Untuk bulan Ramadan, saya masukkan buku klasik karya A.R. Baswedan ke dalam daftar bacaan. Buku ini pertama kali diterbitkan oleh Bulan Bintang pada 1940 dengan judul, Rumah Tangga Rasulullah, dan dicetak ulang enam kali dalam tempo tiga dasawarsa. Cetakan ke-7 diterbitkan oleh Salahuddin Press pada 1985 dengan judul baru, Bilik-bilik Muhammad: Novelet Rumah Tangga Rasulullah SAW, tanpa perubahan dalam isinya. Buku saku 78 halaman inilah yang ada pada saya.
Sebelum membacanya, saya berprasangka baik. Seperti tercermin dari judulnya, tema buku ini sensitif, terkait pada ruang intim Kanjeng Rasul. Buat saya, jangankan untuk menyusup ke dalam “bilik” Nabi, bahkan untuk mengetuk pintu kamar rektor saja, rasa-rasanya tidak sanggup. Pikir saya, niscaya pengarang buku ini tidak hendak berbuat lancang, melainkan justru untuk menghikmati teladan. Buat setiap muslim yang saleh, figur Muhammad SAW merupakan role model. Orang mau mencontoh berbagai aspek dari kehidupan pribadinya.
Di halaman “Persembahan” ada sekuntum sajak dari sang pengarang buat istrinya. Itu pasti kado istimewa buat orang tercinta. Sajaknya digubah di Cilimus pada 1940, sekitar delapan tahun sebelum sang istri wafat. Boleh jadi buku ini merupakan refleksi tersendiri dari seseorang yang menghayati hubungan batin suami-istri.
Inisial “A.R.” kiranya dari Abdurrahman, kakek Anies Rasyid. Sebagaimana cucunya kelak, dia adalah figur penting di panggung politik Indonesia pada masanya. Dia memimpin Partai Arab Indonesia (PAI) yang turut memperjuangkan kemerdekaan bangsa Indonesia. Kiranya benar pandangan Buya Hamka dalam sambutannya: Tuan Baswedan diberkati kesanggupan menyerap sumber-sumber bacaan berbahasa Arab untuk menuangkan gagasannya ke dalam bahasa Indonesia. Walhasil, tertuanglah deskripsi liris tentang hubungan manusiawi antara Kanjeng Rasul dan para istrinya, bunda kaum muslimin dan muslimat sejagat.
Dengan sapuan halus dia menggambarkan sebuah bilik sempit beralas tikar tipis di dalam masjid. Di situ sekali waktu Kanjeng Rasul berkhalwat, menyendiri, menjauh dari istri-istrinya. Baginda rupanya sedang masygul sehubungan dengan sikap istri-istrinya. Seluruh Madinah seakan terguncang, dan semua orang bertanya-tanya, apa yang sedang terjadi sesungguhnya?
Di seputar peristiwa itulah pengarang menggambarkan sikap, perbuatan, dan perkataan para istri Kanjeng Rasul. Tergambar, misalnya, adanya dua kubu, timbulnya sikap cemburu, atau intrik di kedua kubu untuk sama-sama menuntut harta benda atau perhiasan dunia sejenisnya. Namun, semua itu dilukiskan secara lembut, dengan tetap menjaga adab atau hormat kepada Sang Panutan beserta para bunda umat Muslim.
“Kisah ini berasal daripada cerita Hadits dan cerita Akhbar, tentang beberapa peristiwa yang terjadi di antara Rasulullah saw. dengan istri-istrinya r.a.,” kata A.R. Baswedan.
Di sana sini lukisan peristiwa tersebut tak terlepas dari bingkai sejarah yang lebih luas, misalnya perihal keberhasilan Kanjeng Rasul beserta kaum Muhajirin dan Anshar memantapkan panji Islam di Mekah. Dari penggalian “berbagai kitab”, pengarang berupaya menyambungkan benang-benang naratif mengenai tema yang satu ini, yang berlepasan dalam sejumlah risalah. Ia untai dengan penuh perasaan hingga pembaca dapat mengikuti jalan ceritanya.
Belasan catatan kaki ditambahkan ke dalam novelet ini. Tentu, itu buat pembaca yang hendak menelisik lebih jauh segi-segi tertentu dari cerita ini. Saya sih meluncur saja ikut jalannya cerita. Baru pada pembacaan kali kedua, segala catatan dan pengantar saya perhatikan, sambil mengolah pikiran saya sendiri. Namun, lambat-laun terpikir pula kesan dalam benak saya bahwa novelet ini tak ubahnya dengan catatan kaki tersendiri di halaman sejarah Nabi. Sungguh, buku klasik yang tetap layak baca, tak terkecuali buat menunggu waktu buka puasa.
Editor: Hafidz Azhar



