
Atau jangan-jangan, melalui Amerika Serikat, kita mesti menunggu adanya minuman dari negeri sendiri yang balik lagi ke sini dengan nama baru?
Namun, sekarang apa yang dapat kita temukan di sini, dan dari ibu rumah tangga yang mana? Dan apa pula yang seninya bisa dipopulerkan? Apa betul tidak ada yang dapat diperbuat dengan nanas selain mengiris-irisnya belaka? Apa sari tebu, air kelapa, dan santannya kurang menarik? Ataukah cita rasa umum sedemikian hambarnya dan kurang fantasi, sampai-sampai ibu rumah tangga yang paling bersemangat pun jadi kehilangan minat? Atau jangan-jangan, melalui Amerika Serikat, kita mesti menunggu adanya minuman dari negeri sendiri yang balik lagi ke sini dengan nama baru?
Betapapun, ada perbedaan besar antara minum kopi di Jakarta (juga di seantero Indonesia) dan minum kopi di dunia luar sana? Pokok soalnya bertolak dari istilah “ngopi” (kata kerja dari “kopi”) dan kandungan artinya: ngobrol seru di sekitar kopi. Sejenis “ngobrol” ngalor-ngidul sih, tapi dengan “cups that cheer but not inebriate (tegukan-tegukan yang bikin senang tapi tidak bikin mabuk).” Senang bincang-bincang itulah intinya di sini; kopi adalah katalisatornya yang terpenting. Percekcokan keluarga dan perkara bisnis sebaiknya diselesaikan dengan “ngopi”.
Sungguh menyenangkan berkunjung kepada seorang teman di pojokan kampung, di rumahnya yang nyaman di belakang pohon delima dan buah nona. Sebagai ungkapan “selamat datang”, ada sapu alas kaki dari lilitan baja dengan butiran kelereng putih. Butiran kelerengnya banyak yang ditanggalkan oleh bocah-bocah nakal, diganti dengan butiran kaca warna-warni. Menyenangkan juga. Anda duduk di beranda ramah anak, yang dihiasi sejumlah pas kembang keemasan dari porselen dengan tanaman dinding menggantung, di atas kursi goyang tua di samping meja bundar kecil berwarna gelap yang bagian atasnya dilapisi marmer bertatahkan mutiara. Di atas meja ada dua cangkir bermotif bunga yang dikasih tutup supaya kopi tetap hangat dan terhindar dari lalat, dan sebuah teko berenamel yang besar lagi tinggi (koffieketel), biar Anda bisa menambah kopi dengan kucurannya yang panjang lagi tipis. Tersaji pula biskuit rasa serbuk gergaji yang enak (enak, karena saya tidak suka manis) buat disantap dengan iringan gemuruh musik.
Itulah yang disukai oleh sang teman yang berperawakan mungil itu: membiarkan diri terbawa hanyut oleh musik radio yang keras, membiarkan lamunan melayang seraya menatap ke kejauhan. Namun, ketika Rais menyadari bahwa saya tidak menyukainya, dia pelankan suara radio itu dan dapatlah saya nikmati suasana kampung yang menyerupai lukisan Pieter Brueghel, dengan sosok-sosok bersahaja dan benda-benda sederhana, dengan gemirisiknya putaran baling-baling bambu tinggi di atas pohon jambu, ditingkah gelak-tawa anak-anak di kejauhan, bagai gemerincingnya lonceng di tangan misdinar, bukan dari tukang es, dan si kucing kurus pengais sampah mengedip-ngedipkan matanya diterpa cahaya matahari seraya melihat ke arah induk entok, yang memandu 12 ekor anaknya berbaris. Obrolan kami bahkan sama bersahajanya dengan obrolan entok, dan justru itulah peringkat bagus dalam upaya membahas Masalah Besar Umat Manusia (Grote Problemen Der Mensheid) tak terkecuali masalah keluarga yang senyatanya. Itulah artinya ngopi.
(Bersambung)



