan beberapa contohnya.

Dalam buku Karel Frederik Holle: Theeplanter in Indië 1829-1896 (1998), misalnya, ada ungkapan, “Daarmee sloeg Holle de spijker op zijn kop…” Ungkapan itu muncul dalam paragraf yang menguraikan pandangan Holle tentang karakteristik masyarakat Sunda, terutama dalam kaitannya dengan rekomendasinya untuk pemerintah. Kalau Anda pakai robot translate.google.com, niscaya yang Anda dapatkan adalah terjemahan yang mencengangkan: “Holle memukul paku di kepala dengan itu”. Waduh! Kalaupun terjemahan itu Anda sunting, hasilnya tetap sia-sia: “dengan itu, Holle memukul paku di kepalanya sendiri.” Kasihan amat.

Jadi, bagaimana sebaiknya? Pertama-tama saya curiga. Jangan-jangan, itu peribahasa, atau setidaknya ungkapan yang khas Belanda. Mana ada peribahasa atau idioms yang bisa diterjemahkan. Memangnya, “berakit-rakit ke hulu berenang-renang ke tepian” bisa diinggriskan? Memangnya, “seuri konéng” atau “heueuh-heueuh bueuk” bisa dibelandakan? Memangnya ungkapan “take it with a grain of salt” bisa disundakan? Tidak dong. Kalaupun Anda paksakan, hasilnya pasti mengerikan.

Kalau sudah curiga begitu, biasanya saya keluar dulu dari kamus umum seperti Van Dale, Visser, Teeuw, Moeimam, dll. Saya berpaling dulu ke, misalnya, ensie.nl, laman ensiklopedia digital yang juga mencakup kamus-perkamusan, biar saya tahu apa arti ungkapan tadi. Di situ arti ungkapan “de spijker op de kop slaan” diterangkan sebagai “precies zeggen waar het op staat”. Rupa-rupanya, kandungan artinya lebih kurang ”bicara apa adanya, terus-terang, tanpa tedeng aling-aling”. Nah, tinggal saya cari peribahasa Indonesia yang kira-kira sepadan. Kalau padanan peribahasanya tidak saya dapatkan, terpaksa saya adaptasikan ke dalam kalimat yang tidak bikin sesat, misalnya: “Dengan itu, Holle berbicara apa adanya”.

Contoh lainnya adalah ungkapan “werken als een rode lap op een stier” yang dipakai dalam uraian mengenai perbedaan pandangan antara Karel Holle dan Daniel Koorders, profesor teologi dan hukum, menyangkut kegiatan misionaris di Jawa Barat. Kalau ungkapan tersebut hanya dialihbahasakan, pembaca bisa tersesat dengan kalimat “bekerja — bertindak — seperti selembar kain merah untuk seekor banteng”. Lagi pula, Tatar Sunda, tidak seperti Spanyol, bukan kampung halaman matador kan? Dengan kata lain, ungkapan tersebut hanya dapat kita adaptasikan menjadi, misalnya, “hanya menghasut kemarahan” atau lebih tepat: ngahudangkeun macan turu alias “membangunkan macan tidur”. Banteng di Eropa, macan di Asia.

Jadi, kalimat yang berbunyi, “De verkondiging van het evangelie zou op de islamitische bevolking werken als een rode lap op een stier” kiranya lebih baik diterjemahkan menjadi, “Pemberitaan Injil di tengah masyarakat Muslim hanya akan membangunkan macan tidur”.

