Pada masa setelah perang muncullah moka es alias moka kocok. Karena tuan seorang Meneer sehingga tuan tidak dapat berkunjung ke warung kopi, dapatlah tuan menjaga kepatutan hidup tuan dengan mencicipi moka kocok yang tersaji di teras teater Menteng.
Moka kocok adalah ciri khas Jakarta yang amat unik sehingga kota ini tetap bercokol dalam benak semua anak Betawi baik yang sudah gaek maupun yang masih hijau. Begitu pula penemunya, yakni tukang kopi, jadi figur Jakarta yang menonjol. Dialah yang sering menemukan jenis minuman yang amat didoyani oleh orang Jakarta yang kerjanya keluyuran dan sering kehausan.
Tak jadi masalah apa idenya baru ataukah tidak. Yang penting, tukang kopi bisa melihat peluang buat mempopulerkan minuman kepada orang Jakarta. Yang juga penting, apa orang Jakarta mau menerima ide-ide baru dan tertarik dengan soal-soal yang menjanjikan.
Jakarta sempat menerima setrup kelapa kopyor yang ditawarkan oleh setiap warung kopi (cuma lima “gob” — setengah sen — pergelas). Itulah gelembung kelapa kopyor yang bukan main besarnya, dikasih setrup vanila dan es pula lho. Sebagai minuman “pembuka” selalu tersaji setrup biasa (dengan selasih, kolang-kaling atau parutan kelapa).
Pada jam dua siang, selagi anda di Jakarta merasa jadi Beau Geste di gurun Sahara, seruput saja setrup kelapa kopyor biar anda jadi orang saleh. Coba deh aduk bagian bawahnya dengan sendok bergagang panjang itu, biarkan dulu bola esnya di permukaan sebelum meleleh di sepanjang gagang sendok, lalu dengan bibir atas dan hidung tepat di bola es itu, seruputlah perlahan-lahan, dan sesekali gumpalan dingin meluncur di lidahmu. Nyes, nyes!
Lalu tiba saat yang singkat buat setrup coklat susu: gelasnya gede, penuh setrup coklat, susu sapi nan segar, dan es. Wow! Lima belas sen. Biar tambah komplit ada seporsi kecil tahu goreng, yang baru diangkat dari wajan. Santap tahunya, seruput sirupnya, berulang-ulang.
Apa boleh buat, segera datang musim es sanghai merajai pasar. Mula-mula minuman ini disajikan di warung tenda miring di seberang bioskop Rialto. Itu dia es sanghai yang asli: parutan es bercampur susu kental manis ditambah air dan butiran anggur.
Coba dengar! Minumnya jangan terburu-buru. Lekatkan dulu ujung hidung dengan mulut terbuka ke gunung es itu. Arahkan bola matamu ke Si Engkoh sambil mengetukkan telunjuk: “tok!” Bilang: “Lagi ‘atu!”
Es sanghai masih sangat populer, meski komposisinya sudah banyak berubah, dan orang menyebutnya es kombinasi.
Pada masa setelah perang muncullah moka es alias moka kocok. Karena tuan seorang Meneer sehingga tuan tidak dapat berkunjung ke warung kopi, dapatlah tuan menjaga kepatutan hidup tuan dengan mencicipi moka kocok yang tersaji di teras teater Menteng. Di situ ada, misalnya, moka kocok buat Meneer dan Glas de Pépé buat Mevrouw. Bahkan tuan akan merasa senyaman di Glodokplein atau Kramat dengan para pengemis dan musisi jalanannya (ya, tuan kenal betul kan lagu “Die Mauje Maul’n” dan “Sersan Mayor”).***
(bersambung)
***Diindonesiakan oleh Hawe Setiawan dari kolom “De Stad van Koffieboeren” dalam kumpulan kolom Piekerans van Een Straatslijper (1976) karya Tjalie Robinson. Nama resmi penulis ini adalah Vincent Mahieu. Dia adalah cerpenis dan kolomnis terkemuka dari lingkungan Eurasia pada masa-masa akhir periode Hindia Belanda.




