
Saat itu kami bertemu buat minum kopi semata. Itu pun kiasan saja, karena kopi asli Belanda, dengan aromanya yang menguar dari serbuknya itu, di sini memang terbilang langka lho. Sementara itu, minuman nasional kopi tubruk oleh orang Eropa dianggap vulgar.
Ngopi bisa Anda lakukan di rumah dengan “kue huk” sebagai pelengkapnya, tapi kalau memang orang suka, sebaiknya dengan banyak cangkir kecil berisi kopi nan “pekat dan hangat” atau dengan cangkir besar berisi kopi susu yang dikasih es. Alih-alih memakai gula di sini orang memakai vanila atau madu dan karena itu di sini “kleintje koffie” gaya Belanda terbilang mustahil. Walhasil, siapa yang di sini mau minum kopi gaya Belanda per se, niscaya bakal selalu menggerutu. Dan memang ada saja orang bodoh yang berbuat begitu. Sebaliknya, siapa yang ingin menghargai kopi gaya Jakarta dalam berbagai bentuknya, harus paham dulu apa artinya “ngopi”. Itulah filsafat hidup.
Saat itu kami bertemu buat minum kopi semata. Itu pun kiasan saja, karena kopi asli Belanda, dengan aromanya yang menguar dari serbuknya itu, di sini memang terbilang langka lho. Sementara itu, minuman nasional kopi tubruk oleh orang Eropa dianggap vulgar. Betapa enaknya toh menyeruput kopi tubruk setiap kali keluyuran pagi, jam lima lebih seperempat, atau jam setengah enam, di kedai kopi di atas trotoar. Pelengkapnya goreng talas atau panggang ketan yang masih hangat ditaburi parutan kelapa, gurih nian.
Di situ Anda duduk bersama tukang becak, sopir, dan penjaga malam, yang sama-sama berdiang sambil menatap kedipan bara kayu di dalam tungku di bawah kaleng kopi. Nyaris tak seorang pun yang bicara, semata-mata menyeruput kopi begitu nikmatnya. Ada di antaranya yang menikmatinya dengan cara lama, yakni dengan menangkupkan cangkir di atas pisin sehingga menyerupai tempat minum burung, supaya dapat menyeruput kopi dari bibir pisin tanpa membiarkan bubuk kopi menempel ke geligi. Ketika masalah teratasi sudah, Anda pun lebih ringan melangkah. Kabut enggan hengkang dari Jakarta yang terlelap. Sebuah becak mendesis lewat seperti vibraphone yang bergerak. Bus kota pertama datang di tikungan kayak hotel berjalan yang terang benderang. Tidak ada orang yang merasa lebih betah di Jakarta daripada saya.***
(Tamat)



