Melawan Ala Bi Ijem

Kover kaset "Ijem Nyiar Gawe". (Dokumentasi: Foggy FF).

Ketika kecil dulu, mendengarkan dongeng bobodoran terasa membebaskan sekaligus reflektif. Sebagai seorang anak perempuan yang dikuasai oleh arus budaya urban, yang kala itu didominasi oleh budaya ‘MTV’, saya memilih mendengarkan radio Mara berisi celoteh Kang Ibing dan Aom Kusman. Bahkan keberpihakan terhadap selera komedi pun, banyak didominasi oleh bobodoran lokal; seperti wayang golek Asep Sunandar Sunarya, Dalang Dede Amung, Kang Ibing, Aom Kusman dan Suryana Fatah, serta yang paling lekat dalam ingatan adalah Bi Ijem dan grup Kang Saban.

Bi Ijem merupakan seorang seniman Topeng Banjet dari Karawang. Lewat narasi tokoh perempuan yang “nyeleneh”, Bi Ijem menawarkan kesegaran sekaligus kisah banal perempuan pinggiran, yang kerap terintimidasi oleh kemiskinan struktural, serta imbas budaya patriarki.

Pertama kali saya mendengar suara Bi Ijem yang ‘cempreng’, kenes dan sedikit jorok itu lewat kaset Si Cepot Katempuhan Buntut Maung. Waktu itu saya dibelikan almarhum Bapak di toko kaset Aquarius, Bandung. Almarhum Bapak mungkin menaruh harapan, saya akan terpantik oleh khasanah budaya yang berbeda dari tren saat itu. Betul saja, Bapak memang seorang visioner.

Menyukai arus budaya yang tak banyak orang gandrungi, kadang terasa sunyi. Bobodoran ala Bi Ijem, sebagai kesenian rakyat dari pinggiran kota, merepresentasikan arus budaya marjinal yang sering terpinggirkan oleh narasi budaya dominan. Dalam kacamata poskolonialisme dan cultural studies, seni ini bukan sekadar hiburan tradisional, melainkan bentuk resistensi simbolik terhadap sebuah hegemoni, suara rakyat kecil yang menertawakan kuasa melalui banyolan dan satire.

Seperti dikatakan Homi Bhabha, ruang hibrid memungkinkan terjadinya negosiasi identitas, dan mungkin saja Bi Ijem berdiri di ruang itu, antara warisan lokal dan desakan kultur modern.

Saya masih ingat waktu itu, ketika mendapatkan privilese membeli rilisan fisik, di sebuah toko kaset yang dianggap “skena” pada zamannya: Toko Aquarius.

Di antara rak-rak yang berderet dengan pilihan yang saat itu terasa mewakili zaman: Phil Collins, Sting, Michael Jackson, Metallica dan deretan album sanggar cerita. Saya menunjuk kaset wayang golek Asep Sunandar Sunarya dan rombongannya. Di dalamnya, ada Cepot dan Bi Ijem. Sebuah produk cakram, berisi banyolan nyeleneh. Bobodoran khas Sunda yang terasa merakyat.

Mungkin pilihan itu, di mata sebagian orang, dianggap ganjil. Karena tak banyak anak perempuan mendengarkan kisah Bi Ijem, dan menganggap kisahnya sebagai sebuah wadah berkontemplasi.

Bi Ijem—nama panggung dari Emas Binti Sapar—memiliki tubuh mungil dan suara yang tak bisa dilupakan. Cempreng, cepat, dan menyolek logika dengan kelakar liar yang terkadang jorok dan banal. Ia tampil di panggung Topeng Banjet bukan untuk menjadi bintang panggung mempesona, tapi untuk menjadi cermin lewat kesederhanaannya yang kerap dirundung celotehan berbau patriarki. Bi Ijem adalah sebuah paradoks berjalan.

Dengan caranya sendiri, ia membuat banyolan menjadi alat perlawanan: melawan kuasa, melawan rasa malu, melawan tata krama yang kerap membungkam rakyat perempuan.