Paragraf berikut ini dapat dijadikan contoh lainnya lagi mengenai uraian yang mengandung ungkapan khas, yang saya tandai dengan cetak tebal:

“De weduwe Koorders had de papieren van haar jonggestorven echtgenoot ter hand gesteld aan zijn collega J.J. Meinsma, docent Javans in Delft en een volle neef van Roorda. Toen Holle vernam dat Meinsma stukken uit deze papieren wilde publiceren, vroeg hij zich af of deze daar de zaak ‘een dienst’ mee deed. Hij hoopte dat Meinsma het kaf van het koren zou kunnen scheiden. Koorders’ kritiek had inheemse schrijvers ontmoedigd en had er bijna toe geleid dat de ‘Soendanese literatuur’ in de kiem gesmoord was. Die kritiek was er de oorzaak van dat Moesa ertegen opzag nog een letter op papier te zetten, een weerzin bij de hoofdpanghoeloe die Holle zelfs een paar jaar na Koorders’ dood nog niet helemaal had kunnen overwinnen. Liever had hij de ‘schim’ van Koorders laten rusten. Als hij ‘verpligt’ werd de stelregel ‘van de dooden niets dan goeds’ te overtreden, dan zou dit neerkomen op het hoofd van Meinsma. Waarom toch moest deze de zaak oprakelen? Moest Koorders dan nog na zijn dood ‘eene brekebeen’ blijven? Holle was de strijd tegen hem ‘moede’; er viel nog ‘veel te veel’ positief werk te verrichten.”

Dengan segala kekurangannya, saya berikhtiar mengindonesiakan paragraf itu menjadi:

“Janda Koorders menyerahkan berkas tulisan-tulisan suaminya, yang mati muda, kepada rekannya J.J. Meinsma, dosen bahasa Jawa di Delft dan sepupu pertama Roorda. Ketika mengetahui bahwa Meinsma akan menerbitkan tulisan-tulisan terpilih dari berkas tersebut, Holle bertanya-tanya ‘tugas’ apa gerangan yang harus dia lakukan dalam hal ini. Dia berharap Meinsma bisa membedakan emas dari loyang. Kritik Koorders telah mengecilkan hati para penulis pribumi dan hampir mengakibatkan ‘sastra Sunda’ layu sebelum berkembang. Kritiknya menyebabkan Moesa enggan menggoreskan lagi pena di atas kertas, suatu keengganan dari seorang penghulu besar yang bahkan hingga beberapa tahun setelah Koorders wafat pun Holle sendiri belum mampu mengatasinya. Baginya, biarkanlah ‘jiwa’ Koorders beristirahat dengan tenang. Kalaupun dia ‘dipaksa’ melanggar pepatah ‘van de dooden niets dan goeds (= yang buruk dipendam, yang baik dijunjung)’, hal itu akan berpaling kepada Meinsma. Kenapa dia harus mengangkat masalah ini? Haruskah Koorders tetap ‘patah kaki’ setelah mati? Holle ‘lelah’ melawannya; ‘terlalu banyak’ kegiatan positif yang mesti dilakukan.”

Adaptasi demikian, saya kira, tidak melulu dalam urusan peribahasa atau ungkapan khas. Semua kalimat dari bahasa sumber pada dasarnya mesti diadaptasikan ke dalam bahasa sasaran. Tidak sekadar diterjemahkan, melainkan juga — katakanlah — “dinaturalisasi”: biar sang pendatang betah di tempat baru, menyatu dengan kalangan “pribumi”. Pendeknya, dituturkan kembali.

Dalam hal ini, Karel Holle juga punya wawasan sendiri tentang penerjemahan, sudah pasti. Dia membedakan antara “vertaler” dan “verteller”, antara “vertalen” dan “vertellen”. Di telinga saya, perbedaan kedua istilah itu terdengar begitu tipis, setipis perbedaan bunyi “a” dan “é”. Kalau saya tidak salah, “vertaler” itu penerjemah, sedangkan “verteller” itu pencerita; “vertalen” itu menerjemahkan sedangkan “vertellen” itu menuturkan kembali.

Saya tahu, jembatan saya belum kokoh. Saya harap, kalau terjemahan saya sudah rampung, Kang Tom akan punya waktu di masa pensiun buat memelototi hasil adaptasi saya.***

 
HAWE SETIAWAN | KOLUMNIS & DOSEN DKV FISS UNPAS
Ilustrasi: Adam Rizki Taufiq
Picture of Redaksi

Redaksi