Kotanya Warung Kopi – Tjalie Robinson (2)

Ilustrasi Adam Rizqi Taufik

Bahkan orang mulai bereksperimen dengan minuman tersebut. Di
restoran Padang di seberang teater Alhambra, misalnya, tersaji moka kocok tanpa
moka sama sekali.

Pengocoknya sih “mirip” betul. Moka esnya hampir-hampir bisa
disebut sorbet, warnanya kayak sarikaya dan busanya yang beku terasa di
langit-langit mulut Anda hingga Anda bisa bilang “amin”.

Di situ juga ada seorang pengemis banyak akal. Begini: tadinya
saya pikir ada tiga pengemis, tapi kemudian ternyata orangnya itu-itu juga,
cuma dia bisa mengubah-ubah penampilan di balik tabir (very, very decent
indeed
!): sekali pakai jaket, kemudian mengenakan topi, lalu berubah suara.
Betapa senangnya saya menikmati moka es di situ.

Namun, saya tidak mau melantur: sebagai duta jalanan yang punya
“ikatan kekeluargaan” dengan tukang keluyuran, tukang kopi tak lain dan tak
bukan dari orang yang menyajikan minuman dari botol, tapi dia sangat suka
membuat teman-temannya senang. Dia suka dipanggil Koh atau Kecil dan dia dapat
menyebutkan nama banyak pelanggannya: Sinyo Kaka (Karel) atau Tuan Kalap (De
Graaf). Dia mafhum bahwa pelanggannya, sebagai orang Jakarta yang baik, punya
banyak pendapat soal minuman dinginnya. (“Tambah gulanya, dong!” “Kurang susu
nih, Koh!”) dan umumnya soal kekurangan yang dirasakan dari minuman dari botol
itu. Dia akan membiarkan minumannya terlihat (atau terdengar) dikocok-kocok.

Biar para pelanggan
merasa nyaman
seratus persen, dia biarkan warung kopinya dikelilingi
oleh penjaja gado-gado, sate, juhi, jakien, dan tahu goreng. Alhasil, selalu
tercium aroma makanan enak di sekitar warung kopi, aroma nan hangat (dan menguar)”. Terkadang
sengaja dibuat begitu. Tukang kopi sangat paham caranya membuat orang merasa senang, bahagia,
dan leluasa.

Nyatanya, orang menemukan elemen kebersahajaan yang tidak lagi
mudah didapatkan di rumah modern: menyuguhkan
sesuatu yang unik, hal yang istimewa, yang dapat menjadi ciri hakiki dari rumah
yang nyaman dengan nyonya rumah yang ramah. Setiap ibu rumah tangga tempo dulu punya spesialisasi
masing-masing, yang membuatnya terpandang: anasprol atau kue sabit (halve
maantjes
) atau kue semprong,
cendol
istimewa, bir teh (theebier),  atau sirup susu buatan sendiri.

Sekarang sih tidak lagi begitu. Itulah sebabnya Indonesia kekurangan sesuatu dari
keramahannya yang dulu terkenal. Menerima tamu dengan segelas air tidaklah
istimewa. Melayani tamu dengan sesuatu yang jadi ciri khas sebuah rumah dan
yang menunjukkan apresiasi serta pengetahuan menyangkut buatan negeri sendiri
sungguh istimewa.

Jika Anda membuka-buka
halaman Esquire, Ladies Home Journal dan Post, Anda dapat
melihat bahwa orang Amerika menunjukkan sikap yang jauh lebih bersahaja ​​dan mencintai buatan
negerinya sendiri. Di sana (terutama
di negara
-negara bagian di
kawasan Selatan) ada koleksi fizzes,
cocktail, punch, long drink dan jus yang menakjubkan,
terdiri atas berbagai jus buah, soda, kopi, susu, dan dipersedap dengan lemon,
alkohol atau minyak zaitun, yang penampilannya sungguh membuat Anda berenang
dalam kesenangan (visual). Betapa tidak, sebab ketika Anda membuka lemari es sendiri, di
situ cuma ada jeruk nipis, kan. Atau minuman biasa saja.

(bersambung)  

 

Diindonesiakan oleh Hawe Setiawan dari
kolom
De Stad van Koffieboeren
dalam kumpulan kolom
Piekerans
van Een Straatslijper
(Pikiran
Tukang Keluyuran)
(1976) karya Tjalie
Robinson
(1911-1974). Nama kecil penulis ini adalah Jan Boon. Ia tumbuh dan
besar di Jakarta sebelum pindah ke Belanda. 

 
Dia adalah cerpenis dan kolomnis
terkemuka dari lingkungan Eurasia, dengan ayah Belanda dan ibu Indo,  pada masa-masa akhir periode Hindia Belanda.
Dalam sebagian karangannya, penulis ini suka memakai nama pena
Vincent Mahieu
 
Kumpulan cerpennya, Tjoek dan Tjis, sudah diindonesiakan oleh
H.B. Jassin. Biografi singkat Tjalie dapat dibaca dalam Bianglala Sastra
(1979), saduran Dick Hartoko dari antologi karya Rob Nieuwenhuys, Oost
Indische Spiegels
.  
Picture of Redaksi

Redaksi