Kejutan dari Hasan

 

 

Pantun atau carita pantun Sunda berbeda dengan pantun Melayu, carita pantun adalah teater tutur, meskipun sama-sama berbentuk puisi carita pantun lebih mirip dongeng yang diiringi petikan kecapi.

Tanggal 12 Januari kemarin saya mendapat kiriman dua bundel fotokopian dari pedagang buku bekas. Keduanya adalah hasil dokumentasi Ajip Rosidi, pertama Dangding Djilid anu Kaopat antologi puisi guguritan karya sufi sunda yang cukup ternama Haji Hasan Mustapa. Kedua, kopian dari carita pantun yang berjudul Sri Sadana atau Sulanjana, namun kopian ini tidak lengkap, yang mengkopi langsung pada bagian awal cerita, bagian sampul dan pengantar dilewati. Pantun atau carita pantun Sunda berbeda dengan pantun Melayu, carita pantun adalah teater tutur, meskipun sama-sama berbentuk puisi carita pantun lebih mirip dongeng yang diiringi petikan kecapi.

 

Pantun biasanya didaras pada upacara tertentu, semakin bertalian dengan padi semakin tinggi kesakralannya, seperti carita pantun Lutung Kasarung di Kasepuhan Ciptagelar, juga carita pantun Langga Sari di Kanekes, Baduy. Begitu juga Sri Sadana atau Sulanjana ini, yang menceritakan Sanghyang Sri sang dewi padi. Carita pantun dan guguritan Haji Hasan Mustapa memiliki kedudukan yang sangat penting dalam sastra sunda, saya kira hanya Ajip yang begitu bersikeras agar guguritan Hasan Mustapa dan carita pantun terdokumentasi dengan baik.

Dangding Djilid anu Kaopat adalah hasil dokumentasi pertama Ajip atas karya Hasan Mustapa. Dalam autobiografi Ajip, Hidup Tanpa Ijazah, ada kesan Ajip mengenal Hasan Mustapa di rumah Utuy T. Sontani, tapi yang jelas di rumah sastrawan yang terjebak arus politik ’65 itu ia sering membincangkan Hasan Mustapa. Utuy dan temannya yang lain sangat mengagumi Hasan Mustapa dianggap sebagai seorang bujangga besar, tetapi ketika ditanyai karya sastra Hasan Mustapa entah itu kepada Utuy ataupun sastrawan yang lain jawabannya selalu nihil. Memang ada beberapa orang pengagum Hasan Mustapa yang mengirim puisi Hasan Mustapa pada media massa, di antaranya Wangsaatmadja yang mengirimkan guguritan Hasan Mustapa ke majalah Warga, tapi karena keterbatasan ruang dalam majalah guguritan yang dikirimkan oleh oleh Wangsaatmadja tidaklah utuh hanya beberapa bait saja, sedangkan rata-rata guguritan Hasan Mustapa puluhan bahkan ratusan bait. Dari majalah Warga itulah Ajip pertama-tama mengenal puisi karya Hasan Mustapa, yang semakin memupuk benih rasa penasaran Ajip pada puisi Hasan Mustapa.

Berbagai cara dilakukan Ajip agar mendapatkan guguritan Hasan Mustapa, sampai beberapa tahun kemudian seorang cucu Hasan Mustapa berkenan mengantar Ajip untuk bertemu Wangsaatmadja, menurut cucu Hasan Mustapa itu, Wangsaatmadja banyak menyimpan tulisan-tulisan Hasan Mustapa. Pada kenyataannya usaha itu sia-sia, Wangsaatmadja tidak berkenan untuk meminjamkan dokumen-dokumennya tentang Hasan Mustapa, alasannya suatu waktu pernah ada seseorang yang meminjam satu dokumen tapi sang peminjam tidak pernah mengembalikan dan Wangsaatmadja lupa lagi siapa yang meminjam itu. Walau begitu, hal ini tidak menghalangi Ajip untuk mengunjungi Wangsaatmadja di kemudian hari, menurut Ajip meski tidak mendapatkan puisi-puisi Hasan Mustapa, paling tidak cerita tentang Hasan Mustapa bertambah. Sampai suatu hari Ajip bertemu dengan R. Prawirasoetignja sejawat Wangsaatmadja sama-sama pengagum Hasan Mustapa, ialah yang meminjami Ajip Gending Dangding jilid IV yang dalam dokumentasi Ajip bertajuk Dangding Djilid anu Kaopat.

