Lingkar Literasi Cicalengka: Melawan dengan Membaca

Nurul sedang menemani anak-anak mewarnai. (Foto: Keysha Dewi).

Di sudut kampung yang sedang berjuang mempertahankan tanah mereka, anak-anak duduk melingkar di atas spanduk besar yang dijadikan alas. Di hadapan mereka tersedia buku-buku cerita, krayon warna-warni, dan kertas gambar. Lalu, di belakang anak-anak itu terbentang spanduk penuh coretan di antara dinding rumah warga. Pada spanduk itu tampak beragam tulisan: “Tolak Keras Eksekusi”, “Kami Tidak Akan Mundur” dan “Membaca adalah Perlawanan”.

Suasana ini bukan sekadar aktivitas biasa yang dilakukan segelintir orang, tetapi lapak baca darurat yang diinisiasi Lingkar Literasi Cicalengka (LLC), sebuah komunitas literasi yang telah aktif sejak tahun 2016.

Anak-anak berada dekat coretan protes menolak penggusuran. (Foto: Keysha Dewi).

Kegiatan itu berlangsung di Kampung Simpen, Desa Tenjolaya, Cicalengka, kawasan yang kini tengah diguncang isu penggusuran lahan. Di situ LLC hadir untuk menghibur anak-anak sekaligus menyisipkan ruang aman, harapan, dan pengetahuan melalui kegiatan membaca, menulis, dan mewarnai.

Nurul (35), salah satu relawan dan koordinator LLC, meyakini aktivitas membaca dapat menjadi sebuah alat perlawanan. Hal ini yang ia dan kawan-kawan lainnya salurkan lewat lapakan yang digelar pada Jumat (18/4/2025) siang di tengah penggusuran warga Kampung Simpen.


Nurul sedang menyiapkan buku bacaan di lapak darurat. (Foto: Keysha Dewi)

Terbentuk sebagai Penghubung

Lingkar Literasi Cicalengka terbentuk dari keinginan beberapa relawan taman baca untuk menciptakan wadah komunikasi dan kolaborasi antar-TBM (Taman Baca Masyarakat) di Cicalengka. Bermula dari TBM Kali Atas, Nurul melihat banyak taman baca yang muncul di wilayahnya. Maka, dibentuklah forum yang menyatukan semangat tersebut agar tak berjalan sendiri-sendiri.

Hingga kini, LLC menjadi penghubung sembilan taman baca di berbagai desa di Cicalengka. Mereka tidak hanya berbagi informasi, tetapi juga saling mendukung dalam kegiatan. Mulai dari diskusi buku secara bergilir, mendukung acara taman baca lain, hingga menginisiasi Festival Buku Pasar Biru—sebuah perhelatan literasi yang sempat memantik kembali aktivitas taman baca pasca-pandemi.

Nurul sedang membacakan buku cerita kepada anak-anak Kampung Simpen. (Foto: Keysha Dewi).

Lapak baca di Kampung Simpen menjadi bukti bahwa LLC tidak bergerak dalam ruang kosong. Mereka menanggapi isu sosial secara langsung, terutama yang berdampak pada anak-anak. “Saat mendengar tentang penggusuran, kami langsung teringat anak-anak. Mereka pasti merasa tidak aman, bingung, dan kehilangan ruang belajar. Maka kami hadir membawa buku dongeng dan alat gambar”, terang Nurul.

Melalui pendekatan ini, LLC ingin menunjukkan bahwa literasi bukan sekadar soal kemampuan membaca, namun juga mengandung unsur empati, keberanian, dan kesadaran. Buku bisa menjadi alat untuk menguatkan masyarakat, memperkuat daya pikir kritis, dan menanamkan keberanian bersuara sejak dini.

Di tengah semangat itu, tantangan pun tak sedikit. Masih banyak masyarakat yang menganggap membaca sebagai kegiatan yang tidak menarik dan tidak memberi keuntungan nyata. Stigma seperti “baca mah buat apa, tidak menghasilkan duit” masih sering mereka dengar. Karena itu, kegiatan literasi mereka dikemas semenarik mungkin, tidak hanya membaca, tapi juga mendongeng, berkegiatan seni, bahkan kelas menulis dan diskusi untuk kalangan remaja.

Kini, hampir semua desa di Cicalengka telah memiliki TBM. Beberapa remaja dari komunitas bahkan berhasil menjadi duta baca kabupaten. “Membaca itu keren, bisa jadi prestasi,” jelas Nurul dengan bangga.

Menerbitkan Zine

LLC juga tengah merintis penerbitan zine, majalah komunitas sederhana yang memuat tulisan para remaja. Responsnya cukup baik, banyak anak muda yang tertarik belajar menulis karena ingin melihat karyanya dimuat.

Harapannya, zine ini bisa terbit secara berkala dan jadi ruang ekspresi baru bagi generasi muda.
“Kalau kita menyerah dengan keadaan bahwa budaya baca itu berjarak, ya berarti masa depan kita juga akan sampai di situ saja,” kata Nurul.

Melalui komunitas ini, membaca bukan lagi aktivitas sepi dan sunyi. Ia menjadi alat perlawanan, perekat komunitas, dan pintu menuju masa depan. Di tengah spanduk protes dan ancaman penggusuran, anak-anak Kampung Simpen tetap bisa tersenyum sambil mewarnai pelangi. Mungkin anak-anak itu belum sadar bahwa mereka sedang diajak membangun harapan satu halaman demi halaman.

 

Editor: Hafidz Azhar

Picture of Keysha Dewi

Keysha Dewi

Mahasiswi Sastra Inggris Unpas. Sedang menjadi reporter di hanyawacana.id.