Dalam bidang sastra Gabriel Garcia Marquez tentu saja bukan novelis kaleng-kaleng. Novel One Hundred Years of Solitude, misalnya, menjadi salah satu karya istimewa Marquez. Saya ingin berbagi cerita dari bukunya yang lain, judulnya, Chronicle of a Death Foretold. Dari judulnya saja, bernuansa kelam. Tebal buku ini sekitar 122 halaman dan sudah diterjemahkan oleh Penerbit Gramedia bulan Juni 2024 menjadi Kronik Sebuah Kematian.
Membaca buku, tidak seperti makan buah apel. Warnanya akan berubah jadi coklat kalau tidak segera kita habiskan. Buku, saya kira, bentuknya akan baik -baik saja ketika sampul plastiknya sudah kita buka: tidak akan membusuk, walaupun kita baca berkali-kali dan dalam waktu yang lama. Maksudnya, buku bisa kita baca dengan santai, dibaca berulang-ulang, bahkan dapat kita renungkan dengan berbagai perspektif bermacam pesan. Pun dalam membaca Chronicle of a Death Foretold, proses itu saya lakukan demikian.
Dalam sudut cerita novel ini mengisahkan ihwal kejadian pembunuhan di sebuah kota kecil dengan peristiwa yang tidak biasa. Alkisah, kejadian menggemparkan di suatu kota, karena salah seorang warganya, Santiago Nasar, terbunuh dan dibunuh oleh duo kembar Pablo Vicario dan Pedro Vicario. Alasan si kembar membunuh adalah kehormatan keluarga yang harus mereka bela, yaitu kehormatan adik perempuannya, Angela Vicario, dengan dasar perlakuan yang dilakukan oleh Santiago Nasar.
Santiago diduga oleh si kembar melakukan rudapaksa terhadap Angela Vicario yang baru saja menikah dengan Bayardo San Roman. Darah si kembar mendidih karena melihat salah satu anggota kesayangannya pulang ke rumah dalam kondisi babak belur. Ia bertekad membalas dengan nyawa. Sampai titik ini gambaran cerita terlihat biasa-biasa. Tapi, setelah dibaca dengan teliti peristiwa dalam novel tersebut, kita dapat menemukan karakter-karakter unik dan aneh.
Para penghuni kota sebetulnya sudah tahu tentang apa yang akan dilakukan oleh duo Vicario. Duo Vicario ini datang ke tukang asah pisau untuk mengasah pisau karatan. Pisau itu kemudian digunakan untuk menghabisi Santiago. Hal yang sama mereka lakukan di bar murahan langganan penduduk kota. Mereka berbicara tak keruan di dalam bar, bahwa mereka akan menghabisi Santiago Nasar. Dari sini muncullah berita burung yang cepat tersebar ke seantero kota.
Singkat cerita, seluruh kota mengetahui betul apa yang akan menimpa Santiago Nasar oleh Si Kembar Vicario. Sebetulnya Si Kembar ini setengah hati untuk menghabisi Santiago, namun harga diri mereka menguasai niat untuk segera membunuh Santiago. Sebagai orang kaya di kota kecil kelakuan Santiago memang agak menyebalkan dan genit terhadap lawan jenis. Di balik nama Nasar dari kepanjangan Santiago adalah nama keluarga yang berasal dari jazirah Arab sekaligus keluarga yang cukup terpandang di kota tersebut.
Santiago memiliki istal kuda dan beberapa pembantu di rumahnya, termasuk salah satu pembantu perempuan korban kegenitan dirinya. Dasar orang kaya, kalau pagi-pagi minum kopi dicampur arak tebu. Itulah yang dilakukan Santiago yang kerap mabuk-mabukan dan gila perempuan. Namun, di balik semua itu Santiago Nasar adalah seorang periang dan ramah.
Lalu, siapa yang jadi pangkal masalah keluarga Vicario sehingga harus menghilangkan nyawa Santiago? Tersebutlah namanya Angela Vicario. Ia menikah dengan salah seorang pemuda kaya. Pesta pernikahan Angela Vicario menjadi pernikahan terbesar di kota tersebut, namun naasnya pernikahan itu hanya berlangsung satu hari karena suaminya Bayardo San Roman mengembalikan Angela Vicario pada keluarganya. Alasannya, Angela sudah tidak perawan lagi. Lalu Angela menuduh bahwa persoalan hilang keperawanan itu adalah tanggung jawab Santiago Nasar. Sampai di sini masalah menjadi rumit. Si Kembar melihat salah satu saudarinya kembali ke rumah di malam setelah pernikahan dalam keadaan babak belur. Mereka kemudian terpanggil untuk membalas dendam dan yang dituduh adalah Santiago Nasar, bukan mantan suami Angela Bayardo, aneh, bukan?
