
Bagi Plato, kebenaran adalah salah satu pangkal dari kebahagiaan—tidak heran Nietzsche menyebutnya sebagai sosok yang membosankan.
Entah kali keberapa saya melintas di perempatan Carrefour Kiaracondong. Dan entah kali keberapa pula saya berhenti karena lampunya merah. Perempatan ini spesial, bukan karena pake telor bebek tapi karena lampu merahnya yang memiliki durasi lebih lama dibandingkan dengan perempatan lainnya di kota Bandung.
Saking lamanya, ada banyak hal yang bisa kita lakukan di sini, seperti memasak Indomie, bermain futsal, mencari lubang hitam, memikirkan kembali arti cinta dan cicilan rumah, mengapa banyak webinar tentang 4.0, bahkan bisa sambil kuliah dan ketika lampu sudah hijau, tau-tau lulus, sudah pakai toga!
Lampu merah ini saya kira telah banyak menghabiskan setengah lingkaran waktu yang sangat krusial bagi para pencari cuan. Kita bisa melihat dari gestur tubuh mereka di atas motor atau di dalam mobil. Gelisah, resah, dan tidak sabar untuk bergerak. Tapi apa daya, lampu masih merah. Melanggar bisa kena tilang, cuan yang didapat bisa kembali hilang.
Saya sering membayangkan, apa jadinya jika Plato terjebak di lampu merah ini. Apakah ia akan membuka Akademia cabang Kircon dan memulai dialog seputar kebenaran dengan orang-orang yang ada di sana? Apakah orang-orang akan memperhatikannya, akan mengamininya? Atau malah cuek-cuek saja. Karena apalah arti kebenaran daripada cuan yang bisa membetulkan kehidupan mereka dalam waktu yang singkat!
Banyak orang yang menghindari kebenaran karena ruwet dan memusingkan. Kecuali jika sedang dan lapar di depan mata ada sebungkus nasi Padang: “kebenaran banget!” Orang lebih suka menerima kebenaran yang sudah tersedia di depan mata mereka. Serupa ragam masakan yang di sajikan di etalase Warteg. Tinggal dipilih saja. Ada yang mencernannya dengan perlahan, dengan cepatnya, dan banyak pula yang mencernanya dalam sekali suapan—akibatnya mereka tersedak.
Bagi Plato, kebenaran adalah salah satu pangkal dari kebahagiaan—tidak heran Nietzsche menyebutnya sebagai sosok yang membosankan. Tapi memang betul, walaupun keliru di mata orang lain, perasaan atau merasa benar dapat membuat kita punya hati bahagia. Sebuah penyangkalan terhadap apa yang disepakati sebagai sebuah kebenaran dengan kebenaran yang kita yakini sah-sah saja, bukan?
Seperti lampu merah perempatan Carrefour Kiaracondong yang durasinya lebih lama itu pun sah-sah saja, bukan? Lampu merah yang lama ini terpaksa membuat kita berhenti lumayan lama. Membuat kita banyak berpikir tentang ini itu dan itu ini. Orang yang mencari kebenaran pun adakalanya harus berhenti atau dipaksa agar tidak terseret ke dalam rimba yang menyesatkan—memikirkan kembali laku-lampahnya dalam pencariannya itu.
Pencarian terhadap kebenaran adalah pencarian yang sama sekali tidak mudah, Attar menggambarkannya begitu getir dalam Musyawarah Burung. Di mana, di ujung pencarian terhadap Simurgh, dari ratusan burung yang berpartisipasi hanya menyisakan sekitar 30 ekor burung. Mereka berhasil menemukan Simurgh dan ternyata Simurgh, kebenaran itu sendiri sejatinya telah mereka miliki sejaki kali pertama sayap mereka dikepakan.
Haji Hasan Mustopa, mistikus Sunda dalam salah satu dandingnya menggambarkan pencarian terhadap kebenaran sebagai sebuah pengulangan yang abadi, karena:
Sapanjang neangan kidul,
kalér deui kaler deui,
sapanjang néangan wetan,
kulon deui kulon deui,
sapanjang neangan aya,
euweuh deui euweuh deui.
Itulah mengapa, adakalanya kita harus berhenti. Serupa Siddharta Gautama yang memutuskan untuk berhenti di bawah pohon Bodhi itu.
LINGGA AGUNG | KOLOMNIS & DOSEN DKV TELKOM UNIVERSITY



