
Rupanya, tempat itu kini sudah jadi destinasi wisata. Lagi pula, sejak negara mengerahkan tentara dalam program Citarum Harum, bantaran sungai tampak jauh lebih bersih, dan air sungai terlihat jauh lebih segar.
Nasib saya dalam dua pekan terakhir ini adalah berkeluyuran ke belahan barat Bandung. Jika pekan sebelumnya saya pergi ke Cianjur, naik mobil bersama beberapa teman, kali ini saya naik motor sendirian kayak Ali Topan ke Rajamandala. Inilah tempat yang namanya paling hebat di seantero Jawa Barat: rajanya mandala. Anda mungkin mengartikan “mandala” sebagai “buana” atau “bumi”, tapi saya sendiri cenderung mengartikannya sebagai “tempat bertapa”. Yang pasti, dalam novel Sunda karya mendiang Olla S. Sumarnaputra, Rangga Maléla (2011), yang berlatarkan Tatar Sunda abad ke-14, Rajamandala disebut-sebut sebagai salah satu “kerajaan di wilayah barat yang waktu itu terbilang agak besar”. Dalam cerita itu, Citarum masih berfungsi sebagai jalur transportasi yang sangat penting.
Pagi itu, Sabtu, 29 Oktober 2022, saya meluncur dari Bandung Utara lewat Gunungbatu, Cimahi, Padalarang, Citatah, dan Cipatat. Buff buatan produsen barang outdoor lokal melindungi hidung dan mulut saya dari debu putih yang bertiup dari lereng-lereng gunung kapur yang tiada hentinya dieksploitasi di sepanjang jalur Citatah ke Cipatat. Begitu sampai ke Pasar Rajamandala, saya belok kiri menyusuri jalan labil ke arah bendungan Saguling, kemudian belok kanan menembus hutan karet milik Perkebunan Panglejar, dan berhenti di Cisameng. Kampung Cisameng termasuk ke dalam wilayah Desa Rajamandala Kulon, Kecamatan Cipatat, Kabupaten Bandung Barat. Di sebuah warung pinggir jalan saya mengobrol dengan beberapa warga setempat sambil menyeruput kopi sasetan.
Menjelang duhur, saya beranjak dari warung ke Sanghiang Kenit, sekitar beberapa ratus meter ke tepi Citarum. Sekarang, orang bisa naik motor dan mobil hingga ke pinggir sungai. Tempat yang disebut Sanghiang Kenit menampilkan gua, bongkahan batu besar, dan dinding sungai yang dilewati arus nan deras. Air sungai berguling-guling di situ seraya memperlihatkan buih-buih putih dan memperdengarkan suara yang bergemuruh. Sejak sekitar tiga tahun lalu, di tepi sungai, tak jauh dari gua, ada enam atau tujuh warung kecil yang berjajar menyediakan aneka minuman ringan dan makanan. Dari pelataran warung, ada undakan semen yang menurun ke hamparan lahan di tepi sungai. Di situ ada bangku-bangku kayu, di bawah naungan pohon kersen, tempat para pengunjung bisa duduk-duduk sambil bercengkerama. Beberapa orang peminat olah raga air deras tampak sedang bersiap-siap hendak naik perahu karet. Rupanya, tempat itu kini sudah jadi destinasi wisata. Lagi pula, sejak negara mengerahkan tentara dalam program Citarum Harum, bantaran sungai tampak jauh lebih bersih, dan air sungai terlihat jauh lebih segar. Bagaimana jadinya kalau negara sudah berganti presiden, kalau anggaran sudah berganti program? Tak tahulah saya.
Beberapa tahun lalu, saya pernah ikut serta dalam rombongan ekskursi yang dipandu oleh Geograf T. Bachtiar yang bepergian ke sekitar situ. Kalau tidak salah, waktu itu ada pula jurnalis dari Pikiran Rakyat dan Kompas yang ikut serta. Kang Bachtiar mengajak kami naik perahu karet dari sekitar Sanghiang Tikoro hingga beberapa ratus meter ke hilir. Waktu itu air sungai bau sekali, dan tubuh saya terasa gatal-gatal begitu kembali dari sungai. Kata Kang Bachtiar, dalam kondisi rusak pun, Citarum masih sanggup memberikan banyak manfaat kepada banyak orang, tak terkecuali membersitkan kegembiraan di hati para peminat wisata bentang alam. Apalagi kalau kalau keadaan Citarum bersih dan sehat lagi, niscaya manfaat bagi masyarakat akan jauh lebih besar lagi. Sungguh, bentang alam itu memiliki bobot budaya. Di mata penjelajah dan pencinta bentang alam seperti T. Bachtiar, sebagaimana yang terekspresikan dalam himpunan esai yang ia tulis bersama istrinya tercinta, Dewi Syafriani, dalam Bandung Purba (2004), bobot budaya dari bentang alam di belahan barat Bandung terabadikan pula dalam sejumlah karya seni, semisal dalam lukisan Affandi, Wahdi Sumanta, dan Yus Rusamsi.
