Atik Soepandi di Kamus Istilah Karawitan Sunda sepertinya agak keliru mengartikan rindu.
Pertama kali saya bertemu dengan Ki Pantun dia sedang melaras angklung di saung humanya di kampung Sawilah, yang terletak lumayan jauh dari rumahnya di Kadu Gede, Kanekes. Pertemuan itu terjadi tahun lalu, 18 Oktober 2021. Kala itu saya turut nimbrung penelitiannya panghulu tandang Asosiasi Tradisi Lisan Banten, Niduparas Erlang. Walaupun, sepertinya waktu itu dia belum memangku jabatan itu, Nidu masih seorang sastrawan yang kasarung di sebuah kampus dan menjadi dosen di sana, dan sedang meneliti carita pantun untuk bekal disertasinya.
Setelah memiliki anak biasanya urang Kanekes dipanggil berdasarkan nama anaknya, misalnya Ki Pantun dipanggil juga Ayah Anirah, yang berarti Bapak Anirah, karena anak pertamanya bernama Anirah. Meski begitu, secara administratif Ki Pantun bernama Hasan, kemungkinan hasan ini dicatat asal saja, seperti juga tanggal lahirnya (tanggal lahir orang Baduy di KTP jarang yang akurat, atau mungkin lebih tepatnya orang Baduy tak pernah menulis tanggal lahirnya secara akurat di KTP). Menjadi aneh, karena huruf awal urang Kanekes biasanya diambil dari huruf awal nama hari ketika ia dilahirkan, atau dari huruf awal nama ibu jika ia laki-laki, huruf awal bapak jika ia perempuan. Penentuan ini bisa dipastikan seperti itu. Nama mendapat nilai penting bagi peri kehidupan orang Baduy, jika salah, implikasinya bisa fatal. Nama bertalian dengan pengobatan, juga terutama pertanian, berhuma menjadi rukun dalam keyakinan urang Kanekes. Saking pentingnya nama dalam ritual urang Kanekes, tak jarang ketika satu pasangan yang akan menyelenggarakan pernikahan, nama salah satu mempelai diubah karena dalam perhitung adat tidak memiliki kecocokan. Jadi, siapakah nama asli Ki Pantun?
Pantun dalam tradisi Sunda, berbeda dengan pantun di Melayu walaupun keduanya sama-sama puisi, begitulah kata kebanyakan orang yang mengartikan pantun, disebut kebanyakan karena R.A. Hoesein Djajadiningrat menyebut pantun itu “cerita panjang berbentuk prosa” cobalah cek di Latar Belakang Magis yang Mendasari Arti Pantun Melayu. Saya cukupkan pemerian ini menjadi urusan Nidu, tapi jika boleh usul untuk pantun di Kanekes saat ini, kayaknya lebih pas ditakrifkan sebagai mantra panjang, alih-alih cerita.
Kata Ki Pantun, agar suaranya stabil proses melaraskan angklung berlangsung paling tidak satu bulan. Di Baduy ada dua pertunjukan seni yang utama berdasarkan kesakralannya, pertama pantun kedua angklung. Ki Pantun menguasai keduanya, untuk angklung ia menguasai dari pembuatan sampai permainan. Keahliannya dalam membuat angklung terlihat dari kritiknya atas angklung yang dibuat oleh orang lain yang selain secara nada tidak pas, secara konstruksi pun tidak kokoh (yang membuat angklung di Kanekes tidak hanya Ki Pantun saja). Disamping itu, Ki Pantun menguasai repertoar angklung yang tidak dikuasai orang Baduy Luar lain, sayang tentang repertoar ini tidak tercatat Van Zanten di bukunya Music of the Baduy People of Western Java, padahal Ki Pantun salah-satu narasumber utama Van Zanten
Angklung terbuat dari bambu surat Gigantochloa pseudoarundinacea, yang di Bandung sering disebut awi gombong atau bambu gombong. Di Kanekes bahan angklung diambil dari bambu yang sudah meranggas di batangnya, bahkan yang saya lihat keadaan bambu sudah melapuk. Selain itu bisa juga dari batang bambu yang terhanyut di sungai, atau batang bambu yang ditebang ketika terjadi hujan cilantang, yakni ketika gelap mendung beserta guntur tapi air hujan tak turun. Bambu surat adalah bambu yang paling keras, tapi untuk angklung yang dipilih yang hampir melapuk, mungkin karena perpaduan ini pendengaran saya menyimpulkan angklung Baduy bersuara lebih nyaring dan merdu daripada angklung lain yang terbuat dari bambu hitam (Gigantochloa atroviolacea).
Tidak seluruh batang bambu bisa dijadikan angklung, yang bisa digunakan hanya bagian congo, bagian bambu dari pucuk ke bawah, kira-kira sepertiga dari keseluruhan batang bambu. Itupun ruas per ruas diperiksa lagi, bambu yang pecah, atau buku dalamnya retak tidak bisa digunakan karena suaranya “mati”.
Dalam alam pikir urang Kanekes mereka tidak memiliki konsep laras atau tangga nada, seperti kita mengenal do re mi, yang ada kata pasieup (dari kata sieup yang berarti indah, beres, atau nyaman), tak heran Van Zanten agak bingung ketika memaparkan tangga nada di Baduy. Dalam kata pasieup tidak hanya merangkum tangga nada tapi juga warna suara. Atik Soepandi di Kamus Istilah Karawitan Sunda sepertinya agak keliru mengartikan rindu, menurutnya rindu adalah “semacam tangga nada pelog di daerah Banten, biasa disebut pasieupan rindu”. Memang benar di Baduy ada pasieup rindu beserta dua pasieupan lainnya yaitu carang-carang dan kangkaréng, yang digunakan untuk pasieup angklung. Perbedaan ketiga pasieupan ini adalah nyaring tidaknya suara angklung dari telinga pendengar dalam jarak dekat atau jauh, yang diatur pun bagian lincar (bambu yang membujur di bawah angklung, tempat kaki angklung beradu), jadi otomatis tidak mengubah nada angklung, karena nada angklung diatur dari tabung dan lidahnya.*
HADY PRASTYA | TUKANG KAYU
image: Sharm Murugiah




