
Muncul dan besarnya akun-akun semacam @pejuanginvoice harus kita rayakan, kenapa begitu? Agar jadi pengingat bahwa tiap-tiap rencana edukasi atau literasi, tidak harus selalu muluk-muluk dan terlalu berbuih dalam memberi motivasi.
Ketika meniatkan untuk menulis catatan ringan yang seharusnya mingguan ini, saya berusaha memagari dan membatasi diri agar tidak terjebak pada celotehan bergaya motivasi. Kenapa begitu? Satu, karena ini merupakan kumpulan catatan ringan tentang fotografi dan lika-liku bisnisnya khususnya di industri pernikahan. Kedua, karena seringkali motivasi apapun bentuknya hanya akan menjadi tautan instastory yang tidak berarti bila tidak dibarengi dengan refleksi diri.
Betul, refleksi diri. Beberapa waktu lalu Wibi, teman saya, berujar tentang bagaimana bisa berpikir kreatif lahir kalau tidak didahului dengan berpikir kritis. Saya juga mengiyakan pandangan itu, meski sayangnya hari-hari ini kritik seringkali sulit dibedakan dengan nyinyiran, ataupun juga seringnya yang nyinyir-nyinyir itu mendaku dirinya sedang mengkritik, padahal bisa jadi hanya sebatas nyinyiran belaka.
Kenapa menjadi kritis perlu sebelum berpikir kreatif? Anggap saja begini, bahwa yang kreatif-kreatif itu bisa jadi menghasilkan hal yang lebih maju daripada yang sudah ada, maka sebelum memutar otak tentang apa yang harus dibuat atau dilakukan untuk memperbaharui hal yang sudah ada lewat kreativitas, tentu dia harus mengkritisi dulu hal-hal yang sudah ada dari berbagai sisi. Tengok saja video life-hack, setiap kita pastilah terpesona melihat video-video singkat nan ajaib itu, kenapa bisa terpesona? Karena kita tidak pernah membayangkan sesuatu yang sudah menjadi kebiasaan sehari-hari itu kemudian bisa dilakukan dengan cara-cara yang tidak pernah terbayangkan sebelumnya, dari mulai cara makan semangka sampai cara merekam gambar!
Lalu, entah bagaimana saya musti memadupadankan soal kritis-kreatif ini dengan catatan reflektif tentang fotografi dan industrinya. Tapi setidak-tidaknya begini, banyak sekali akun seputar kehidupan industri kreatif yang melontarkan kritik bernada nyinyir. Menariknya, ketika kemudian kritik yang diunggah itu kira-kira dianggap berhasil mewadahi duka-lara para pelaku industri kreatif, maka sudah bisa dipastikan kolom komennya akan disesakki dengan kalimat-kalimat afirmatif, semacam “setuju banget nih!”, “betul!”, “nahh ini!”, “sebarkan!” atau bisa juga diwakili emoticon api, jempol dan sejurusnya.
Apakah postingan yang mendapatkan afirmasi dari para pelakunya itu kemudian menghasilkan tawaran-tawaran kreatif? Wallahuaallam! Atau mungkin tawaran kreatifnya memang belum akan terjadi dalam waktu dekat ini, bagi saya setidaknya berbagai keluhan yang dulunya hanya menjadi konsumsi privat atau komunitas kecil masing-masing yang rutin berkumpul untuk diskusi atau sebatas berghibah, kemudian hadir secara terbuka dan bebas di media sosial. Akhirnya, industri kreatif yang dulunya terlihat menyenangkan dan menghasilkan itu ternyata juga menunjukkan berbagai persoalan yang perlahan mulai disuarakan.
Nah, kembali pada perihal refleksi diri, anggaplah unggahan akun-akun itu menjadi pemantik untuk kita mulai berpikir kritis sebelum kreatif, maka tentu akan ada pertanyaan lanjutan dari afirmasi kita, yaitu “apa yang mau kita lakukan kemudian?” Misalnya, setelah kita beramai-ramai berkumpul pada unggahan “bayar seikhlasnya, bikin fotografer lain mengelus dada” di @pejuanginvoice, lalu apa? Apakah kita hanya terhenti menjadi sebatas kerumunan para pemaki industri, atau setelahnya bisa memberi tawaran kreatif pada industri?
Tapi sudahlah, toh saya sama sekali tidak punya keinginan menjadi motivator, apapun itu tetap sah-sah saja di era yang katanya demokrasi informasi ini. Jadi, muncul dan besarnya akun-akun semacam @pejuanginvoice harus kita rayakan, kenapa begitu? Agar jadi pengingat bahwa tiap-tiap rencana edukasi dan literasi, tidak harus selalu muluk-muluk atau terlalu berbuih dalam memberi motivasi, karena sesungguhnya di industri kreatif yang penuh dengan emoticon api ini masih banyak yang harus kita kritisi. Tabik!
#CatatanRinganFotograferPernikahan
FITRA SUJAWOTO | PEMERHATI PARIWISATA DAN APA SAJA
Ilustrasi oleh Adam Rizki Taufik