Sebagai anak perempuan yang tumbuh di Bandung 90-an—di tengah derasnya arus sinetron remaja dan budaya pop urban—kegemaran saya pada Cepot dan Bi Ijem, membentuk pola berpikir satire. Dengan memandang derita dan satire sebagai sebuah titik tolak, gagasan itu digunakan untuk melawan arus utama dengan hasrat berkesenian. Saya menemukan ruang kebebasan berekspresi yang tak tersedia di layar: ruang ketika perempuan bisa melucu, bisa lantang, bisa bicara tanpa harus tampil cantik—sesuai kesepakatan kolektif.

Dalam filsafat komunikasi, suara adalah bentuk kehadiran. Paul Ricoeur menyebutnya jejak eksistensi. Suara bukan sekadar alat penyampai pesan, tapi bukti bahwa seseorang pernah hadir, pernah bersuara, pernah berada dan dimaknai. Maka ketika Bi Ijem naik ke atas panggung hiburan, dengan segala kelakarnya yang kasar, ia sedang merayakan eksistensinya.

Teori feminisme dari negara berkembang—dari Chandra Talpade Mohanty hingga Silvia Federici—telah lama menekankan pentingnya ruang-ruang kultural lokal sebagai tempat perempuan berbicara dalam bahasa mereka sendiri. Bukan lewat mimbar kampus, tapi lewat pentas, logat, dan tawa rakyat. Bi Ijem adalah contoh hidup seperti itu: seorang perempuan dari wilayah urban pinggiran, pelawak, dengan suara cempreng dan tubuh mungil, yang menjadi pusat narasi—yang hadir bukan sekadar pelengkap.

Kini, setelah beliau wafat di rumahnya di Kampung Gokgik, Karawang, setelah lama mengidap tumor, saya sadar betapa langka suara ‘membebaskan’ seperti itu. Dalam dunia hiburan yang semakin rapi, dikurasi oleh algoritma dan estetika, tawa Bi Ijem terasa seperti letupan jujur kesederhanaan. Berakar, berfilosofi, liar, kasar, jorok dan punya makna melawan.

Mudah-mudahan Topeng Banjet hari ini, mulai bangkit kembali. Kita bisa berharap banyak pada geliat sanggar-sanggar seperti Daya Asmara, Lingkung Seni Pusaka Wangi dari Telukjambe, yang berusaha menghidupkan kembali panggung rakyat dengan kolaborasi baru.

Meski di balik itu semua, suara Bi Ijem tetap tak tergantikan. Ia bukan sekadar pelawak; ia adalah arsip budaya perlawanan dari dunia yang serbasederhana.

Dengan demikian, memilih mendengarkan lawakan lugu sekaligus lugas, yang kasar dan bebas nilai, membuat makna kesetaraan terasa lebih nyata. Berderet di antara rak produk budaya Barat, kaset Cepot dan Bi Ijem menjadi pilihan yang jauh lebih punya warna dan makna.

Setelah dewasa saya akhirnya paham, bahwa memilih produk seni yang berbeda dari yang diminta zaman—adalah sebuah bentuk pembebasan. Seperti yang pernah ditulis Audre Lorde:

“When I dare to be powerful, to use my strength in the service of my vision, then it becomes less and less important whether I am afraid.”

Dulu ketika mendengarkan kisah lucu ini, tidak punya pretensi apa-apa, tapi hari ini saya tahu: saya sedang melatih keberanian. Dan suara Bi Ijem—cempreng, kecil, mungil, kasar—adalah kekuatan yang tak pernah bisa dipadamkan, bahkan oleh waktu.

Selamat jalan Bi Ijem, maestro Topeng Banjet dari Karawang. Punchline-mu yang cerdas dan satire, masih terdengar di dinding-dinding panggung lawak, yang kini rasanya terlampau seragam.

 

Editor: Hafidz Azhar

Picture of Foggy FF

Foggy FF

Seorang ibu-ibu penulis fiksi. Rajin menulis esai feminisme dan kesehatan mental di beberapa platform media digital. Kadang pendiam, tapi seringkali mempertanyakan banyak hal yang orang lain anggap ribet.