“Kereta berangkat jam sembilan dua belas,” ujar Mang Hafidz kepada kami begitu turun dari taksi daring di Cikudapateuh.
Di dekat stasiun kecil itu ada sejumlah jalan kecil yang namanya diambil dari nama bunga, misalnya Centé (ditulis “Centéh”), Pacar, Érgulo, dll. Membaca nama-nama jalan di “daerah perdu” sepanjang rel Cikudapateuh seperti mengingat bunga-bunga di taman dan pekarangan rumah dalam novel Sunda Marjanah (1959) karya Suwarsih Joyopuspito yang berlatar Bandung dasawarsa 1930-an. Saya pikir, lain kali baik juga jika saya meluangkan waktu buat keluyuran di seputar permukiman itu.

Di muka loket saya melihat arloji. Lumayan, ada lima belas menitan buat sketsa. Saya pilih pemandangan pojok stasiun yang relnya menyilang Kosambi, dan saya melihatnya dari peron sambil berdiri. Dengan pensil 2 B di atas kertas A-5, saya hanya sempat berlatih contour sketching. Biar nanti di dalam gerbong saya bisa menggarap dua tahap lagi: calligraphic line drawing dan spot black. Idealnya sih ketiga tahap itu ditempuh di tempat kejadian. Ya, itulah tiga jurus praktis dari Marc Taro Holmes, jagonya urban sketching. Apa daya, waktu terbatas, keterampilan masih lemah. Buat mengingat detail, terpaksa saya pakai kamera telepon selular.
Sudah beberapa kali saya naik kereta dari stasiun itu, juga sudah beberapa kali saya berlatih menggambar di situ. Buat saya, setiap kunjungan adalah pengalaman baru, juga peluang baru buat mengasah keterampilan menggambar.
Sambil merampungkan gambar dalam perjalanan, saya teringat kepada buku Roesdi djeung Misnem, buku bacaan anak sekolah rakyat karangan R. Djajadiredja dan A.C. Deenik. Tentu, generasi saya bukan bagian dari generasi yang membaca buku terbitan awal abad ke-20 itu. Namun, sewaktu melanjutkan sekolah di ITB saya menulis tesis tentang ilustrasi buku tersebut. Itu sebabnya saya teringat pada satu fragmen tentang kunjungan Rusdi beserta adik dan kedua orang tuanya ke Bandung. Fragmen dalam buku keempat, jilid terakhir, itu dikasih judul “Cikudapateuh”.
“Pada suatu malam Murdiam berembuk dengan orang tua Rusdi, hendak berkunjung ke Cikudapateuh, tempat serdadu-serdadu itu. Keesokan paginya, jam enam, semua berangkat, mau menonton serdadu berbaris. Jalan yang terlewati dari Banceuy lurus ke utara, berbelok agak ke barat, hingga tiba di sisi rel kereta api. Sesampainya di sana, kebetulan ada kereta api melintas ke timur,” begitu bunyi paragraf pembukanya jika saya terjemahkan dari teks aslinya dalam bahasa Sunda.
Dalam deskripsi pengalaman keluarga Rusdi “lalajo nu anéh-anéh, nu aya di Cikudapateuh (menonton serba-serbi yang menarik di Cikudapateuh)”, pemandangan yang menonjol adalah barisan tentara dengan iringan musik, bangunan gereja serta sekolah, dan tentu saja rel kereta. Pada dasawarsa 1920-an dan 1930-an Cikudapateuh ditandai bukan saja oleh halte kereta api (sejak akhir abad ke-19), melainkan juga dengan gedung pertemuan (sociëteit) “Militaire”, sekolah dasar I.E.V., I.E.V. Kweekschool voor Onderwijzers alias “Sakola Raja” menurut RdM), juga pabrik ubin alias tegel.
Di telinga saya, toponimi Cikudapateuh terdengar tragis. “Pateuh” adalah istilah Sunda buat “patah”. Tergambar dalam benak saya seekor kuda yang kakinya patah. Efek dramatis dari toponimi yang satu ini, rasa-rasanya, hanya bisa ditandingi oleh toponimi Singaparna.
Selain ada kuda patah kaki ada pula singa yang terluka parna (=parah). Pantas saja para pujangga buhun suka mereka-reka cerita yang digali dari arti kata yang terkandung dalam nama tempat, sampai-sampai kisah mereka diyakini sebagai sasakala, yakni cerita tentang asal-usul tempat. Sayang, belum sempat saya dengar sasakala Cikudapateuh.
Dalam buku Rusdi diceritakan bahwa kunjungan ke Cikudapateuh dilakukan dengan bergerak dari Banceuy. Kedua tempat itu bukan saja dekat jaraknya, melainkan juga dekat namanya. Menurut Kamus Umum Basa Sunda dari LBSS (1995), banceuy adalah istilah masa silam (baheula) yang berarti “kampung tempat istal jeung tukang ngurus kuda karéta baheula (kampung tempat istal dan pengurus kuda kereta zaman dahulu)”.
Waktu kereta tiba di stasiun Cicalengka, sketsa saya sudah rampung, bahkan sudah saya unggah ke akun medsos, itung-itung menyimpan ingatan. Sayang, di situ kali ini tidak ada waktu buat menggambar. Kami segera beranjak dengan menyewa angkot ke tujuan utama: Babakan Peuteuy, sekitar setengah jam dari stasiun, mendaki di jalur Kareumbi. Di situ, di sebuah rumah di dalam kebun, kami menginap semalam sambil mengadakan pelatihan jurnalistik buat teman-teman yang berminat menulis dalam situs jala Hanya Wacana.
Jika anak-anak zaman kolonial membaca Roesdi djeung Misnem, anak-anak generasi Orde Soeharto seperti saya membaca Taman Pamekar karangan A. Sanusi dan Samsudi. Dari buku itulah saya pertama kali mengenal nama Cicaléngka. Anak-anak yang jadi tokoh cerita dalam buku itu, seperti Aman, Isah, dan Ade, adalah anggota sebuah keluarga yang tinggal di Cicalengka.
Cicalengka adalah kota tua yang terdekat dari Bandung. Kota ini bahkan lebih tua daripada Bandung-nya Daendels. Pada zaman kekuasaan Sultan Agung merambah Priangan, sekitar abad ke-17, Cicalengka adalah pusat wilayah Parakanmuncang dan Kandangwesi, sebagaimana Bandung lama (Dayeuhkolot atau Krapyak) jadi pusat wilayah Ukur dan Timbanganten.
Sekali pernah saya diajak Mang Hafidz menemani murid-muridnya menggambar di alam terbuka di Kampung Rancabelut, yang juga tercakup dalam wilayah Cicalengka. Anak-anak itu adalah murid SMP Djuantika. Ya, Djuantika, nama lembaga yang merangkum nama dua tokoh sejarah yang melekat dalam ingatan Cicalengka: Ir. H. Djuanda dan Rd. Dewi Sartika.
Barulah esok harinya, ketika hendak kembali ke Bandung, saya punya waktu sekitar setengah jam buat menggambar suasana di stasiun Cicalengka. Sambil duduk, saya menggambar suasana di depan pintu keluar-masuk penumpang. Ini kali kedua saya berlatih menggambar di situ. Sebelumnya, saya menggambar keadaan stasiun sebelum dirombak. Kali ini suasana stasiun yang saya catat dalam gambar sudah berubah sama sekali. Sisa-sisa bangunan lama, dari akhir abad ke-19, digeser ke salah satu pojok kawasan stasiun, seperti barang pusaka.***
Editor: Hafidz Azhar



