Membaca Kembali Pantun Baduy

 

Saya jadi menyadari secara kognitif saya dan orang Kanekes berbeda. Apakah ini bisa menjadi alasan bahwa orang-orang yang menulis tentang Baduy itu banyak yang salah kaprah dalam memahami?

 

Paling tidak sejauh yang saya telusuri cerita Lutung Kasarung yang beredar saat ini, yang berupa filem, novel dan sebagainya, merupakan adaptasi dari versi Carita Pantun Lutung Kasarung yang dipublikasikan C.M. Pleyte. Setahu saya hanya ada dua versi carita pantun Lutung Kasarung yang terdokumentasikan, versi Pleyte dari Cirebon dan versi Ki Sajin yang dipublikasikan Ajip Rosidi dari Kanekes, Baduy.

Beberapa waktu lalu saya menemukan teks stensil carita pantun Lutung Kasarung Ki Sajin yang berisi coretan di sana-sini, di perpustakaan Ajip Rosidi yang terletak di jalan Garut nomor dua, Bandung. Disebut “menemukan” karena kayaknya ini keberuntungan, teks stensil ini berada di antara teks stensil Lutung Kasarung yang lain, dan teks stensil carita pantun lainnya. Jadi, perbandingannya satu banding banyak teks-teks itu. Disebut “keberuntungan” karena setelah dikonfirmasi pada Hawe Setiawan, koreksi itu benar-benar ditulis Ajip.

Ajip mendaku, di pengantar carita pantun Buyut Orenyeng, bahwa dalam Lutung Kasarung itu banyak kekeliruannya terutama bagian rajah. Dari Ki Sajin, Ajip berhasil mendokumentasikan dua carita pantun, dipertemuan pertama Ajip berhasil merekam Lutung Kasarung, di pertemuan kedua Ajip berhasil merekam cerita pantun Buyut Orenyeng. Curat-coret ini mungkin dilakukan ketika merekam Buyut Orenyeng.

Kendala Ajip saat itu “karena cara mengucapkan dan karena kata-kata yang dipergunakan oleh Ki Sajin sangat asing bagi telinga orang-orang yang tidak berasal dari Baduy atau Banten” begitu kata Ajip di pengantar Lutung Kasarung. Ajip–mungkin juga ahli bahasa/budayawan Sunda lainnya–tidak sadar bahwa bahasa urang Baduy dan orang Banten yang lain agak berbeda, bahkan dengan kampung yang berbatasan langsung dengan Kanekes. Sedangkan di Baduy sendiri, ada sejenis bahasa liturgis yang berbeda dengan bahasa sehari-hari, dan carita pantun tergolong ‘bahasa liturgis’ ini.

Waktu ngarewong Niduparas tahun lalu di kediaman Ki Pantun Ayah Anirah, saya menyempatkan diri untuk mendiktekan cerita Lutung Kasarung Ki Sajin pada Ki Pantun. Beliau berpesan agar hasil dari koreksiannya ditik dan dicetak ulang. Karena belakangan dapat corat-coret Ajip itu, jadi sekalian lah saya bandingkan koreksi Ajip dengan Ki Sajin dan Koreksi saya dengan Ki Pantun. Di samping membandingkan pula dengan redaksi di teks Buyut Orenyeng, saya juga membandingkan dengan redaksi di carita Paksi Keling yang didokumentasikan Pleyte dari Dascin tahun 1911. Koreksi Ki Pantun dan Ajip kurang lebih sama, tapi kadang-kadang yang terlewat oleh Ajip terlengkapi oleh Ki Pantun, begitu juga sebaliknya. Jadi kedua koreksian, saya dan Ajip saling melengkapi.

Sebenarnya yang paling efektif adalah membandingkan dengan rekaman carita Lutung Kasarung Ki Sajin. Karena kaset hasil rekaman pantun yang dikerjakan Ajip hilang dari Leiden Library, Belanda, jadi mustahil untuk membuat transkrip ulang dari hasil rekaman itu. Satu-satunya peluang adalah mendengarkan artikulasi Ki Sajin dari carita pantun Paksi Keling yang direkam Wim van Zanten. Ini penting, dengan rekaman van Zanten ini kita dapat mengoreksi (atau paling tidak memeriksa kembali) transkrip Lutung Kasarung, juga transkrip Buyut Orenyeng. Menurut saya Buyut Orenyeng pun perlu juga dikoreksi kembali.

Hikmah yang paling penting ketika saya berinteraksi langsung dengan Ki Pantun, saya jadi tahu bahwa banyak kata dari carita pantun yang tidak dimengerti secara definitif oleh Ki Pantun sendiri. Tapi memang, ketika saya menanyakan sesuatu hal pada orang Kanekes, kadang jawaban mereka tidak selalu definitif. Ini yang unik, saya jadi menyadari secara kognitif saya dan orang Kanekes berbeda. Apakah ini bisa menjadi alasan bahwa orang-orang yang menulis tentang Baduy itu banyak yang salah kaprah dalam memahami?

Tapi yang penting, dalam kajian carita pantun kita mesti berinteraksi langsung dengan juru pantun. Banyak hal yang luput jika yang kita hadapi hanya benda mati, cuman teks pantun saja. Supaya pemaknaan kita tidak terlalu mengada-ada. Ini yang tidak pernah atau jarang dilakukan oleh pengkaji carita pantun.**

 

HADY PRASTYA | TUKANG KAYU

image: Sharm Murugiah

Picture of Redaksi

Redaksi