Di bagian pengantar tertera titimangsa Tjihideung, Oktober 1960 tapi di buku yang lain Ajip tidak konsisten kadang menyebut 1960 kadang 1961 sebagai tahun rilis Dangding Djilid anu Kaopat. Dalam bagian pengantar pula Ajip menulis bahwa ini merupakan stensilan yang diusahakan untuk keperluan studi oleh sebab itu tidak dieperdagangkan. Mungkin sebab itu Dangding Djilid anu Kaopat ini tersebar berupa kopian.

Hasan Mustapa wafat pada 13 Januari 1930 di Bandung, tanggal wafat Hasan Mustapa ini tertera pada lembar kedua setelah pengantar. Anehnya tanggal ini tidak disebut di karya Ajip selanjutnya, dalam Ensiklopedi Sunda misalnya, hanya disebut tahun lahir dan wafatnya saja, lahir di Cikajang, Garut 1852 dan wafat di Bandung, 1930. Di dalam Haji Hasan Mustapa jeung Karya-Karyana—sampai sekarang buku ini menjadi buku babon dalam kajian Hasan Mustapa—Ajip hanya menyebutkan tanggal lahir dan wafat Hasan Mustapa dalam penanggalan Hijriah saja yakni lahir 15 Sya’ban 1268 dan wafat tanggal 19 Sya’ban 1348. Saya belum sempat memeriksa apakah 19 Sya’ban 1348 Hijriah itu bertepatan dengan 13 Januari 1930. Jika ini identik berarti tidak bisa disangsikan lagi saya menerima Dangding Djilid anu Kaopat itu satu hari sebelum haul Haji Hasan Mustapa ke 92, dan saya baru tahu Hasan Mustapa wafat 13 Januari dari Dangding Djilid anu Kaopat.

Dangding atau guguritan adalah puisi sunda yang terpengaruh macapat jawa. Hanya empat bentuk pupuh atau dangdingan yang digunakan dalam Dangding Djilid anu Kaopat, yaitu Sinom, Dangdanggula, Asmarandana, dan Kinanti. Jika dijumlah secara keseluruhan terdapat 2.180 bait puisi yang ada dalam Dangding Djilid anu Kaopat, yang terbagi menjadi empat belas judul yaitu: Sinom Barataning Rasa, Kinanti Kulu-kulu, Dangdanggual Sirna Rasa, Asmarandana Djadjaten Tulen, Sinom Kalakaj Kondang, Kinanti Panglipur Galuh, Asmarandana Kitab Leutik, Dangdanggula Babaran Rasa, Sinom Piwulang Si Runtjangkundang, Dangdanggula Amis Tiis, Sinom Babaraning Purwa, Sinom Kapalang Tembang, Dangdanggula Tjisambeng, dan Asmaranda Maribaja.

Menurut Ajip guguritan Haji Hasan Mustapa banyak menggunakan perlambang dari peri kehidupan orang sunda di masa silam, oleh karena itu untuk memahami puisi-puisi Hasan Mustapa tidak cukup hanya dengan mengetahui perangkat ilmu dalam keilmuan islam. Dalam mengkaji karya-karya Hasan Mustapa perlu juga memahami —dalam istilah Ajip— filsafat sunda kuno, juga folklor, mitologi, kosmologi, sejarah sunda, dan sebagainya. Saya kira yang paling dekat dengan puisi-puisi Hasan Mustapa adalah carita pantun, bukan hanya unsur-unsur lakonnya saja yang ia ambil, kata dan rangkaian kata dalam dangding Hasan Mustapa sangat beraroma carita pantun. Lebih jauhnya, bisa jadi ada kesamaan antara carita pantun dan puisi sufistik, yakni dalam syatahat.

Kalau membaca Haji Hasan Mustapa jeung Karya-Karyana kita akan tahu bahwa Hasan Mustapa sangat suka bercanda bahkan berkelakar. Pun seorang bupati, yang di zaman itu disembah layaknya dewa, tak lepas dari kelakar Hasan Mustapa. Bukan kebetulan hari kamis 12 januari kemarin saya mendapat Dangding Jilid nu Kaopat, Hasan Mustapa mungkin ingin mencandai saya agar ingat mengiriminya fatihah di malam jumat itu.

 

HADY PRASTYA | TUKANG KAYU

image: Sharm Murugiah

Picture of Redaksi

Redaksi