Literapoka: Saling Berbagi Lewat Buku

Kopi Poka dari pinggir. Tempat guliran Literapoka di Jalan Kanayakan Bawah No. 1, Kecamatan Coblong, Kota Bandung. (Foto: Gracia Phedra Tama).

Aroma kopi berpadu dengan wangi kertas buku yang usang dan baru. Aroma itu tercium di sebuah kedai yang berada di kawasan Bandung sebelah utara. Sebut saja Kopi Poka. Terletak di Jalan Kanayakan Nomor 1, Kecamatan Coblong, Kota Bandung, Kopi Poka tidak saja menampilkan nuansa coffee shop yang kuat, tetapi juga menyuguhkan aktivitas literasi.  Di balik kemunculannya, ada salah satu orang yang membuat Kopi Poka menjadi hangat dengan kegiatan literasi. Ia adalah Reita Ariyanti. Rere, sapaan akrab bagi Reita Ariyanti, meracik sebuah ruang alternatif untuk para pencinta buku yang haus akan cerita dan obrolan bermakna. Ia bukan hanya penerjemah dan editor, tapi juga sang penggerak komunitas literasi bernama Literapoka.

Sebelum Literapoka hadir, Literaloka lebih dulu ada untuk menghangatkan kegiatan literasi di Kopi Poka. Komunitas ini lahir pada Januari 2019 dari kedekatan beberapa orang yang rutin nongkrong di Kopi Poka. Rere bersama dua temannya, seorang barista dan seorang pelanggan, membangun komunitas baca yang awalnya bersifat tertutup. Mereka membaca satu buku yang sama, membahasnya perlahan dari halaman ke halaman, memaknai kalimat demi kalimat, bahkan menelusuri latar belakang penulis. Komunitas ini bisa membahas satu buku sampai sebulan, kemudian hidup hampir setahun sebelum harus berhenti saat pandemi datang dan dua pendiri yang lain pindah kota.

Meski sempat vakum, kegiatan mengkaji buku tidak mati seketika. April 2023, Rere kembali menyulut bara literasi melalui Sunday Literacy. Kali ini, ia memilih pendekatan berbeda—lebih santai, lebih terbuka, dan hanya diadakan pada hari Minggu saja. Rere memilih satu buku, membuat konten ulasan, dan mengundang publik untuk berdiskusi di bulan berikutnya. Konsep ini lebih ringan, namun tetap berisi. Pun berkaitan antara konten rekomendasi buku dengan aktivasi offline-nya.  Ada diskusi, ada tawa, ada curhat personal tentang buku dan kehidupan.

“Membaca itu kegiatan solitude atu sunyi, tapi kita seringkali ingin membaginya bahkan dunia harus tahu rasanya”, ungkap Rere.

Dari kegiatan itu, lahirlah Literapoka, nama yang lahir dari kenangan dan permainan kata.“Dulu Literaloka, sekarang karena tempatnya di Kopi Poka, saya twist sedikit jadi Literapoka”, tambah Rere. Komunitas ini resmi dimulai Februari 2025, bertepatan dengan perayaan 100 tahun Pramoedya Ananta Toer. Pertemuan perdana pun diisi dengan buku-buku Pram, dibaca bersama, dipinjamkan secara gratis, dibicarakan dengan penuh hormat dan semangat.

Literapoka sendiri terbuka untuk umum. Tak ada batasan buku, tak ada kewajiban membaca yang sama. Setiap orang membawa bacaan masing-masing. Kadang ada yang membawa puisi, naskah terjemahan, bahkan draf novel untuk dikonsultasikan. Selain itu kegiatan bedah buku juga akan diselenggarakan pertengahan 2025 yang rencananya menghadirkan pula sang penulis.

Inspirasi Literapoka juga datang dari luar negeri. Salah satunya adalah rumah buku mini yang Rere lihat di Toronto—rak-rak kecil di tepi jalan yang penuh buku sumbangan warga. Kini, ia membuat versi serupa di halaman Kopi Poka, menghidupkan semangat saling berbagi dan gotong royong literasi.

Rumah buku kecil di halaman Kopi Poka. (Foto: Gracia Phedra Tama).

Rere percaya, dampak Literapoka bukan hanya untuk para peserta. Komunitas ini adalah ruang tumbuh. Tempat orang saling menemukan, saling mengisi, dan saling berdaya. Ia ingin membawa kembali sastra Indonesia ke pangkuan generasi muda, menjadikan tokoh-tokoh seperti Pramoedya Ananta Toer bukan sekadar nama dalam buku pelajaran, tapi teman bicara dalam diskusi hangat di kedai kopi.

“Saya ingin menciptakan teratai penghubung antara sastra Indonesia ke generasi baru. Karena relatif yang datang ke sini kebanyakan mahasiswa, tapi beberapa juga ada yang belum tahu siapa itu Pram dan karyanya. Dan kita ingin teruskan sejarah sastra Indonesia ke generasi baru agar tidak terlupakan” ujarnya.

Mungkin, di suatu Minggu yang teduh, kita bisa datang, membawa buku sendiri, menyeruput kopi, dan ikut dalam percakapan yang sederhana namun menggetarkan. Di sana akan ada cerita tentang buku, tentang hidup, dan tentang makna membaca bersama. Jangan khawatirkan perihal ke mana kita harus mencari informasi tentang komunitas ini, karena Literapoka akan menginformasikan dengan lengkap melalui media sosialnya sendri di instagram @literapoka.

 

Editor: Hafidz Azhar

Picture of Gracia Phedra Tama

Gracia Phedra Tama

Mahasiswi Sastra Inggris, Unpas. Sedang menjadi reporter di hanyawacana.id