
Apalagi kalau yang diidolakan terbukti memiliki pangsa pasar yang besar, dimana letak salahnya? Saya pikir sama sekali tidak ada.
Sulit memang untuk memenuhi janji rutin membuat tulisan tentang fotografi (pernikahan) secara mingguan di hanyawacana.com ini. Tapi sebisa mungkin saya menepatinya, karena hanya konsisten menuliskan pikiran dan gagasanlah yang bisa memastikan kita tetap waras di tengah rutinitas.
Di tulisan kali ini, saya ingin merespon unggahan dari File Academy yang menyebutkan bahwa sepertinya banyak fotografer (pernikahan) lebih mengenal idolanya daripada konsumennya, sementara konsumen lebih kenal kompetitor ketimbang dirinya. Unggahan ini menggelitik pikiran saya, karena saya pikir itu sangat mungkin benar adanya. Bahkan, mungkin di benak calon pengantin bisa saja saat ini terlontar pikiran, “kalau sama saja kenapa harus pilih yang mahal?”
Tapi kenapa asumsi lontaran pikiran dari calon pengantin ini saya hubungkan dengan unggahan dari File Academy? Dan dimana hubungan logisnya? Sebenarnya antara kita para fotografer (pernikahan) dengan konsumen atau klien kita, calon pengantin, sedang mengalami masa yang sama, yaitu ledakan informasi. Jadi, ketika kita mudah menelusuri seluruh karya idola kita, mereka pun mudah mencari semua kandidat vendor fotografer pernikahannya. Belum lagi kalau kita ikutkan si algoritma yang seringnya menyodori kita informasi yang itu-itu saja, karena memang yang kita cari juga itu-itu saja.
Lalu, bisakah kita mulai membayangkan kalau kebanyakkan fotografer (pernikahan) sedang mengidolakan yang itu-itu saja, maka sudah dipastikan calon pengantin juga akan melihat tawaran yang juga itu-itu saja? Beridola tentu tidak salah, itu sangatlah lumrah. Apalagi kalau yang diidolakan terbukti memiliki pangsa pasar yang besar, dimana letak salahnya? Saya pikir sama sekali tidak ada. Ya, setidak-tidaknya seperti kata pepatah, sekali dayung dua-tiga pulau terlampaui, alias yang kita idolakan toh terbukti laku dipasaran, jadi apa salahnya kalau kemudian dirasa cukup berbisnis fotografi (pernikahan) hanya dengan sebatas mengikuti dan menjalani apapun yang telah dan sedang dilakukan oleh idola kita?
Dalam istilah yang canggih, biasanya itu disebut sebagai benchmarking, jadi kita pelajari betul-betul proses dan produk dari sosok model, patron atau dalam hal ini idola kita yang ada di industri sama atau berbeda itu. Nah, masalahnya apakah benchmarking bisa disamakan dengan sebatas mengidolai dan menirunya mentah-mentah? Atau yang saya sering lontarkan di acara-acara sharing dan workshop sebagai mindless copying? Alias niru tapi tanpa mikir!
Namun, karena judulnya meniru idola, maka tentulah berbeda dengan benchmarking tadi, karena yang terutama dari proses benchmarking ialah mempertimbangkan apakah yang akan dan sedang kita tiru itu dengan tempat kita berada dan beredar? Ya, misalnya idola kita ada di Rusia, terus kita ada di Tegalega, kan belum tentu kondisi pasarnya sama. Pertimbangan atas kekhasan dari kebutuhan konsumen di daerah masing-masing tetaplah harus diukur saat melakukan benchmarking, karena apa yang berhasil di Jakarta belum tentu otomatis diterima baik di daerah, dan kadang begitu juga sebaliknya.
Lantas kenapa dalam bisnis fotografi (pernikahan) saya anggap boleh dan sah-sah saja meniru plek-plekkan? Sekali lagi, karena ini juga perihal bisnis dan bukan hanya urusan seni-senian belaka, maka rasanya boleh dan sah-sah saja kita meniru tiap gerak-langkah idola kita. Lagipula, daripada saya bilang tidak boleh atau tidak mungkin padahal realitanya semuanya sedang terlihat sama saja, maka ada baiknya saya terima saja kenyataan itu, meski tentu tetap mencoba untuk melihat kemungkinan untuk menjadi berbeda dan mencoba melampaui tren yang ada, sambil mencari dan mengurai kekhasan yang ada. Tabik!
#CatatanRinganFotograferPernikahan
FITRA SUJAWOTO | PEMERHATI PARIWISATA DAN APA SAJA
Ilustrasi oleh Adam Rizki Taufik



