Kios Buku Tjihapit: Bertahan di Tengah Larangan

Pak Bagdja (60) pemilik Kios Buku Tjihapit. (Foto: Viona Sri Nurazizah).

Terik matahari tepat berada di atas kepala. Saya memutuskan untuk berkunjung ke sebuah lapak buku yang berada di Jalan Cihapit, Kecamatan Bandung Wetan, kota Bandung. Saat tiba di depan lapak tersebut, suasana yang terlihat sangat berbeda dengan lokasi yang pernah saya kunjungi lima tahun lalu. Lapak itu kini sudah tidak lagi berupa tembok dan berubah menjadi saung yang dihimpit dengan kios makanan.

Langkah demi langkah tercium bau khas dari kumpulan buku lawas saat memasuki kios tersebut. Saya pun dikelilingi oleh tumpukan-tumpukan buku dengan tampilan kertas yang telah berjamur dan berdebu.

Di lapak itu, saya menemui Pak Bagdja yang kini telah berumur 60 tahun. Pak Bagdja merupakan pemilik lapak buku itu sejak tahun 2000-an. Lapak tersebut dikenal dengan Kios Buku Tjihapit. Semula Pak Bagdja mendapat Kios Buku Tjihapit dari temannya. Menurut penuturan Pak Bagdja Kios Buku Tjihapit sudah ada sejak tahun 1980-an. Karena berbagai hal Kios Buku Tjihapit kemudian dijual kepada Pak Bagdja.

Setelah sah menjadi milik Pak Bagdja, Kios Buku Tjihapit lambat laun dibenahi, sehingga waktu itu tidak sedikit yang sekadar ikut nongkrong atau untuk membeli buku. Dari berbagai tumpukan buku, Pak Bagdja mematok harga bervariasi. Dimulai Rp10.000 hingga Rp30.000 ke atas, tergantung jenis bukunya.

“Kalau dulu, sebelum Ridwan Kamil jadi wali kota ini sempet pakai rolling door. Tapi semenjak jadi wali kota, kaki lima gak boleh permanen jadi dibongkar semua pake tenda sepanjang ini” ucapnya dengan nada lesu.

Pak Bagdja biasa mengisi stok buku dari pedagang loakan yang berkeliling. Bahkan sering juga mendapat buku yang sudah langka untuk disejajarkan dengan ribuan buku lainnya. Kalau dihitung hampir 7000-an buku terpampang di kios buku Pak Bagdja.

Kios Buku Tjihapit dari depan. (Foto: Viona Sri Nurazizah).

Dari sisi pelanggan, kebanyakan yang datang berasal dari mahasiswa. Mereka banyak mengincar buku yang berbau politik atau pun sejarah. Pak Bagdja menjelaskan kios tersebut menjadi saksi atas kesuksesan para pelanggannya. Ia pun merasa bangga memiliki kios buku itu.

“Yang saya senangi itu dalam mengelola kios buku ini ketika bisa melihat perjalanan seseorang dari mulai kuliah, lulus bahkan ada yang menjadi dosen” ucapnya.

Sayangnya, setelah Ridwan Kamil resmi menjadi Wali Kota Bandung tahun 2013, tempatnya tidak boleh lagi dipermanenkan dengan tembok yang kokoh. Kios buku Pak Bagdja hanya boleh memakai saung kecil yang terbuat dari terpal.

“Ya karena ini lahan pemerintah, mungkin Pak Ridwan Kamil membuat kebijakan itu agar mempermudah jika suatu saat tempat ini harus dikosongkan dengan menggusur para pedagang kaki limanya” ujarnya.

Bagian dalam Kios Buku Tjihapit. (Foto: Viona Sri Nurazizah).

Kondisi tersebut tidak membuat Pak Bagdja mundur. Ia terus berusaha menjalankan usahanya dan tetap beroperasi sampai saat ini. Bahkan masa emasnya semakin menurun setelah Covid-19 melanda beberapa tahun silam. Ditambah kurangnya minat baca masyarakat dan juga persaingan di lapak daring.

Suasana lengang sejenak. Saya melihat lagi sekeliling. Inilah keadaan ketika usahanya sempat mati suri selama tiga tahun. Rak-raknya dihiasi dengan bingkai jaring laba-laba. Meski demikian, Pak Bagdja tetap memiliki semangat yang sama dalam melanjutkan usaha kios bukunya itu. Ia akan menata kembali tempatnya menjadi lebih elok lagi.

Sebelum saya pulang, Pak Bagja bilang kalau dirinya berniat untuk menjual semua bukunya secara daring. Ia akan selalu memperjuangkan kios buku ini hingga pemerintahan menghapus bersih jalanan tempat pedagang kaki lima di sekitar Cihapit.

 

Editor: Hafidz Azhar

Picture of Viona Sri Nurazizah

Viona Sri Nurazizah

Mahasiswi Sastra Inggris, Unpas. Sedang menjadi reporter di hanyawacana.id.