Mayat Hidup dan Alegori Politik Ugalan-Ugalan

Ilustrasi zombie oleh Redaksi.

Di Indonesia, sebelum zombi berjalan di layar kaca, mereka lebih dulu hidup dalam lembaran sastra. Seno Gumira Ajidarma, dalam cerpennya yang tajam berjudul Grhhh! (1993), menjadikan zombi bukan sekadar monster, melainkan metafora dari korban kekerasan negara. Cerita dalam cerpen ini menyentil peristiwa kelam operasi Penembak Misterius (Petrus) era Orde Baru. Mayat-mayat tak dikenal yang dibuang begitu saja di jalanan, bangkit dari kubur untuk menuntut balas. Sebuah alegori horor yang menyulap kekerasan negara menjadi horor sosial yang menohok.

Zombi memang lahir dari kultur Barat. Tepatnya dari mitologi Haiti. Hollywood lalu memodifikasinya menjadi metafora dari ketakutan kolektif: wabah, kehancuran sosial, hingga kegagalan institusi. Namun, seperti virus yang terus bermutasi, zombi menyebar ke berbagai penjuru dunia dan menjadi medium yang lentur. Di tangan yang tepat, ia bisa bicara lebih dari sekadar horor. Ia adalah amukan suara-suara yang sering kali diabaikan.

Dalam peta horor nasional, zombi adalah tamu asing. Film Indonesia jauh lebih akrab dengan kuntilanak, pocong, siluman, atau genderuwo; makhluk-makhluk yang lahir dari kearifan lokal dan hidup dalam ingatan kolektif masyarakat. Dalam horor Indonesia, ketakutan bukan sekadar hiburan. Ia adalah bagian dari keseharian dari cerita yang diwariskan, dari ritual yang masih dijalankan. Maka, tidak heran jika dalam industri film nasional genre zombi agak tersisih. Itu karena ia tidak punya akar historis maupun emosional dalam kesadaran masyarakat kita.

Selain masalah kedekatan budaya, zombi juga menuntut lebih banyak dari segi produksi. Butuh prostetik yang meyakinkan, efek visual, koreografi kerusuhan, dan atmosfer apokaliptik yang sulit dicapai dalam keadaan dana terbatas. Dalam lanskap industri film Indonesia yang masih berjuang dari sisi anggaran, horor supranatural tetap jadi pilihan aman.

Di tengah tantangan tadi, tahun lalu justru hadir serial Zona Merah (2024). Serial produksi Screenplay Films yang ditayangkan di Vidio. Disutradarai oleh Sidharta Tata dan Fajar Martha Santosa, serial ini menyajikan delapan episode yang cukup menegangkan dengan latar di kota fiktif Rimbalaya, Jawa Tengah. Di tengah kepanikan wabah, Maya (Aghniny Haque) berusaha menemukan adiknya, Adi (Devano Danendra), dan bertemu dengan Risang (Andri Mashadi), seorang jurnalis yang sedang menyelidiki kasus korupsi Bupati Zaenal. Di permukaannya, serial ini tampak seperti kisah tentang wabah mayat hidup dan perjuangan mencari orang hilang. Namun lapisan di balik itu sebenarnya jauh lebih gelap. Perlahan wabah yang mendera kota bukan hanya soal virus biologis saja, tapi juga virus kekuasaan: negara menjadi entitas predator yang lebih berbahaya dari mayat hidup itu sendiri.

Zona Merah menyingkap bagaimana elite politik memanfaatkan krisis demi mempertahankan dominasi. Kontrol informasi, pembentukan musuh imajiner, pengorbanan rakyat, dan propaganda menjadi alat utama penguasa. Bupati Zaenal dan wakilnya, Dyah Ayu, bukanlah pemimpin, melainkan manipulator krisis. Dalam bingkai biopolitik ala Michel Foucault, serial ini menunjukkan bagaimana negara menentukan siapa yang pantas hidup dan siapa yang layak dikorbankan. Rakyat tak lebih dari pion yang mudah digeser dan dikorbankan demi narasi besar untuk menyelamatkan nama penguasa.

Dalam Film, Ideologi, dan Militer (2023), Budi Irawanto menyebut bahwa film bukan hanya soal kendali narasi, tapi juga menjadi alat hegemoni untuk mendidik, menanamkan nilai-nilai Orba, dan tentu saja menjauhi kritik. Film atau serial zombi seperti Zona Merah, dengan kecenderungan menggambarkan kehancuran sistem sosial dan bobroknya kepemimpinan, di zaman Orba sudah tentu tidak akan pernah lolos sensor.

Kemudian, dalam Zona Merah, media yang seharusnya jadi suara rakyat justru berubah jadi “regime of truth”, menyebarkan kebenaran versi penguasa. Maya dan kelompoknya difitnah sebagai penyebab wabah. Kebenaran dikonstruksi, disebarluaskan, dan dipakai untuk menjustifikasi penindasan. Serial ini tidak hanya berhenti di situ. Ia juga menghadirkan harapan lewat resistensi. Maya dan Risang adalah representasi dari individu yang sadar akan manipulasi kekuasaan dan memilih untuk melawan—meski tahu bahwa melawan berarti menghadapi risiko yang sangat besar dan nyaris mustahil. Di sinilah Zona Merah menyuarakan sesuatu yang lebih dari sekadar kritik. Ia menegaskan bahwa kekuasaan tidak abadi, dan selalu ada ruang bagi perlawanan.

Apa yang membuat Zona Merah istimewa bukan hanya karena ia menggunakan zombi sebagai elemen cerita. Yang membuatnya istimewa dan penting adalah bagaimana zombi menjadi medium untuk membicarakan hal yang paling nyata: relasi rakyat dan negara. Dalam krisis, negara bisa berubah menjadi entitas yang paling mematikan dan itu jelas bukan karena ketidaktahuannya, tapi karena kesengajaannya dalam memanfaatkan kekacauan.

Zombi dalam Zona Merah bukan sekadar monster, tapi metafora dari masyarakat yang dibungkam, dikorbankan, dan dibangkitkan kembali oleh kemarahan sejarah. Serial ini mengajak kita melihat ulang bagaimana kekuasaan bekerja, bagaimana media dijinakkan, dan bagaimana rakyat dipaksa tunduk pada narasi yang direkayasa. Dan terakhir, Zona Merah mengingatkan kita bahwa krisis tidak selalu menciptakan pemimpin baru. Kadang ia hanya mengganti wajah di balik sistem yang sama. Zombi datang, lalu pergi. Tapi struktur kekuasaan—yang menciptakan zombi itu sendiri—tetap berdiri kokoh.

 

Editor: Ridwan Malik

Picture of Lingga Agung

Lingga Agung

Fans berat Biohazard dan Homicide—Behemoth juga. Seorang wibu casual yang percaya bahwa kesenian era renaissance adalah yang paling paripurna. Sambil menunggu zombie apocalypse terjadi, mengisi waktu dengan mengajar di Telkom University, Bandung.