Kereta Cepat Ternyata Datang Terlambat

 

 

Lagi-lagi, sama halnya dengan cerita-cerita kemajuan lainnya, ada saja yang tertinggal bahkan sengaja tinggal karena tidak nyaman dengan segala yang sudah maju-maju itu.

 

 

Saya belum pernah pergi ke Jepang, apalagi naik kereta shinkansen yang supersonik itu. Kereta yang larinya macam peluru itu menjadi bukti dari kebangkitan ekonomi Jepang pasca perang dunia II. Dan entah mau membuktikan apa atau bangkit dari mana, Indonesia juga mulai membangun kereta cepat dengan trayek Bandung-Jakarta yang ternyata malah mengalami keterlambatan. Tulisan singkat ini bukan mau membahas tentang alasan kenapa kereta yang katanya cepat itu kok malah bisa telat. Saya malah ingin bercerita sedikit panjang lebar tentang betapa nikmatnya menggunakan moda kereta api yang berjalan lambat-lambat. 

“Iki mesti masinis e lagi ngeterke undangan anakke rabi, kok jan suwe tenan, asu!” Celetuk salah satu penumpang kereta di suatu gerbong yang sesak dan sedang penuh oleh hawa nafsu itu. “Biasanya gini ini nyampe di Kediri jadi lewat dzuhur Mas.” celetuk penumpang lainnya. Saat itu, tiket kereta ekonomi berbentuk seperti kupon lotre dan tidak ada informasi tentang jam keberangkatan atau jam kedatangan. Jadi jangankan bicara tentang kecepatan, lha wong jam kedatangan kereta api saja hanya dikira-kira sesuai dengan kebiasaan rutin dari moda transportasi warisan belanda itu. Penampakan wajah dan aroma penumpangnya pun khas, kita akan sama-sama berwajah lebih glowing dan beraroma keringat yang sudah tercampur dengan bau khas dari besi tua.

Sepertinya, dalam amat-amatan saya, tingkatan kelas dari kereta api selain dibedakan oleh fasilitas, juga dibedakan berdasarkan lama waktu tempuh. Kereta dengan rangkaian gerbong eksekutif tentu tiba di stasiun paling awal, disusul kereta bisnis, lalu paling bontot kereta ekonomi. Fasilitasnya ya tentu saja berbeda, meskipun tidak perlu lah pakai istilah bagaikan bumi dan langit. Gerbong kereta eksekutif dilengkap dengan kursi empuk yang bisa direbahkan sandaran punggungnya, lalu juga selimut gratis agar penumpang bisa melawan dinginnya AC di sepanjang perjalanan. Sementara gerbong bisnis, ya anggap saja dengan fasilitas di tengah-tengah antara eksekutif dan ekonomi. Paling akhir dan merakyat sudah barang tentu gerbong ekonomi, yang bisa diseliweri pedagang kapanpun juga, ditambah hembusan angin dari jendela yang atasnya sedikit terbuka, sampai kursi dengan sandaran punggung yang selalu siap siaga tanpa bisa direbahkan sedikitpun, alhasil penumpangnya tampak bak prajurit yang pulang menuju kampung halamannya.

Ceritanya juga bisa lain ketika kereta yang kita tumpangi tiba-tiba mogok akibat dari satu-dua alasan yang simpang siur. Banyak penumpang mulai turun ke pinggir kereta dan saling bertukar cerita, sekaligus untuk menghilangkan rasa bosan dan penat atas ketidakjelasan. “Mau pergi kemana, Mas?” Jenis sapaan khas dari sesama penumpang kereta ekonomi untuk memulai suatu topik pembicaraan, berikutnya kita akan berbincang kesana-kemari tentang apa saja, lebih dari sekedar arah dan tujuan yang sesungguhnya. Pernah juga saya mendapatkan semacam wejangan dan motivasi bisnis dari salah satu penumpang yang ternyata adalah seorang pedagang celana dalam. Dia membeli celana dalam secara grosiran di Pasar Baru Bandung, lalu menjualnya lagi di daerah-daerah kecil di Jawa Timur setelah dikemas ulang dalam bentuk kotak kardus isi 3 agar seperti kemasan celana dalam bermerk yang ada di mal-mal.

Tantangan lain dari menumpang kereta ekonomi saat itu adalah mencari tempat duduk yang tepat. Entah apa alasannya, tiket kereta ekonomi di masa itu tidak mencantumkan nomor duduk penumpang. Akibatnya kita harus berjalan sepanjang lorong gerbong dan berlomba mencari untuk kursi kosong. Memang bila situasinya tidak terlalu ramai, kita bisa segera dapat tempat duduk. Tapi bila kita berpergian di hari-hari libur atau hari besar, seperti hari raya idul Fitri, situasinya akan menjadi riuh dan heboh. Penumpang akan membludak dan memenuhi lorong bahkan bordes hingga toilet umum pun tak luput jadi oase para penumpang selama perjalanan.

Meski ironis, nuansa kereta ekonomi ini cenderung lebih romantis bila dibanding kereta bisnis, apalagi eksekutif. Selain teman bercakap sepanjang perjalanan, ada juga berbagai fasilitas hiburan dadakan yang bisa tiba-tiba muncul. Dari mulai pengamen yang sekadar membawa gitar, hingga rombongan orkes dengan peralatan perkusi lengkap. Belum lagi maraknya jenis jajanan dari berbagai pedagang yang ikut naik sepanjang perjalanan. Para pedagang ini selain jadi penawar dahaga dan lapar, bisa juga jadi penanda kita sudah tiba di daerah mana. Kalau sudah terdengar, “Pecel! Pecel!” maka kira-kira kita sudah memasukki daerah Madiun atau Blitar, di Jawa Timur.

Meski lambat dan semrawut, tapi perjalanannya selalu penuh warna dan kehangatan. Apa semua pengalaman itu bisa didapat dari kereta cepat? Tentu saja saya ragu, bukan hanya karena kecepatannya tapi juga karena fasilitasnya yang entah kenapa saya punya keyakinan bahwa karena AC yang dinginlah, para penumpang jadi lebih memilih untuk menjadi penyendiri daripada bersosialisasi. Banyak yang tentu bergembira atas kemajuan yang ada, tapi ada saja yang jadi segan dan tersiksa dengan kemajuan yang ada.

 
Lagi-lagi, sama halnya dengan cerita-cerita kemajuan lainnya, ada saja yang tertinggal bahkan sengaja tinggal karena tidak nyaman dengan segala yang sudah maju-maju itu. Soal hitung-hitungan bisnis transportasi tentu hukumnya sederhana, semakin cepat dan semakin nikmat suatu moda transportasi, maka biaya tiketnya dipastikan akan semakin mahal. Dan seperti lazimnya bisnis-bisnis lainnya, tentu harus mempertimbangkan sejauh mana konsumen memang membutuhkan fasilitas-fasilitas baru dan maju itu, karena setiap yang cepat belum tentu menggantikan yang lambat, dan setiap yang mewah belum tentu menggeser yang sederhana. Jadi, apa yang mau dibuktikan Indonesia dari kereta cepat yang ternyata datang terlambat itu?***
 
FITRA SUJAWOTO | PEMERHATI PARIWISATA DAN BUDAYA
 
Ilustrasi oleh Adam Rizki Taufik
Picture of Redaksi

Redaksi