Membaca Kisah dari Disertasi Niti Ganda

Ilustrasi Adam Rizqi Taufik

 

Lagi-lagi, dalam aspek kisah ini kita mendapatkan tamsil kebudayaan: tanaman dan pepohonan pada dasarnya bukan semata-mata objek budi daya, melainkan juga bagian integral dari atmosfer kebatinan.

 

Sekadar komentar dari saya atas terbitnya terjemahan Indonesia dari disertasi mendiang Monsinyur Geise, Badujs en Moslims: Kajian Etnografis Masyarakat Adat di Lebak Parahiang, Banten Selatan (2022), dan juga sudah saya sampaikan dalam salah satu pengantar buku tersebut. Saya tidak merasa perlu mengulanginya di sini. Kiranya lebih baik di sini saya tambahkan apa yang tak sempat saya sampaikan. Adapun tambahan komentar yang saya maksudkan berkenaan dengan kisah-kisah setempat, yang dipetik dan dicatat oleh peneliti dari lapangan.

Saya tertarik oleh kisah, sebab kisahlah yang membuat kita jadi manusia dan hidup kita layak dilakoni. Burung-burung memang pandai menyanyi, tidak kalah dari Euis Komariah, tapi Ceu Euis bisa bercerita kepada Aam Amilia mengenai perjalanan hidupnya sebagai “sang diva”. Dalam risetnya di Banten, sebagaimana lazimnya antropolog, Mgr. Geise kiranya meluangkan waktu tersendiri buat menggali kisah dari masyarakat setempat —- hal yang kiranya tak selalu mudah didapat. Jika riset etnografis di Lebak Parahiang merupakan “awal nyata kepedulian Geise pada insan Jawa Bagian Barat” sebagaimana yang dikatakan oleh Eddy Kristiyanto dalam bungarampai Juragan Visioner (2006), penggalian kisah-kisah Baduy dan Muslim di sana turut mencerminkan kepedulian tersebut.

Memang, disertasi Mgr. Geise bukan disertasi tentang kisah; tidak seperti — katakanlah — disertasi Maria Coster Wijsman tentang tokoh legenda Si Kabayan dari wilayah Banten yang lampirannya berupa koleksi folklore yang sangat kaya. Namun, seperti yang akan kita lihat nanti, kisah-kisah dari Lebak Parahiang jelas menduduki tempat penting dalam riset Mgr. Geise.

***

Dalam buku terjemahan, kisah-kisah dari Lebak Parahiang ditempatkan dalam dua bab tersendiri yakni di hal. 123, pada bagian pertama yang menceritakan komunitas Baduy, dan di halaman 211, pada bagian kedua yang menceritakan komunitas Muslim. Dalam kedua bab tersebut, peneliti memetik kisah-kisah dari lapangan dalam “kutipan langsung”. Dari peneliti sendiri disampaikan sedikit pengantar serta tafsir yang diselaraskan dengan pokok soal yang diteliti.

Kisah-kisah yang dipetik pada bagian pertama terdiri atas:

a. Kisah tentang Budak Buncireung yang mampu menaklukkan gergasi Iwak Gentur. Dalam kisah ini tokoh cerita dilukiskan sebagai orang sakti, yang terbiasa tapa brata sejak kecil. Sebelum mengalahkan musuh yang telah menewaskan ibunya, sang anak memanjatkan doa baik ke jagat atas maupun ke jagat bawah, berdoa kepada kaambuan di atas dan kaambuan di bawah. Pohon kawung sangat penting dalam kisah ini, tidak boleh diusik kalau tidak benar-benar perlu.

b. Kisah tentang Ratu Banten. Sang ratu bepergian ke berbagai tempat, membuka lahan baru, memberi nama tempat, dst.

c. Kisah yang berkaitan dengan Tangtu Tilu, yakni tiga desa dalam. [Dalam tradisi lain, tangtu berarti “tali” atau “buhul”]. Dalam tafsir peneliti antara lain dikatakan bahwa kisah ini turut menggambarkan ikatan antara masyarakat Baduy dan Ratu (Sultan) Banten.

“Demikianlah, maka dapat dikatakan masyarakat Baduy, keturunan dari garis yang lebih tua, betul tidak berkuasa dan memerintah, namun keselamatan dan kelangsungan para penguasa, dari garis atau alur keturunan yang jauh lebih muda, justru ada di tangan mereka. Dari sudut pandang ini pula, kehormatan dan kedudukan lebih tinggi dari garis keturunan yang lebih tua dipastikan dan menjadi niscaya,” papar Monsinyur Geise alias Niti Ganda.

