Kabeh Dulur Make Manah

 

Ramah, selalu tertawa, cenderung selow. Herjok, Heru Djoko, beberapa nama panggilan beliau. Apabila anda berteman di Instagram nama yang muncul Dj Urreh.

Heru Djoko, nama  yang berkesan klasik, semacam penamaan Jawa campur Sunda. Pa Heru, dibesarkan di Cibangkong, daerah yang berada di sekitar belakang Hotel Trans, atau TSM, kalau anda urang Bandung, kemungkinan besar hapal tempat tersebut. Semasa saya masih di Sekolah Dasar, saya sering berjalan-jalan ke daerah Cibangkong, ada kerabat kami  tinggal disana. 

Alasan saya sering ke daerah itu, tidak lain untuk ngadu langlayangan. Di sekitar Cibangkong ada sungai kecil membelah rumah-rumah padat penduduk. Apabila musim kemarau tiba dan sungai surut endapan tanah di sungai yang mengering muncul ke permukaan, masyarakat sekitar menyebutnya Pulo Udrus, entah dari mana penamaan itu muncul. Pulo Udrus tempat strategis untuk ngadu langlayangan. 

Jangan lupa, di Cibangkong, ada pengrajin gelasan yang terkenal, gelasan Omo, terkenal seantero Bandung dan sekitarnya. Itu, kira-kira kenangan saya, mengenai tempat Pa Heru dibesarkan.

Saya amati di Insta story, keseharian Pa Heru sungguh luar biasa, dalam satu hari beliau bisa berada di empat tempat yang berbeda, mungkin karena sering berolahraga sepak bola dan sepeda, fisiknya cukup mumpuni bagi orang yang sudah tak lagi muda. 

Sebetulnya, nama Heru Djoko tidak asing bagi para penggemar klub sepak bola, terutama bagi para suporter Persib Bandung. Viking, adalah Heru Djoko dan Heru Djoko adalah Viking. Apakah ada kaitan dengan Viking dari benua Eropa? Tentu tidak. Viking, menurut Pa Heru, lahir dari sekelompok orang yang kerap menonton pertandingan Persib di stadion, dulu masih di stadion Siliwangi, karena merasa satu suara, satu dukungan, maka terciptalah Viking. 

Dan jangan lupa, kiprah almarhum Ayi Beutik yang turut membidani lahirnya Viking. Nama Viking konon diambil dari merek jersey sepakbola. Ceritanya, Pa Heru sering membeli kaos bekas di Cimol. Cimol adalah pasar yang menjual baju bekas, dulu berjualan di daerah Cibadak, sempat pindah ke terminal Kebon Kalapa sebelum jadi ITC Mal, dan sekarang di pasar Gede Bage. Kaos bola atau jersey tersebut sering dipakai ketika menonton Persib, ketika akan menentukan apa nama klub suporter Persib, maka yang terlintas adalah merek kaos yang sering dipakai Pa Heru, menarik sekali, dan Viking dideklarasikan tanggal 16 Juli 1993.

Viking telah tumbuh dewasa, umurnya sudah mencapai 28 tahun. Anggotanya sekitar 40 ribu, tersebar di seluruh Indonesia, bahkan ke mancanegara, diantaranya Jepang, Malaysia, Hongkong dan Amerika, luar biasa. Ada cerita menarik lain, suatu ketika Pa Heru menonton pertandingan antara Persikab melawan Persebaya di stadion Sangkuriang Cimahi, seorang suporter Persebaya terlihat sedang dikerubuti suporter Persikab, nyaris dipukuli. 

Pa Heru mencoba melerai, dan menyelamatkan anak itu. Tak lama berselang, Pa Heru diundang untuk hadir di stadion Gelora sepuluh November, yang mengundang adalah orang tua dari anak yang nyaris dipukuli. Berangkatlah Pa Heru ke Surabaya bersama dengan sekitar sembilan orang anggota Viking lainnya. Tiba di Surabaya rombongan Pa Heru disambut oleh para suporter Persebaya, sangat disanjung dan dihormati. Ternyata orang tua anak tersebut orang penting di Bonek Mania, Bonek Mania adalah komunitas suporter Persebaya Surabaya. Peristiwa Stadion Sangkuriang jadi salah satu lintasan terjadinya ikatan kuat antara Bonek Mania dan Viking. 

Salah satu ciri anggota Viking yaitu, memakai penanda sebagai bagian dari keluarga besar. Kaos, bendera dan stiker di kendaraan, kalau anda jeli melihatnya, ada ikon seorang Bapa tua memakai topi dari tanduk. Keluarga besar Viking memanggilnya si Bapa, pembuat atau ilustratornya Pa Uden asli Ciwastra, bukan dari Denmark.

Sebagai warga Bandung, saya tentu saja merasa Persib milik kota Bandung, jika Persib menjadi tuan rumah beberapa hari sebelum pertandingan, pembicaraan warga kota tertuju  pada gelaran yang akan segera dilangsungkan, berkisar tentang susunan pemain, isu seputar permainan, kerapkali kita temui warga yang menjadi pengamat sepakbola dadakan, riuh tapi menyenangkan.

Masih terasa sampai sekarang bagaimana aura ketika hadir di stadion, semua merasa satu, status kelas hampir hilang, umpatan kasar bebas dilakukan sebagai respon terhadap pertandingan, “fuck the rule” kata Pa Heru. Istigfar dan kata-kata kasar kadang disampaikan bersamaan, batas antara sakral dan profan nyaris musnah. 

Geliat kota bisa kita rasakan dari keberadaan dinamika yang hidup dalam nadi warga kota.  Bisa kita bayangkan kota yang tidak mempunyai ruang terhadap saluran aspirasi. Olahraga, adalah salah satu ruang dan wacana komunal. Kota harus memiliki kebanggaan agar warga merasa menjadi bagian dari tubuhnya. 

Ketika suatu masa Persib pernah menjadi juara perserikatan dan patung di pertigaan jalan Lembong menjadi penanda peristiwa besar tersebut, mimpi warga kota agar Persib kembali mengangkat trofi juara akan terus hidup, hadir dan menjadi semangat warga. 

Garda terdepan kebersamaan ada pada aspirasi warga terhadap salurannya. Persib dan Viking bisa menjadikan warga kota menjadi satu asa, satu rasa, bahkan sedih dan bergembira dirasakan bersama bersama. Saya tidak pernah melihat hal tersebut pada ruang politik dan Agama, warga seakan dipaksa berpisah dengan saudaranya. ***  

TATA KARTASUDJANA | DOSEN DKV UNPAS 
Ilustrasi oleh Adam Rizki Taufiq
Picture of Redaksi

Redaksi