Sanghiang adalah kata sandang yang menyiratkan rasa hormat terhadap sesuatu yang dianggap suci. Istilah ini dapat disematkan pada tokoh atau figur (misalnya Sanghiang Manikmaya), naskah atau bahan bacaan (misalnya Sanghiang Siksa Kandang Karesian), atau bentang alam (misalnya Sanghiang Tikoro atau Sanghiyang Kenit). Yang menarik bagi saya siang itu adalah istilah kenit. Istilah Sunda yang selama ini saya kenal adalah kendit. Menurut leksikograf Alla Danadibrata, istilah kendit mengacu kepada sesuatu yang melingkar, misalnya sabuk hiasan dari anyaman atau bagian bulu yang tampak melingkar di leher perkutut. Adakah istilah kenit merupakan turunan dari kendit? Saya tidak tahu. Pak Unang Anang (43), salah seorang tokoh masyarakat Cisameng, mengaitkan istilah kenit dengan lingkaran di bagian badan hewan kurban yang konon dahulu kala biasa dipersembahkan di gua tepi sungai itu: “meuncit sato kenit”, menyembelih hewan kenit.
Setelah mencatat ini dan itu, saya bergabung dengan kelimun yang berkumpul di bawah tenda di tepi sungai itu. Di situlah para pegiat TBM (Taman Baca Masyarakat) dan masyarakat setempat mengadakan salah satu rangkaian kegiatan literasi yang dikasih tajuk “Literasi Budaya Sunda Purba”. Di Jawa Barat ada sekitar 700-an TBM yang terhubung dengan jejaring TBM di seantero Indonesia. TBM di Sanghiang Kenit dan sekitarnya — tepatnya TBM dari wilayah Rajamandala, Kertasari, Lembang, dan Manglayang — kali ini terpilih dalam seleksi program yang difasilitasi oleh Direktorat Jenderal Kebudayaan dengan anggaran dari Dana Abadi Kebudayaan. Sejak Juli lalu para pegiat literasi dari Bandung dan warga setempat mengadakan program yang didedikasikan untuk merayakan kegiatan baca tulis. Siang itu, dengan dihadiri oleh para pejabat pemerintahan beserta warga setempat, hasil kegiatan mereka, yang berupa buku dan film dokumenter, diluncurkan. Buku karya para warga masyarakat itu masing-masing bertajuk: 1) Menulis Jejak Leluhur di Tanah Karuhun; 2) Membaca Peragaan Budaya Sunda; dan 3) Pesan Leluhur dari Tanah Leluhur.
Pak Irin — tanpa nama panjang — adalah salah seorang warga setempat yang ikut menyumbangkan tulisan yang dibukukan itu. Pria berusia 59 tahun ini adalah Ketua RW 25, Kampung Cisameng. Ia menulis tentang “teknologi tradisional”. Persisnya, ia mencatat dari ingatannya beberapa segi dari tata cara membudidayakan padi di sawah sebagaimana yang ia warisi dari kakeknya sendiri. Dalam kenangannya, dulu masyarakat setempat membajak sawah dengan alat produksi berupa kerbau dan wuluku. Ada lagunya sendiri, ada upacaranya sendiri. Namun, rupa-rupanya, dalam ikhtiar mencatatkan pengetahuan setempat yang diwariskan dari leluhur, ada pula hambatannya. Ketika saya temani berbincang-bincang di hadapan para peserta kegiatan itu, Pak Irin mengatakan bahwa ada rincian dari tata cara bertani warisan leluhur yang kalau diteruskan sekarang sering menimbulkan kekhawatiran akan dianggap “pagedrug sareng agama”, bertentangan dengan agama. Bayangkan, menurut Pak Irin, dahulu pernah ada sengketa tanah yang penyelesaiannya bahkan “melibatkan jin”.
Lain halnya dengan Pak Unang Anang, yang namanya sudah disinggung-singgung tadi. Ia pun ikut menulis dalam salah satu buku itu tadi dengan topik cerita seputar “Citarum purba”. Menurut ceritanya, dahulu, sebelum ada PLTA (pembangkit listrik tenaga air) dan rupa-rupa instalasi industri di sekitar sungai, air Citarum bisa diminum. Waktu itu, katanya, belum ada sumur, belum pula ada mesin pompa. Orang biasa mandi dan mencuci di sungai. Namun, setelah ada sungai tercemar, masyarakat membuat sumur, dan seakan dijauhkan dari sungai. Syukurlah, katanya pula, setelah ada program Citarum Harum, air sungai jadi lebih bersih. Pak Unang suka menulis untuk media sosial seputar bentang alam setempat, misalnya Leuwi Urug atau Leuwi Embé. “Tapi saya tidak tahu, kalau saya menulis lebih panjang, saya harus setor tulisan ke mana?” tanyanya.
Sebagaimana teman-teman dari Program Studi Perpustakaan, Fakultas Ilmu Komunikasi, Universitas Padjadjaran, yang juga hadir siang itu, saya ikut menyemangati Pak Irin, Pak Unang, dan pegiat literasi lainnya untuk terus mencatat dan menulis buat menghimpun pengetahuan setempat seraya memperkenalkannya kembali kepada masyarakat luas. Kita dapat mencatat lagi dongéng sasakala, perkakas dan benda-benda budaya, tata cara dan upacara, dan lain sebagainya yang dikenal dalam kehidupan sehari-hari masyarakat setempat. Kalau bisa, ada baiknya menuliskannya dalam bahasa ibu yang niscaya lebih intim dengan relung-relung batin warga setempat.
Singkatnya, hari itu saya belajar banyak dari para pegiat literasi dan pencinta bentang alam di Sanghiang Kenit. Saya kembali ke Bandung dengan kegembiraan yang melambung.***