Sebetulnya Angela Vicario adalah wanita pembohong. Sebelum pernikahan berlangsung dia mencari cara bagaimana membuat suaminya percaya bahwa dia adalah istri yang masih perawan. Dengan menggunakan tipu daya dan muslihat, di pagi hari dia menjemur seprai dengan noktah, sebagai bukti bahwa dia tadi malam telah diambil keperawanannya. Akan tetapi tipu daya tersebut tidak berhasil. Hanya berselang beberapa jam dari pernikahannya, dia dikembalikan oleh Bayardo kepada keluarganya dan ketahuan telah berbohong.
Hampir seluruh penduduk kota tahu bahwa Santiago akan dibunuh. Tetapi mereka tidak ada yang peduli atau berpura-pura buta dan tuli dengan rencana Si Kembar. Dengan terang-terangan Si Kembar ngomong ke sana ke mari bahwa mereka akan membunuh Santiago. Berita itu sudah sampai ke telinga walikota dan uskup. Sialnya, tidak ada yang berusaha untuk mencoba menghentikan tindakan si kembar.
SI Kembar akhirnya berhasil membuat perut dan usus Santiago terurai. Tidak lama kemudian mereka ditangkap dan dijebloskan ke dalam penjara melalui proses peradilan yang cukup aneh. Alih-alih penyelidikan mencari kejelasan, kejadian pembunuhan tersebut sampai ke akar masalahnya, dengan laporan kejadian sampai lima ratus halaman lebih. Pangkal masalah dari peristiwa pembunuhan Santiago Nasar mengalami kebuntuan.
Novel Chronicle of a Death Foretold memang memiliki alur yang mengalir, namun tidak mudah juga memahami apa yang disampaikan oleh Marquez. Dengan jumlah halaman yang tidak terlalu tebal, pembaca wajib memahami narasi besar dari isi cerita. Selain itu para pembaca juga mesti memahami penokohan dalam cerita tersebut. Semua tokoh memiliki peran yang sama, mendorong Santiago untuk dibunuh, meskipun keterlibatan tokoh-tokoh tersebut dilakukan secara langsung atau tidak. Karakter dalam cerita diungkap dengan detil dan dikupas perlahan-lahan. Tetapi butuh ketahanan konsentrasi pembaca untuk sampai pada titik, bahwa penduduk kota itu isinya adalah orang-orang hipokrit yang tidak peduli pada sesamanya. Lebih dahsyat lagi, sebenarnya seluruh penduduk di kota itu terlibat dalam pembunuhan Santiago, baik secara langsung maupun tidak.
Refleksi cerita yang disampaikan oleh Marquez, setidaknya berkelindan dalam kehidupan kita sehari-hari. Dengan kata lain, pada kehidupan nyata. Kebohongan, persekongkolan, kemunafikan, adalah hal biasa kita temukan dalam keseharian. Bahkan kalangan agamawan pintar pula memoles atau berdalih dengan ayat-ayat suci mirip yang dilakukan oleh uskup dalam cerita Chronicle of a Death Foretold.
Sebagaimana kini saya tinggal, gambaran penduduk kota yang disampaikan oleh Marquez benar-benar terjadi. Agaknya, saat ini sedikit sulit menemukan empati individu atau kelompok tanpa pamrih. Untuk bergerak saja kalau ada maunya. Hal ini kerap terjadi di masyarakat atau para penguasa.
Kalau sudah jadi penguasa, biasanya menjadi lihai menguasai teknik drama sebagai modal utama tampil di layar kaca. Misalnya, menangis tersedu-sedu supaya terlihat sedih di tempat bencana. Atau memperlihatkan penguasa itu sedang mengais sampah di selokan dan berlaku seperti bapak yang bijaksana. Pokoknya peran apa pun bisa mereka tampilkan, asal untuk kepentingan mempertahankan harta, jabatan atau kekuasaan. Hal ini semacam tripartit relasi keduniawian, arak tebu yang memabukkan.
Editor: Hafidz Azhar



