Melayat ke Sukawening dan Cipari

Sketsa Masjid Al-Syuro Pondok Pesantren Cipari, Pangatikan, Kabupaten Garut, karya Hawe Setiawan.

Ada dua stiker, dan dua-duanya berwarna gading, pada kaca depan rumah keluarga Pak Ucu Syamsudin (86), di Sukawening, Wanaraja, Garut. Yang satu stiker Masjid Al-Fikr, Daarut Tauhid, sedangkan yang lain stiker radio KL-CBS 100,5 FM. Kedua benda kecil itu kiranya merupakan jejak perjalanan Ade Bunyamin, anak kedua Pak Ucu, yang wafat baru seminggu. Almarhum Ustadz Ade pernah belajar di Daarut Tauhid, kemudian pernah ikut mengisi program dakwah dalam radio jazz KL-CBS.

Saya duduk di atas sebuah bangku kayu yang permukaannya tidak disugu, di teras rumah lainnya, di samping lawang dapur, tepat di seberang kaca berstiker itu. Sengaja saya mengucilkan diri di situ, agak menjauh dari sesama pelayat, karena kebiasaan buruk saya merokok sehabis makan. Pak Ucu, yang sudah berganti busana dengan kemeja batik krem, kain sarung biru, dan peci hitam, menghampiri saya. Pendengarannya sudah melemah sehingga saya harus mendekatkan mulut saya ke telinganya seperti menyampaikan rahasia.

Saya memanfaatkan kesempatan itu buat menggali ingatan setempat, terutama dari zaman Darul Islam. Pak Ucu bercerita soal Syarikat Islam-nya Pak Cokroaminoto, gerakan Pak Kartosuwiryo, kegiatan “pagar betis”, juga horor tembak-menambak dan perpecahan. Namun, obrolannya terutama ditekankan pada pentingnya “pendidikan Islam”. Sambil menunjuk salah seorang cucunya yang sedang bolak-balik menunggang sepeda motor mainan dari plastik, ia berharap keturunannya kelak bisa menempuh pendidikan agama seperti yang pernah dilakoni oleh almarhum Ustadz Ade.

Lingkungan keluarga yang sedang berkabung itu terletak hanya beberapa puluh langkah dari Pesantren Al-Burhan yang pada salah satu dinding bangunannya terpampang lambang Nahdlatul Ulama. Di sekitar rumah-rumah sederhana di situ terdapat beberapa kolam, dan beberapa petak kebun yang juga berfungsi sebagai lahan kuburan. Bukit-bukit di latar belakang daerah persawahan itu memiliki nama yang hampir-hampir sulit diucapkan: Karaha, Éwéranda, dan sejenisnya. Seekor murai berbulu hitam dalam sangkar yang tergantung di beranda rumah yang sedang kami kunjungi tiada hentinya menyanyi.

Almarhum Ustadz Ade bukan nama asing di tempat tinggal kami di Negla, Isola, Bandung. Ia tinggal dan berkiprah di sekitar masjid dan madrasah Miftahul Iman, dan biasa menyampaikan khutbah Jum’at dan mengisi majelis taklim di Masjid Al-Ikhlas tempat saya ikut duduk dalam DKM. Ayah tiga anak ini orangnya mungil, dan biasa tampil di ruang publik dengan mengenakan sarung, blazer, dan peci serta masker. Kalau ia mengaji atau melantunkan salawat, suaranya merdu. Jika ia berpidato atau jadi MC, suaranya lantang, dan tema khutbahnya sering dikaitkan dengan masalah aktual, semisal krisis ekologi atau dampak buruk media sosial. Istrinya, warga Negla, wafat sekian tahun lalu, dan sejak itu ia tidak pernah menikah lagi. Belakangan, sebagai guru agama, ia mengikuti program pemerintahan Prabowo dalam penyetaraan strata pendidikan di UPI.

Seingat saya, kali penghabisan saya bertemu dengan Ustadz Ade adalah sewaktu kami mengadakan safari ziarah ke makam Eyang Réndé di Bandung Barat, Mama Sempur di Purwakarta, dan Syekh Quro di Karawang, Oktober tahun lalu. Waktu itu, sebelum salat duha di masjid kecil di samping makam Eyang Réndé, ia bercerita tentang programnya di UPI dan saya menanyakan kemajuan anaknya, siswa SMK, yang gemar menggambar dan berminat belajar DKV. Sejak itu, saya dengar ia sakit, sempat dirawat di rumah sakit, kemudian diboyong ke Sukawening. Waktu pengurus DKM Al-Ikhlas menjenguknya ke kota itu, saya berhalangan, dan baru bisa pergi ke sana sepeninggal almarhum. Ia wafat pada Senin, 26 Januari lalu, di rumah orang tuanya, tepat ketika azan Ashar berkumandang.

Minggu, 1 Februari lalu, seharusnya saya tidak pergi ke luar kota, sebab saya harus ikut mengisi acara sawala dalam rangkaian kegiatan “Ngalap Ajip” di Perpustakaan Ajip Rosidi yang digagas oleh Hafidz Azhar dan teman-teman muda lainnya. Namun, saya baru ingat bahwa sebelumnya saya sudah berjanji kepada rekan-rekan Al-Ikhlas untuk ikut menyediakan kendaraan buat berkunjung ke rumah duka di Sukawening. Pergilah kami bersepuluh, di antaranya ada dua ibu, dengan dua unit mobil dari Bandung ke Garut melewati Limbangan, Cibatu, terus ke arah Wanaraja hingga tiba di Sukawening. Saya baru sempat minta ampun kepada Mang Hafidz ketika kami, sepulang dari rumah Pak Ucu, singgah sebentar di Pesantren Cipari yang bangunan masjidnya klasik dan cantik.

“Bapak sedang menggambar masjid?” tanya seorang siswi madrasah yang mengenakan seragam pramuka. Ia dan teman-temannya rupanya tertarik melihat ada orang tua berdiri lama-lama sambil menggambar di terik siang.

“Iya, Néng. Mau ikutan? Hayu! Sama-sama menggambar!” jawab saya sambil terus menatap arsitektur yang tergolong cagar budaya itu.

“Semangat, Pak!” tukas anak itu sambil melangkah menjauh bersama teman-temannya.

Di lingkungan pesantren Minggu bukan hari libur, melainkan hari belajar. Sekolah libur hari Jumat. Itu sebabnya, di hari Minggu, saya bisa ikut mendirikan zuhur bersama generasi baru, para santri yang belajar di Cipari. Alhamdulillah.***

 

Editor: Hafidz Azhar

Picture of Hawe Setiawan

Hawe Setiawan

Sehari-hari mengajar di Unpas, menggambar dan mempunyai prinsip "slow living" alias "hirup salse".