Membaca Novel “Ajengan Anjing”, Mengingat Si Polih

Novel "Ajengan Anjing" karya Ridwan Malik. (Foto: Foggy FF)

Ada hal-hal yang sering tak kita gubris, karena mengganggu ruang nyaman. Apalagi kalau itu menyangkut ketakutan, tak dianggap Muslim yang taat. Alih-alih sepakat, kita seringnya malah takut itu mengganggu moralitas simbolik yang telah disepakati di masyarakat. Miara anjing, misalnya.

Dalam novel Ajengan Anjing, Ridwan Malik memilih narator yang tak lazim, seekor ajag bernama Harak, yang hidup berdampingan dengan santri di lingkungan pesantren Bahrul Ulum, Garut. Saya yakin, ini tak semata eksperimen point of view asal-asalan dari si penulis. Ridwan seperti sengaja menempatkan pembaca menggunakan jarak, dari keyakinan yang sudah dianggap mapan, jarak dari sesuatu yang eminen yang sering kita sebut sebagai iman.

Anjing, ajag, kirik atau “siapa”pun dia dalam banyak tafsir fikih, adalah najis. Tetapi najis, katanya punya kategori. Dan kategori seperti inilah yang menurut saya sengaja dibikin dan disepakati berdasarkan kebutuhan manusia, agar hukum berjalan dalam kosmos.

Harak tentunya, jauh dari sesuatu yang kosmos dan sesuai tatanan hidup masyarakat santri. Harak si anjing, dalam solilokui-nya, tak paham kenapa tubuhnya jadi alasan buat orang mencuci tangan berulang-ulang. Dari keluguan cara pandang inilah, ironi dalam novel bekerja dan memikat hati pembaca.

Jujur, saya baca novel ini sambil inget seekor anjing di masa lalu, si Polih namanya. Sama-sama keling, cuma sayangnya si Polih adalah anjing buta, korban keisengan pemuda mabok warga kampung kami. Masjid yang berdempetan dengan rumah saya, tentu bereaksi ketika almarhum Bapak malah mengadopsinya dengan penuh kasih sayang.

Juga lewat novel Ridwan ini, saya jadi bisa menakar soal iman dan ikhlas yang begitu saru. Almarhum Bapak tak pernah membuang Polih, ia memilih menerima cibiran. Mungkin itu juga yang membikin keluarga kami dianggap Muslim tak taat—padahal putrinya sempat jadi finalis musabaqoh.

Kembali ke si Harak, cermin ini terasa satirnya. Dari cara pandang si anjing, para santri dan ajengan tampak sebagai manusia dengan segala ironi dan kemunafikannya. Novel fiksi Ajengan Anjing yang unik, masuk dalam 10 nominasi penghargaan Kusala Sastra 2025. Ini cukup pantas, untuk beragam penghargaan yang diberikan untuknya, karena tema dan teknik penulisannya begitu jujur, juga punya nilai perenungan buat yang baca. Dari kalimat-kalimat yang dirangkainya, Ridwan memberikan perspektif cara pandang hewan yang lugu, tetapi tajam dalam melihat perilaku manusia.

Novel yang cukup berani mengkritik kemunafikan manusia di lingkungan pesantren ini menggambarkan problematika yang kerap kita temui, baik pada masyarakat di kampung atau warga urban.

Sesuatu yang menyoal pemaknaan agama, tentu akan menjadi tafsir kritis yang kini sedang masyarakat gandrungi. Teknik bercerita Ridwan cukup ciamik dalam menetaskan kegelisahannya, lewat sudut pandang hewan terstigma najis. Kisah makin ciamik, ketika Ridwan tak lupa menyoroti sikap welas asih yang disampaikannya dengan tak terlampau giung.
Konon, dalam proses menulisnya, Ridwan terinspirasi pada kejadian 2021 tentang seorang wanita bercadar yang memelihara anjing dan diracun. Latar dan nuansa Garut Selatan serta mitos Sancang, menjadi salah satu formula yang membuat unsur lokalitas novel ini begitu terasa.

Secara keseluruhan, Ajengan Anjing adalah karya sastra kontemporer Indonesia yang menawan. Bahkan novel ini tak cuma membicarakan bagaimana tradisi salawat Mama Aleh, yang tak lagi ditemukan pada lingkungan pesantren yang makin rigid. Ajengan Anjing menawarkan perenungan mendalam tentang iman, kemanusiaan, dan toleransi dari sudut pandang seekor ajag yang kita anggap kotor.

 

Editor: Hafidz Azhar

Picture of Foggy FF

Foggy FF

Seorang ibu-ibu penulis fiksi. Rajin menulis esai feminisme dan kesehatan mental di beberapa platform media digital. Kadang pendiam, tapi seringkali mempertanyakan banyak hal yang orang lain anggap ribet.