Adapun kisah yang dipetik pada bagian kedua juga berkenaan dengan tokoh Budak Buncireung tapi di sini tokoh tersebut memiliki nama lain, yaitu Sultan Ilir. Dalam catatannya, peneliti menyebutkan bahwa kisah itu didapatkan dari tokoh setempat yang bernama Haji Marpat. Pak Haji semula merahasisakan kisah tersebut, tapi setelah dibujuk begitu rupa akhirnya berkenan menuturkan kisahnya. Dalam kisah ini ada putri raja yang dibuang ke hutan. Ada pula gambaran mengenai cara menyelesaikan dilema: melaksanakan perintah raja sekaligus menyelematkan sang putri. Dalam kisah ini ada bagian yang menceritakan kelahiran Budak Bincireung. Ia lahir dari rahim putri raja yang pernah berenang bersama ikan-ikan. Budak Buncireung merawat seekor ayam jago, lalu pergi ke pusat kota buat mengadakan sabung ayam melawan ayam jago milik raja. Klimaks cerita ini terjadi ketika Budak Buncireung akhirnya mendapatkan haceurca; tempat penyimpanan pustaka, dari tangan sang raja.

“Dongeng ini berada di tataran mitos. Dalam suasana ini, masyarakat Baduy dan Muslim bersinggungan kembali dalam konteks generasi tua, leluhur yang sakral, berkedudukan lebih tinggi berhadapan dengan generasi muda, di mana generasi tua berkuasa dan memerintah. Relasi antara kedua kelompok masyarakat ini tidak dapat digambarkan sebagai bermusuhan. Keduanya saling melengkapi dan merupakan satu kesatuan. Hal inilah yang tampak dipraktikkan dalam relasi masyarakat Baduy dan Muslim di Banten Selatan,” demikian tafsir peneliti.

***

Dalam pandangan Mgr. Geise, kisah-kisah tadi cenderung ditafsirkan sebagai tamsil menyangkut asal-usul masyarakat setempat dan pemilahan wilayah tempat mereka hidup dari waktu ke waktu, tidak terkecuali pemilahan antara wilayah adat dan wilayah gupernemen atau pemerintah. Sudah barang tentu, penafsiran demikian selaras dengan pokok permasalahan yang dijadikan pusat perhatian dalam penelitian tersebut.

Dalam pandangan saya sendiri, kisah-kisah tentang Budak Buncireung merupakan tamsil mengenai kebudayaan itu sendiri. Apa yang saya maksudkan dengan kebudayaan di sini, pertama-tama, tidak dapat dilepaskan dari hubungan manusia dengan alam yang pada gilirannya menimbulkan kesanggupan manusia mengolah alam, melangsungkan kegiatan budi daya seperti mengolah lahan dan bercocok tanam. Kegiatan demikian lantas dikasih makna melalui beragam kreativitas yang ditujukan kepada peningkatan kualitas kemanusian semisal melalui penyelenggaraan berbagai upacara, pengolahan dan pengemasan beragam penganan, penyusunan berbagai cerita, dsb.

Motif cerita pertarungan antara Budak Buncireung dan Iwak Gentur, yang dikenal di wilayah pertanian padi lahan kering, barangkali dapat dibandingkan dengan motif cerita sejenis tentang jerih payah Sulanjana menghalau bencana alam bagi tanaman padi berupa hama, angin, dan api, yang dikenal di wilayah pertanian lahan basah. Dalam kisah Sulanjana, ada adegan pertarungan antaran sang pahlawan, Jaka Sulanjana, dan lembu perkasa, yakni Sapi Gumarang. Dalam kisah-kisah seperti itu, kaum tani merawat tatanan pertanian dan menyiasati ancaman terhadap tatanan kebudayaan dengan senantiasa menjalin relasi dengan kekuatan adikodrati. Dalam kisah Budak Buncireung, kita menyimak cara sang anak sakti itu memohon restu kepada kaambuan di langit dan kaambuan di bumi. Istilah kaambuan dalam hal ini sangat penting. Kita tahu, dalam bahasa Sunda ambu berarti “ibu”.

Dalam kisah Budak Buncireung kita juga menemukan gambaran mengenai pemuliaan tanaman, misalnya pohon kawung yang dikatakan tidak untuk diusik sembarangan. Dalam kesusastraan Sunda modern ada pula cerita yang sangat mengharukan dari mendiang Wahyu Wibisana, yakni cerita pendek “Kawung Ratu”, yang melukiskan hubungan batin antara sang petani dan sebatang pohon yang menjadi tambatan hidupnya sehari-hari. Lagi-lagi, dalam aspek kisah ini kita mendapatkan tamsil kebudayaan: tanaman dan pepohonan pada dasarnya bukan semata-mata objek budi daya, melainkan juga bagian integral dari atmosfer kebatinan.***

 
HAWE SETIAWAN | KOLUMNIS & DOSEN DKV FISS UNPAS
Ilustrasi: Adam Rizki Taufiq
Picture of Redaksi

Redaksi